kingsheadwye.com

Kala Eceng Gondok Menghidupkan Kembali Danau Cinta Walahar

Di tepian danau, suasana terasa hidup. Sejumlah pengunjung duduk menikmati semilir angin, sementara aroma kopi dan makanan hangat menguar dari tenant-tenant UMKM yang mulai dipadati pembeli.

Anak-anak berlarian di area wisata, sesekali berhenti memandangi perahu yang melintas perlahan di atas air.

Tak banyak yang menyangka, pemandangan itu dulunya nyaris mustahil ditemukan.

Baca Juga: DPR: Beban Utang dan Impor Energi Jadi Tantangan Fiskal Indonesia di Semester I 2026

Beberapa tahun lalu, Danau Cinta hanyalah bekas galian pasir yang terbengkalai. Permukaan air dipenuhi eceng gondok, akses menuju lokasi tampak sepi, bahkan warga sekitar enggan melintas ketika matahari mulai tenggelam.

"Dulu mah sepi, Kang. Lewat sini juga takut," kenang Yeni, salah seorang pelaku UMKM yang kini menggantungkan penghasilannya di kawasan Danau Cinta.

Bagi warga Walahar, danau itu dulu bukan tempat untuk menikmati sore. Sebaliknya, kawasan tersebut lebih dikenal sebagai ruang yang terbengkalai dan minim aktivitas.

Namun, keadaan mulai berubah ketika sekelompok anak muda di desa itu memilih untuk tidak menyerah pada kondisi lingkungannya.

Mereka berkumpul, berdiskusi, lalu melontarkan satu pertanyaan sederhana. Bagaimana jika danau yang selama ini hanya dipenuhi eceng gondok justru bisa menjadi sumber kehidupan?

Gagasan itu pun perlahan menemukan jalannya.

Pada 2020, upaya mereka mendapat dukungan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina (Persero) bersama komunitas Walahar Eco Green, kawasan tersebut mulai ditata sedikit demi sedikit.

Perubahan yang dilakukan bukan sekadar membangun destinasi wisata. Di balik wajah baru Danau Cinta, dibangun pula sebuah ekosistem yang berusaha mempertemukan kepentingan lingkungan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat.

Di salah satu sudut kawasan wisata berdiri sebuah bangunan sederhana yang nyaris luput dari perhatian pengunjung. Tidak ada desain mencolok ataupun mesin-mesin besar yang mengeluarkan suara bising.

Sekilas, bangunan itu tampak biasa saja.

Padahal, dari tempat itulah cerita perubahan Danau Cinta sesungguhnya dimulai.

Local Hero Program Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina, Enjang Ramadani atau yang akrab disapa Ubed, menunjuk hamparan eceng gondok yang masih terlihat mengapung di permukaan danau.

Bagi sebagian orang, tanaman air itu hanyalah gulma yang mengganggu pemandangan. Namun bagi Ubed, eceng gondok justru menyimpan potensi yang selama ini belum dimanfaatkan.

Baca Juga: Ramalan Zodiak Cinta Hari Ini: Aries, Cancer, Virgo, Scorpio, dan Aquarius Penuh Energi Asmara

"Masalah utama di danau ini memang eceng gondok. Setiap hari jumlahnya sangat banyak, terbawa arus sungai lalu menumpuk di danau. Kalau dibiarkan terus, tentu akan mengganggu ekosistem perairan," ujarnya kepada AKURAT.CO di tepi Danau Cinta.

Berangkat dari persoalan itulah, masyarakat mulai mencoba mengubah cara pandang terhadap eceng gondok.

Setiap hari, tanaman tersebut diangkat dari permukaan danau, kemudian dicacah menggunakan mesin sederhana. Potongan-potongan eceng gondok lalu dimasukkan ke dalam biodigester yang berada sekitar dua meter di bawah permukaan tanah.

Di ruang tertutup itu, eceng gondok dipadukan dengan kotoran sapi.

Selanjutnya, alam bekerja dengan caranya sendiri.

Melalui proses fermentasi, campuran bahan organik tersebut menghasilkan biogas yang kemudian dialirkan melalui jaringan pipa menuju lima tenant UMKM di kawasan wisata Danau Cinta.

Energi itu kini digunakan untuk membantu kebutuhan memasak para pelaku usaha yang setiap hari melayani pengunjung.

Tak berhenti di situ, proses tersebut juga menghasilkan limbah cair yang masih memiliki nilai manfaat. Limbah itu dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik untuk mendukung aktivitas pertanian warga.

"Di dalam biodigester itu eceng gondok dicampur dengan kotoran ternak. Setelah proses fermentasi, akan menghasilkan gas yang bisa dimanfaatkan sebagai energi. Selain itu juga menghasilkan limbah yang masih bisa digunakan sebagai pupuk," kata Ubed.

Sistem tersebut memang tidak menghasilkan energi dalam skala besar. Namun bagi warga yang setiap hari mengandalkan kompor untuk berjualan, manfaatnya terasa sangat nyata.

Di balik pipa-pipa sederhana yang mengalir menuju warung-warung kecil itu, tersimpan cerita tentang bagaimana sebuah gulma yang dulu dianggap mengganggu kini berubah menjadi sumber energi sekaligus sumber harapan.

Dan manfaat itu menjadi bagian penting dari kehidupan Yeni.