kingsheadwye.com

Jogja Sonic Index: Upaya Mengarsipkan Musik Elektronik dan Eksperimental di Yogyakarta - Pophariini

Jagat musik eksperimental dan elektronik di Yogyakarta memang selalu menarik untuk diperbincangkan. Di sana kita akan mengetahui bahwa eksplorasi dalam dunia musik terus tumbuh dan berkembang. Dari Yes No Wave, Senyawa, Jogja Noise Bombing, hingga berbagai turunannya, kita bisa melihat bahwa musik kontemporer di Yogyakarta terus berkembang dari tahun ke tahun. Yogyakarta bisa dibilang menjadi kawah candradimuka bagi lahirnya musik-musik unik di Indonesia.

Dari Yogyakarta pula kita dapat melihat bagaimana ekosistem musik dunia bergerak. Banyak tokoh mancanegara yang kerap singgah ke kota ini. Kedatangan mereka tentu bukan sekadar untuk tampil, melakukan riset, atau menonton pertunjukan. Lebih dari itu, mereka juga membawa pertukaran pengetahuan dan membangun relasi yang membuat ekosistem musik kontemporer semacam ini tetap hidup dan berkembang di Yogyakarta.

Yogyakarta seolah memiliki daya tarik tersendiri ketika membicarakan musik elektronik dan eksperimental. Banyaknya kampus dan komunitas seni menjadi salah satu alasan mengapa musik-musik nonmainstream seperti ini terus tumbuh. Ruang untuk bereksplorasi sebagai seniman pun semakin terbuka. Memang, peminat musik semacam ini tidak sebanyak musik populer. Namun, yang menyenangkan dari Yogyakarta adalah banyaknya ruang dan pertemanan yang membuat siapa pun betah untuk terjun ke dalam ekosistem tersebut.

Panjangnya perjalanan musik eksperimental dan elektronik di Yogyakarta kini diarsipkan dengan baik melalui Jogja Sonic Index (JSI). Membuka JSI serasa diajak menelusuri bagaimana akar musik eksperimental dan elektronik tumbuh serta berkembang di Yogyakarta. Situs ini memuat arsip berupa tautan tulisan, artikel, foto, hingga video yang mendokumentasikan perjalanan musik nonmainstream di Yogyakarta. Berbagai pertanyaan mengenai bagaimana musik ini hidup dan berkembang dapat ditelusuri melalui arsip-arsip yang tersedia di dalamnya.

JSI lahir pada pertengahan 2023 atas inisiatif Wok The Rock, Indra Menus, Hilman Fathoni, Sanne Krogh Groth, dan Nils Bubandt. Dua nama terakhir merupakan pasangan peneliti asal Denmark yang sempat tinggal beberapa tahun di Yogyakarta untuk mengerjakan proyek bertajuk Java Futurism. Dalam proses pengembangannya, JSI juga melibatkan para partisipan arsiparis, yakni Andri Widi Asmara, Arlingga Hari Nugroho, Bona Zustama, Danang Rusdianto, Hanni Prameswari, Tiara Dewiyani, dan Taufiq Aribowo.

Saya menemui salah satu inisiator JSI, Hilman Fathoni, pada Selasa, 14 Juli 2026. Kami berbincang di Komunitas Gayam 16, tempat Hilman bekerja sebagai arsiparis. Percakapan berlangsung di ruang perpustakaan yang dipenuhi tumpukan kaset, CD, piringan hitam, buku, koran, dan majalah.

Hilman mengungkapkan bahwa ide membuat JSI sejatinya lahir dari Java Futurism Project yang digagas Sanne dari Lund University dan Nils dari Aarhus University. Dari proyek tersebut, kedua peneliti itu kemudian menghubungi Wok The Rock, yang lantas mengajak Hilman dan Indra Menus untuk bergabung mengembangkan JSI. Sejak awal, proyek pengarsipan itu memang difokuskan untuk mendokumentasikan musik elektronik dan eksperimental di Yogyakarta.

“Situs web ini membagi arsip yang mencakup proyek, praktisi, kolektif, label, metode, publikasi, dan acara. Situs web ini dibangun dari koleksi terbatas yang kami miliki. Semua orang mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi menambahkan konten melalui formulir yang tersedia,” ujar Hilman.

Hilman menjelaskan bahwa keterlibatan mereka bertiga bukan tanpa alasan. Masing-masing tumbuh di periode yang berbeda dalam perkembangan skena tersebut. Wok The Rock merupakan sosok yang mengalami langsung lahirnya skena musik eksperimental dan elektronik pada akhir 1990-an. Indra Menus tumbuh bersama geliatnya pada awal 2000-an, sementara Hilman mulai berkecimpung pada dekade 2010-an. Berangkat dari ingatan kolektif itulah, mereka membangun inisiatif untuk mendokumentasikan perjalanan musik elektronik dan eksperimental melalui JSI.

Kerja sama dengan Java Futurism sebagai pendana hanya memberi mereka waktu sekitar tiga bulan. Durasi tersebut tergolong singkat untuk mengarsipkan perjalanan skena yang telah berlangsung selama hampir lima dekade. Karena itu, mereka memilih menggunakan platform WordPress agar pengelolaan arsip menjadi lebih efisien, berumur panjang, partisipatif, dan mudah diakses.

“Saat JSI pertama kali dibentuk pada awal 2023, basis kurasi atau pengarsipannya memang sengaja bertumpu pada ingatan personal orang-orang yang terlibat. Karena proyek ini hanya berjalan sekitar tiga bulan, kami sadar tidak mungkin membangun arsip fisik atau arsip formal yang sangat kaku dalam waktu sesingkat itu,” jelasnya.

Pengalaman mereka di luar JSI menjadi fondasi yang membuat kolaborasi ini terasa tepat. Wok The Rock, sebagai pendiri netlabel Yes No Wave beserta berbagai turunannya, tentu tidak perlu diragukan lagi kontribusinya bagi skena musik independen. Indra Menus merupakan pegiat musik yang aktif di skena DIY. Bukunya yang berjudul Pekak: Skena Musik Eksperimental Noise di Asia Tenggara dan Jepang menjadi salah satu rujukan penting untuk memahami perkembangan musik eksperimental di kawasan tersebut.

Sementara itu, Hilman pernah bekerja bersama Wikimedia dan mengembangkan #PunkArsipan melalui Perpustaxaan. Perpustaxaan merupakan proyek pribadinya yang ia jalankan bersamaan ketika menjadi pustakawan di KUNCI Study Forum & Collective. Proyek tersebut menjadi metode sekaligus ruang untuk mengumpulkan dan memamerkan koleksi arsip secara daring dan terbuka.

Pembagian kerja mereka pun cukup jelas. Wok bertanggung jawab mengembangkan situs web sekaligus mengerjakan ilustrasi JSI. Hilman mengelola basis data arsip, sementara Indra Menus mengoordinasikan kebutuhan penulisan. Meski demikian, pembagian peran tersebut tetap berjalan secara fleksibel karena tidak terikat oleh waktu. Mereka saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan arsip, dibantu sejumlah mitra seperti Ruang Melamun dan IVAA. Proses pembentukan JSI pun tumbuh dari perpaduan yang organik sekaligus strategis.

Layaknya Wikipedia, JSI bekerja menggunakan sistem lema sebagai pintu masuk pencarian arsip. Melalui sistem tersebut, pengunjung dapat menelusuri berbagai data berdasarkan kata kunci tertentu.

“Dari sana muncul ide untuk menggunakan metode indexing. Mirip dengan cara kerja Wikipedia, tim JSI memetakan dan menyadur data dari berbagai sumber terbuka yang sudah ada, mulai dari arsip digital Monumen Pers Nasional, artikel Tempo, hingga sisa-sisa rekam jejak digital yang tersebar di internet,” ujarnya.

“Strategi ini terbukti jauh lebih fleksibel untuk mengumpulkan data yang masif dan representatif dalam waktu cepat tanpa harus terbebani oleh formalitas kepemilikan ruang fisik,” tambahnya.

Pada September 2023, tak lama setelah JSI diluncurkan, mereka mengadakan lokakarya pengarsipan bersama sejumlah partisipan di Lifepatch. Selama dua hari, para peserta berdiskusi mengenai kemungkinan bentuk pengembangan JSI sekaligus menyumbangkan berbagai temuan arsip. Dari forum tersebut, koleksi arsip yang tersimpan di JSI pun bertambah.

Kesadaran bahwa arsip dapat hilang sewaktu-waktu menjadi salah satu alasan utama mengapa proyek semacam ini perlu dikerjakan. Salah satu gagasan paling menarik dari JSI adalah cara mereka memandang internet. Proyek ini dijalankan dengan kesadaran terhadap fenomena post-apocalyptic internet, yakni kenyataan bahwa internet merupakan medium yang sangat rentan.

“Banyak jejak digital berharga dari skena musik masa lalu hilang begitu saja ketika platform seperti Path, Myspace, atau blog-blog lama berhenti beroperasi. JSI memosisikan diri sebagai wadah untuk mencadangkan data-data yang rawan hilang tersebut,” tambahnya.

Dalam konteks hak cipta, kerja JSI berfokus pada ranah nonkomersial dan prinsip keadilan bersama demi penyelamatan pengetahuan. Namun, untuk data atau komposisi yang bersifat privat, seperti arsip personal Sapto Raharjo, JSI tetap menjaga kerahasiaannya dan tidak membukanya kepada publik melalui situs web.

Hilman mengungkapkan bahwa cakupan JSI juga berkembang secara adaptif. Mereka tidak hanya mencatat musisi yang menetap di Yogyakarta, tetapi juga menelusuri jejaring internasasionalnya. Misalnya, jejak Senyawa di berbagai negara Eropa maupun musisi asal Yogyakarta yang kini bermukim di luar negeri, seperti Mo’ong Santosa Pribadi. Demikian pula seniman mancanegara yang pernah tinggal di Yogyakarta, seperti Lucas Abela, Cedrik Fermont, dan masih banyak lagi.

Dalam praktiknya, JSI tidak berhenti sebagai museum masa lalu. Arsip ini dirancang secara dinamis untuk terus mencatat apa yang sedang terjadi hari ini. Salah satunya melalui terbitan Sensus Bunyi, sebuah tinjauan berkala setiap enam bulan yang mendata rilisan musik elektronik dan eksperimental terbaru di Yogyakarta. Hasil pemetaan tersebut telah dipresentasikan Hilman dalam Majelis Gaung pada 15 Mei 2026.

Berdasarkan arsip yang telah dihimpun, Hilman melihat puncak refleksi sejarah itu tampak ketika mempersiapkan presentasi untuk Gaung dan keikutsertaan JSI di NusaSonic.

“Era Jogja Noise Bombing (JNB) sebelum NusaSonic cenderung brutal, sporadis, acak, dan bergerak sangat liar di bawah tanah. Setelah NusaSonic, terjadi peristiwa epistemik yang lebih holistik. Pergerakan musik menjadi jauh lebih tertata, terpetakan, serta memiliki kesadaran dokumentasi dan diskursus yang lebih terstruktur,” ujarnya.

Siang menjelang sore masih terasa terik di Yogyakarta. Meski perpustakaan Gayam 16 begitu sejuk, saya tidak bisa berlama-lama di sana karena Hilman harus kembali melanjutkan pekerjaannya yang barangkali memang tak pernah benar-benar selesai. Saya pun berpamitan dan kembali menghadapi jalanan Yogyakarta yang aspalnya memancarkan panas.

Perubahan iklim yang belakangan terasa semakin nyata membuat kita hanya bisa mengeluh sambil nrimo ing pandum. Kita hanyalah bagian kecil dari masyarakat yang masih menunggu jawaban atas panas berkepanjangan yang setiap hari membakar ubun-ubun.

Di atas motor, dalam perjalanan pulang, saya terus memikirkan kerja-kerja seperti JSI. Kehadirannya menjadi jembatan penting, sebuah upaya mandiri dari dalam skena untuk memastikan masa depan musik eksperimental Yogyakarta tidak kehilangan ingatan terhadap masa lalunya.

Di tengah kota yang semakin terik dan perubahan zaman yang kian riuh, Jogja Sonic Index hadir sebagai pengingat yang tenang namun kuat. Bunyi-bunyi liar, sporadis, dan tak biasa yang pernah lahir di sudut-sudut kota ini tidak dibiarkan menghilang begitu saja ditelan waktu. Melalui JSI, denyut musik eksperimental Yogyakarta terus dirawat agar dapat menjadi pijakan bagi eksplorasi di masa mendatang.

Siang itu, di bawah terik Yogyakarta yang membakar aspal, saya menyadari bahwa apa yang dikerjakan Hilman dan kawan-kawan bukan sekadar mengumpulkan data atau menautkan pranala. Lewat Jogja Sonic Index, mereka sedang menyalakan obor bagi jejak-jejak estetika yang rentan terhapus.

Pada akhirnya, sebuah skena musik yang besar bukan hanya diukur dari seberapa nyaring bunyinya hari ini, melainkan juga dari kemampuannya menjaga ingatan agar tidak padam. Kerja-kerja pengarsipan yang dilakukan JSI mungkin berlangsung sunyi, tersembunyi di balik tumpukan kaset, buku, dan lalu lintas data internet. Namun justru dari kesunyian itulah sejarah musik elektronik dan eksperimental Yogyakarta menemukan rumahnya. Melalui Jogja Sonic Index, masa lalu dan masa depan akhirnya dapat saling menyapa.