Kapal Komersial Hadapi Ancaman di Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb, Tak Ada Lagi Jalur Pelayaran Aman
Bagikan:
JAKARTA - Kapal-kapal komersial yang berlayar di dalam dan sekitar Teluk Persia menghadapi ancaman ganda berupa kekerasan di Selat Hormuz dan serangan Houthi di Bab al-Mandeb.
Hal ini berarti tidak ada sisi Semenanjung Arab yang benar-benar 'aman',
Kelompok intelijen maritim Marisks dalam pembaruan intelijen terbaru mereka melaporkan situasi keamanan maritim di kawasan tersebut memasuki fase yang lebih berbahaya.
Hal ini disebabkan oleh munculnya situasi secara bersamaan di mana AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, serta adanya serangan terarah baik di Selat Hormuz maupun Bab al-Mandeb—dua jalur perdagangan utama bagi negara-negara Teluk yang kaya akan sumber daya energi.
"Kedua titik krusial tersebut tidak dapat lagi dinilai secara terpisah," sebut laporan Marisks dikutip CNN, Jumat, 14 Agustus.
"Tekanan di Hormuz mengalihkan lalu lintas dan kepentingan strategis ke arah akses Laut Merah milik Arab Saudi, sementara tekanan Houthi terhadap kepentingan Saudi secara bersamaan turut mengancam jalur alternatif tersebut,” sambung pernyataan itu.
Laporan itu menyoroti beberapa insiden pekan ini yang mencerminkan peningkatan tingkat ancaman yakni serangan mematikan terhadap kapal komersial yang melintasi Selat Bab al-Mandeb dan tindakan militer AS melumpuhkan kapal kargo yang menuju pelabuhan Iran dengan menembakkan dua rudal ke ruang mesinnya.
Termasuk tuduhan dari perusahaan minyak Uni Emirat Arab (UEA) Iran telah menyerang beberapa kapal miliknya baru-baru ini.
Serangan terhadap kapal-kapal yang menggunakan rute Oman menunjukkan "Iran tampaknya mampu melancarkan serangan anti-kapal di seluruh wilayah lintasan selatan," kata Marisks.
Industri pelayaran telah beradaptasi dengan ancaman-ancaman ini, catat Marisks.
Dalam tiga minggu sejak AS kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, lebih dari separuh kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz mematikan transponder mereka untuk menghindari deteksi.
Sementara penggunaan kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar (VLCC) tercatat lebih tinggi dibandingkan waktu mana pun sepanjang tahun ini, ungkap Marisks.
"Hal ini tidak menandakan adanya normalisasi. Ini menunjukkan adanya adaptasi komersial terhadap gangguan yang berkepanjangan."
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+