kingsheadwye.com

Kapan Pasien Kanker Butuh Radioterapi? Ini Penjelasan Dokter Spesialis

Jakarta, CNBC Indonesia - Diagnosis kanker kerap menjadi titik awal dari perjalanan panjang yang penuh pertanyaan bagi pasien dan keluarga. Setelah mengetahui adanya kanker, pasien biasanya dihadapkan pada berbagai pilihan pengobatan, mulai dari operasi, kemoterapi, terapi target hingga terapi radiasi.

Di tengah keinginan untuk segera mendapatkan pengobatan, para pasien perlu memahami bahwa cepat memulai terapi tidak selalu berarti harus terburu-buru mengambil keputusan.

Dr. Jonathan Teh Yi Hui selaku Senior Radiation Oncologist di Asian Alliance Radiation & Oncology (AARO) Singapura menjelaskan bahwa penanganan kanker perlu direncanakan secara individual dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing pasien.

dr. Teh  memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang onkologi radiasi dan memiliki keahlian dalam sejumlah teknologi radiasi modern, termasuk stereotactic radiosurgery (SRS) dan stereotactic body radiation therapy (SBRT).

"Terapi radiasi saat ini sangat dipersonalisasi. Kami mempertimbangkan lokasi dan ukuran tumor, organ sehat di sekitarnya, tujuan pengobatan, dan bagaimana radiasi harus diintegrasikan dengan pengobatan lainnya. Itulah mengapa komunikasi lintas spesialisasi sangat penting ketika merencanakan pengobatan untuk setiap pasien," ujar dr. Teh saat ditemui di Beautika Panglima Polim, Jakarta Selatan, Jumat (18/9/2026).

Menurutnya, setelah diagnosis kanker ditegakkan, tidak semua pasien harus langsung menjalani tindakan yang sama. Pada sebagian pasien, operasi dapat menjadi pilihan awal. Namun, pada kondisi tertentu, pemberian obat sebelum operasi dapat memberikan manfaat.

Sementara pada pasien lainnya, terapi radiasi dapat menjadi bagian penting dari pengobatan, baik sebagai terapi utama maupun dikombinasikan dengan metode lain. Karena itu, pertanyaan dalam penanganan kanker saat ini bukan semata-mata mengenai terapi terbaru yang tersedia, tetapi pengobatan atau kombinasi terapi apa yang paling sesuai untuk pasien, termasuk kapan terapi diberikan dan dalam urutan seperti apa.

dr. Kevin Tay dari OncoCare Singapore (kanan) dan dr. Jonathan Teh dari Asian Alliance Radiation & Oncology Singapore (kiri) dalam press briefing bertajuk dr. Kevin Tay dari OncoCare Singapore (kanan) dan dr. Jonathan Teh dari Asian Alliance Radiation & Oncology Singapore (kiri) dalam press briefing bertajuk "Mengapa Setiap Pasien Kanker Membutuhkan Penanganan Berbeda?" di Beautika Panglima Polim, Jakarta Selatan, Jumat (18/9/2026). (CNBC Indonesia/Lynda Hasibuan)

Tidak Selalu Harus Terburu-buru
Bagi banyak pasien, muncul keinginan untuk segera memulai pengobatan setelah kanker terdiagnosis. Namun, kecepatan pengobatan perlu dibedakan dari keputusan yang terburu-buru.

Sebagian besar kanker berkembang dalam waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Dalam banyak kasus, waktu singkat untuk menyelesaikan pemeriksaan yang diperlukan, mendapatkan masukan dari sejumlah spesialis, serta menyusun rencana pengobatan secara menyeluruh tidak serta-merta mengubah stadium kanker.

Meski demikian, kondisi setiap kanker berbeda. Beberapa jenis kanker yang agresif dapat membutuhkan penanganan lebih cepat. Karena itu, waktu yang tepat untuk memulai terapi harus ditentukan oleh dokter spesialis yang menangani pasien.

Memulai pengobatan sesegera mungkin tidak memberikan manfaat apabila terapi yang diberikan ternyata bukan pilihan yang tepat atau diberikan dalam urutan yang kurang sesuai dengan kondisi pasien.

Dalam penanganan kanker, keputusan mengenai tindakan pertama seperti apakah operasi, kemoterapi, radiasi atau terapi lainnya dapat memengaruhi strategi pengobatan selanjutnya dan pilihan terapi yang masih tersedia.

Mengenal Terapi Radiasi untuk Kanker
Terapi radiasi atau radioterapi merupakan salah satu metode pengobatan kanker yang menggunakan radiasi berenergi tinggi untuk merusak dan membunuh sel kanker. Pada radioterapi eksternal modern, sinar-X berenergi tinggi dihasilkan menggunakan perangkat yang disebut linear accelerator (LINAC). Radiasi kemudian diarahkan secara terfokus ke area tumor.

Dengan demikian, terapi radiasi bukan berarti memberikan radiasi ke seluruh tubuh. Perencanaan terapi dilakukan untuk menargetkan tumor sekaligus berupaya meminimalkan paparan terhadap jaringan dan organ sehat di sekitarnya. Terapi radiasi juga merupakan prosedur non-invasif. Pasien tidak menjalani pembedahan untuk menerima radiasi dan umumnya tidak merasakan radiasi ketika diberikan.

Secara konvensional, radioterapi dapat diberikan dalam dosis-dosis kecil yang dilakukan setiap hari, umumnya lima kali dalam seminggu, selama sekitar empat hingga tujuh minggu. Pembagian dosis tersebut memungkinkan jaringan normal di sekitar area pengobatan memiliki kesempatan untuk pulih di antara sesi terapi.

Namun, perkembangan teknologi radioterapi membuat pemberian radiasi kini dapat disesuaikan dengan jenis kanker, lokasi tumor, ukuran tumor, kondisi pasien serta tujuan pengobatan.

Bagaimana Dokter Menentukan Teknik Radiasi?
Pemilihan teknik radioterapi tidak dilakukan dengan pendekatan satu metode untuk semua pasien. Dokter perlu mempertimbangkan sejumlah faktor, antara lain lokasi dan ukuran tumor, kedekatan tumor dengan organ vital, tujuan terapi, kondisi pasien serta apakah radiasi akan dikombinasikan dengan operasi, kemoterapi atau terapi sistemik lainnya.

Pada kondisi tertentu, teknik radiasi yang sangat terfokus seperti SBRT atau SRS dapat menjadi pilihan. Perkembangan tersebut membuat radioterapi semakin bersifat individual. Dokter tidak hanya menentukan dosis radiasi, tetapi juga merancang bagaimana radiasi diberikan agar target pengobatan tercapai dengan tetap memperhatikan jaringan sehat di sekitarnya.

Perjalanan pengobatan kanker juga tidak berhenti pada pemilihan jenis terapi. Pasien sering kali harus menjalani berbagai pemeriksaan, berkonsultasi dengan dokter dari beberapa bidang, memindahkan hasil pemindaian dan rekam medis, hingga mengatur jadwal terapi di fasilitas kesehatan yang berbeda.

Kondisi tersebut dapat menjadi tantangan tersendiri ketika pasien dan keluarga sedang menghadapi beban emosional setelah diagnosis kanker. Karena itu, pendekatan multidisiplin menjadi bagian penting dalam menentukan strategi pengobatan.

Pada akhirnya, tujuan pengobatan kanker bukan sekadar memulai terapi secepat mungkin. Yang lebih penting adalah memastikan pasien mendapatkan pengobatan yang tepat, pada waktu yang tepat, dan dalam urutan yang tepat, berdasarkan diagnosis, kondisi dan tujuan pengobatan masing-masing pasien.

Bagi pasien kanker, mengambil waktu yang cukup untuk memahami diagnosis, mendiskusikan pilihan terapi dengan dokter dan memastikan rencana pengobatan telah disusun secara menyeluruh dapat menjadi bagian penting dari perjalanan pengobatan.

(miq/miq) [Gambas:Video CNBC]