kingsheadwye.com

IHSG Masih Sideways, Ditutup Stagnan di Level 6.234

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir stagnan pada perdagangan hari ini, Senin (3/8/2026), seiring pelaku pasar mencermati sederet sentimen domestik dan global yang akan mewarnai perdagangan sepanjang pekan ini.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada pukul 16.00 WIB IHSG berada di level 6.234,49, turun 1,63 poin atau 0,03% dari penutupan perdagangan pekan lalu di posisi 6.236,13.

Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 14,38 triliun dengan volume perdagangan 38,77 miliar saham dalam 2,33 juta kali transaksi. Sebanyak 292 saham menguat, 348 saham melemah, sementara 150 saham bergerak stagnan.

Secara spesifik, emiten pemberat kinerja IHSG hari ini termasuk BREN, DCII, BBCA, BUVA dan MLPT.

IHSG hari ini masih bergerak dengan volatilitas tinggi setelah pekan lalu ditutup menguat 0,64% ke level 6.236,13. Pelaku pasar akan mencermati sejumlah sentimen global dan domestik yang berpotensi menentukan arah pasar pada awal Agustus.

Dari eksternal, bursa saham Asia-Pasifik kompak dibuka di zona merah. Indeks Nikkei 225 Jepang melemah 1,43%, Topix turun 1,45%, sementara Kospi Korea Selatan anjlok hingga 4,57%.

Di Australia, indeks S&P/ASX 200 juga terkoreksi 0,36%. Pelemahan tersebut terjadi meski Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan membatalkan rencana serangan terhadap Iran dan membuka peluang deeskalasi konflik di Timur Tengah. Investor masih memilih bersikap hati-hati sambil menunggu perkembangan negosiasi serta kondisi geopolitik di kawasan.

Dari dalam negeri, investor akan mencermati sederet data penting mulai dari inflasi Juli, PMI manufaktur, neraca perdagangan, hingga konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Pada pekan ini, perhatian pasar juga akan tertuju pada rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026, data manufaktur dan perdagangan China, serta data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed.

Dari sisi aliran dana, investor asing tercatat membukukan aksi jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp363,53 miliar di seluruh pasar (all market) sepanjang sesi I hari ini.

Secara keseluruhan, nilai transaksi asing pada sesi I mencapai Rp3,72 triliun, dengan rincian foreign buy sebesar Rp1,68 triliun dan foreign sell Rp2,04 triliun.

Aksi jual asing terbesar terjadi pada saham perbankan pelat merah, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dengan nilai mencapai Rp72,81 miliar. Di posisi berikutnya terdapat PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang dilepas asing senilai Rp68,94 miliar, disusul PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) sebesar Rp57,56 miliar.

Selain itu, investor asing juga melakukan aksi jual pada PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) sebesar Rp38,48 miliar, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) Rp38,31 miliar, PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) Rp29,06 miliar, serta PT Astra International Tbk. (ASII) Rp25,42 miliar.

Tekanan jual juga terlihat pada PT Intermedia Capital Tbk. (MDIA) sebesar Rp23,84 miliar, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) Rp19,14 miliar, dan PT Indika Energy Tbk. (INDY) Rp15,07 miliar.

Di sisi lain, sejumlah saham masih menjadi incaran investor global. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) menjadi saham yang paling banyak dikoleksi asing dengan nilai pembelian bersih mencapai Rp73,49 miliar, disusul PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) senilai Rp44,15 miliar.

Selanjutnya, asing juga memborong PT DMS Propertindo Tbk. (KOTA) sebesar Rp22,77 miliar, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) Rp20,43 miliar, PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) Rp19,12 miliar, serta PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) Rp15,11 miliar.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]