kingsheadwye.com

IHSG Rawan Terkoreksi, Saham TPIA, EMAS, AMRT, dan ISAT Jadi Rekomendasi Analis - Bursa Katadata.co.id

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG rawan terkoreksi pada perdagangan saham hari ini, Rabu (23/9).  Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan IHSG melanjutkan koreksinya sebesar 1,69% ke 6,277 pada Selasa (22/9) dan masih didominasi oleh tekanan jual yang cenderung meningkat, koreksinya menembus area MA60. 

Secara teknikal Herditya memperkirakan posisi IHSG saat ini sedang berada pada bagian dari wave a dari wave (x). Dengan begitu IHSG akan menguji dahulu rentang area 6,208-6,258.

“Area penguatan terdekat IHSG berada di 6.333–6.364,” tulis Herditya dalam risetnya, Selasa (22/9). 

MNC Sekuritas menargetkan area support IHSG berada di kisaran 6.267–6.108, sementara level resistance diperkirakan berada pada rentang 6.440–6.535.

Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.  

Sedangkan resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.

MNC Sekuritas merekomendasikan trading buy untuk saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) di rentang Rp 1.290–Rp 1.305 dengan target harga di Rp 1.350–Rp 1.375, sementara level stoploss di bawah Rp 1.280.

Kemudian PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) direkomendasikan buy on weakness pada area Rp 1.790–Rp 1.810 dengan target harga di Rp 1.890–Rp 1.955, dan stoploss di bawah Rp 1.765.

Sentimen IHSG

Phintraco Sekuritas juga menyoroti lesuya IHSG seiring tertekannya rupiah terhadap dolar AS yang kian menjadi sentimen negatif bagi pasar.

Secara teknikal, IHSG telah ditutup di bawah MA100 dan MA60. Phintraco memperkirakan IHSG berpotensi menguji level 6.186–6.200 pada perdagangan Rabu (23/9).

Investor juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada hari ini. BI diperkirakan masih mempertahankan BI Rate di level 5,75%.

Sebelumnya, The Fed memangkas suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 4%. Alhasil selisih BI Rate dan Fed Funds Rate (FFR) menyempit menjadi 1,75% dari sebelumnya 2%. Meski menyempit, spread tersebut masih lebih lebar dibandingkan rata-rata tiga tahun terakhir yang berada di kisaran 0,75%–1,25%.

“Melebarnya spread di tahun berjalan ini bertujuan memberikan interest rate differential yang cukup menarik bagi investor asing untuj memperkuat stabilitas mata uang Rupiah.” tulis Phintraco dalam analisisnya, Rabu (23/9). 

Phintraco menilai Bank Indonesia diperkirakan baru akan kembali menaikkan BI Rate jika rupiah terus melemah atau The Fed melanjutkan tren kenaikan suku bunga. Di sisi lain, BI juga diperkirakan tetap berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi sehingga tidak akan menaikkan suku bunga secara agresif. Kecuali rupiah melemah cepat atau inflasi berada di atas target BI.

Namun, koreksi harga minyak diperkirakan kembali meredakan tekanan inflasi. “Investor juga menantikan data pertumbuhan kredit yang diperkirakan meningkat menjadi 15% YoY pada Agustus (23/9),” tulis Phintraco. 

Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham PT Indosat Tbk (ISAT), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), PT Asri Karya Lestari Tbk (ASLI), dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).