kingsheadwye.com

IHSG Parkir di Zona Merah, Tertekan Kinerja Saham-Saham Ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa (15/9/2026), ditutup melemah lebih dari 1% setelah bergerak volatil sepanjang sesi perdagangan.

Berdasarkan data perdagangan BEI, IHSG ditutup di level 6.461,15, merosot 73,54 poin atau 1,13%. Indeks dibuka pada level 6.544,77, atau berada di atas posisi penutupan sebelumnya. Tak lama setelah perdagangan dimulai, IHSG sempat menguat dan mencatat level tertinggi harian di 6.549,60.

Namun, penguatan tersebut tidak mampu dipertahankan. IHSG kemudian berbalik arah dan mengalami tekanan jual yang cukup kuat hingga sempat menyentuh level terendah harian 6.461,01.

Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, jumlah saham yang mengalami penguatan dan pelemahan relatif berimbang. Sebanyak 330 saham tercatat naik, sementara 332 saham turun dan 301 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.

Sementara itu, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia pada perdagangan hari ini tercatat sekitar Rp11.261 triliun.

Dari sisi transaksi, total volume transaksi mencapai 25,60 miliar saham, dengan nilai transaksi mencapai Rp12,67 triliun. Sementara itu, frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1,756 juta kali.

Mengutip data stockbit, pada pasar reguler, transaksi mencapai 241,97 juta lot dengan nilai sebesar Rp10,65 triliun. Sementara frekuensi transaksi di pasar reguler tercatat sekitar 1,75 juta kali.

Mengutip data Refinitiv, faktor pemberat IHSG berasal dari sektor energi yang melemah 2,44%, disusul sektir keuangan -1,56%, dan konsumer kritikal -1,16%.

Adapun yang menjadi saham-saham beban IHSG hari ini antara lain, PT. Satria Antaran Prima Tbk. (SAPX), PT. Summarecon Agung Tbk. (SMRA),PT. Rig Tenders Indonesia Tbk. (RIGS), PT. Leyand International Tbk. (LAPD), dan PT. Cipta Selera Murni Tbk. (CSMI).

Sementara penopang koreksi IHSG antara lain, PT. Danasupra Erapacific Tbk. (DEFI), PT. Communication Cable Systems Indonesia Tbk. (CCSI), PT. Voksel Electric Tbk. (VOKS), PT. Alakasa Industrindo Tbk. (ALKA), dan PT. Transkon Jaya Tbk. (TRJA).

Adapun pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini dibayangi sejumlah sentimen dari dalam dan luar negeri.

Dari domestik, perhatian investor tertuju pada pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara. Sementara dari global, ketegangan perang di Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), serta rilis data ekonomi China menjadi faktor yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar.

Dari dalam negeri, pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan fiskal di bawah kepemimpinan Suahasil. Usai dilantik pada Senin (14/9/2026), Suahasil menegaskan komitmennya menjaga kesehatan dan kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), termasuk memastikan defisit tetap di bawah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Kepastian arah kebijakan fiskal menjadi penting bagi investor di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan ketidakpastian global.

Dari eksternal, eskalasi konflik Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan terhadap Arab Saudi pada Senin (14/9/2026), setelah jalur pipa minyak East-West Saudi terganggu akibat serangan sebelumnya. Di sisi lain, Selat Hormuz masih ditutup dan upaya diplomasi untuk membukanya kembali menghadapi hambatan.

Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah dunia menguat. Pada perdagangan Senin, kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 1,24% menjadi US$102,65 per barel, sedangkan Brent menguat 1,18% ke US$106,93 per barel.

Kenaikan harga minyak berpotensi menambah tekanan inflasi dan meningkatkan biaya energi, sehingga menjadi perhatian bagi pasar saham, khususnya di negara-negara pengimpor minyak.

Tekanan eksternal juga datang dari prospek kebijakan moneter Amerika Serikat. Bank Indonesia (BI) mengingatkan bahwa era suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer menjadi tantangan bagi negara berkembang. Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS berpotensi mendorong aliran modal menuju aset negara maju, sehingga menekan rupiah dan pasar keuangan domestik.

Investor juga akan mencermati rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung pada 15-16 September waktu AS. Pasar memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, dengan peluang kenaikan menuju kisaran 3,75%-4,00% mencapai 92,4% berdasarkan CME FedWatch.

(rob/rob) [Gambas:Video CNBC]