Ilmuwan Kembangkan Alat Ini untuk Deteksi Pembakaran Lemak
Liputan6.com, Jakarta - Timbangan pintar dan smart watch umumnya mengandalkan impedansi bioelektrik untuk mengukur persentase lemak tubuh, keduanya merupakan cara cepat memperkirakan massa tubuh meski tidak selalu akurat.
Namun, mengukur kapan tubuh sedang membakar lemak dengan akurat adalah persoalan lain, sehingga mengembangkan perangkat ukur pembakaran lemak ini menarik perhatian penelitian baru.
New Scientist, para peneliti yang dipimpin oleh Andreas Güntner pada sebuah studi di jurnal ilmiah Device, menyoroti penciptaan alat tes napas (breathalyzer) genggam dan diuji kepada 12 partisipan. Alat tersebut dapat mendeteksi ketika tubuh membakar lemak dengan mengukur kadar aseton di embusan napas.
Melalui pemantauan partisipan bersama berbagai skenario diet dan olahraga, hasil dari alat tersebut sangat mirip dengan hasil pemeriksaan laboratorium konvensional. Demikian sebagaimana dikutip dari Engadget, Senin (27/7/2026).
Para ilmuwan mengidentifikasi ketosis, yaitu kondisi saat tubuh membakar lemak dan menjadikannya sebagai sumber energi. Mereka akan mengukur kadar keton dalam darah atau aseton dalam embusan napas yang keduanya adalah produk sampingan dari proses pengubahan lemak menjadi bahan bakar.
Sebagaimana dicatat oleh New Scientist, tes aseton biasanya akurat jika dilakukan di laboratorium, di mana kelembapan dan cara bernapas dapat dikontrol. Alat tes napas (breathalyzer) menjadi solusi dari keterbatasan itu, yang mampu menyaring kelembapan berlebih dan kontaminan.
Selain itu, juga menggunakan aplikasi untuk memandu pengguna melalui proses bernapas. Aplikasi ini tidak hanya mampu mendeteksi ketika pengguna meniup terlalu kencang atau terlalu pelan, tetapi juga membantu aplikasi menyesuaikan waktu pengambilan sampel guna memastikan hasilnya mirip dengan hasil tes darah.
Nutrion, kini menjadi nama komersial perangkat digunakan oleh peneliti, serupa dengan konsep milik perangkat lama, Lumen. Aplikasi itu digunakan untuk mendeteksi pembakaran lemak dengan karbon dioksida dan bukan aseton.
Bagaimanapun juga, pengukuran metabolik dapat bermanfaat dalam berbagai konteks kesehatan, dari menentukan apakah terapi GLP-1 efektif, hingga membantu atlet mengatur metabolisme tubuh mereka.