kingsheadwye.com

Kaspersky Ungkap Strategi Hadapi Ancaman Siber Berbasis AI

Selular.ID – Kaspersky mengingatkan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam keamanan siber kini berkembang menjadi perlombaan teknologi antara perusahaan dan pelaku kejahatan siber.

Berdasarkan studi global Kaspersky 2026, hampir 100 persen organisasi di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, Singapura, dan Vietnam, berencana mengintegrasikan AI ke dalam operasional keamanan mereka.

Di sisi lain, 43 persen organisasi meyakini pelaku siber juga telah memanfaatkan AI untuk meningkatkan efektivitas serangan.

Temuan tersebut menunjukkan AI tidak lagi sekadar menjadi alat pendukung otomatisasi, melainkan telah menjadi komponen penting dalam strategi pertahanan maupun serangan digital.

Kaspersky menilai organisasi perlu mengadopsi platform keamanan yang telah mengintegrasikan AI secara menyeluruh agar mampu merespons ancaman yang berkembang semakin cepat.

Simon Tung, General Manager untuk ASEAN dan Negara-negara Berkembang Asia (AEC) di Kaspersky, mengatakan tantangan utama bagi perusahaan saat ini bukan lagi menentukan apakah AI akan digunakan, melainkan bagaimana mengimplementasikannya agar benar-benar menghasilkan manfaat operasional tanpa menambah kompleksitas infrastruktur keamanan.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Menurut Simon, kemampuan AI yang berdiri sendiri atau memerlukan konfigurasi manual yang rumit justru berpotensi meningkatkan biaya operasional tanpa memberikan pengurangan risiko yang signifikan.

Ia menjelaskan bahwa AI akan memberikan nilai maksimal ketika diintegrasikan langsung ke dalam proses deteksi, investigasi, dan respons insiden keamanan.

Perkembangan AI dalam keamanan siber berjalan seiring meningkatnya kemampuan pelaku ancaman dalam memanfaatkan teknologi yang sama.

Jika sebelumnya serangan digital memerlukan keterampilan teknis tinggi dan proses yang relatif panjang, AI kini memungkinkan banyak tahapan dilakukan secara otomatis.

Kaspersky menjelaskan bahwa penjahat siber mulai menggunakan AI generatif untuk menghasilkan email phishing yang lebih meyakinkan, membuat kode malware, melakukan pengintaian terhadap target, hingga memodifikasi muatan berbahaya agar lebih sulit dideteksi sistem keamanan.

Otomatisasi tersebut membuat skala serangan meningkat sekaligus memperpendek waktu dari proses pengintaian hingga kompromi terhadap sistem korban.

Dalam studi yang sama, sebanyak 21 persen organisasi menilai pelaku kejahatan siber telah berada di posisi lebih unggul dalam perlombaan adopsi teknologi.

Sementara itu, 43 persen responden percaya bahwa kelompok penyerang mampu mengadopsi AI lebih cepat untuk meningkatkan efektivitas operasi mereka.

Perubahan pola ancaman tersebut juga tercermin dalam investigasi Global Research and Analysis Team (GReAT) milik Kaspersky terhadap kampanye RevengeHotels yang menargetkan industri perhotelan di Amerika Latin.

Tim peneliti menemukan pelaku ancaman memanfaatkan kode yang dihasilkan AI dalam proses pengembangan malware dan penyusunan email phishing sehingga serangan menjadi lebih sulit dikenali dibandingkan kampanye sebelumnya.

Sektor keuangan juga menjadi sasaran utama pemanfaatan AI oleh pelaku kejahatan siber. Sepanjang 2025, Kaspersky mencatat lebih dari 530.000 upaya phishing keuangan di Asia Tenggara.

Thailand menjadi negara dengan jumlah serangan tertinggi mencapai 247.560 percobaan, disusul Indonesia sebanyak 85.908, Malaysia 64.779, Vietnam 59.560, sementara Singapura dan Filipina masing-masing mencatat lebih dari 38.000 percobaan serangan.

Menurut analisis tren ancaman keuangan Kaspersky, AI berkontribusi terhadap meningkatnya serangan yang lebih tertarget melalui rekayasa sosial (social engineering), penipuan digital, hingga upaya manipulasi pasar.

AI memungkinkan pelaku mempelajari perilaku calon korban, menghasilkan umpan yang lebih personal, serta melakukan pemetaan infrastruktur dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan metode konvensional.

Pemanfaatan AI dalam serangan siber juga mulai terlihat pada industri hiburan.

Kaspersky mengidentifikasi penggunaan teknologi tersebut dalam pembuatan deepfake, penipuan konten digital, hingga eksplorasi kelemahan pada infrastruktur distribusi konten.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa AI telah menjadi faktor lintas industri yang memengaruhi lanskap keamanan siber global.

Di sisi lain, organisasi juga mulai mempercepat adopsi AI untuk memperkuat pusat operasi keamanan atau Security Operations Center (SOC).

Berdasarkan survei global Kaspersky 2026, hampir seluruh perusahaan di Asia Tenggara yang berencana membangun SOC dalam dua tahun mendatang akan melengkapinya dengan teknologi AI.

Meski demikian, implementasi AI dalam lingkungan perusahaan masih menghadapi sejumlah tantangan.

Kaspersky menilai kualitas data menjadi fondasi utama keberhasilan AI.

Sistem yang masih menggunakan sumber data terpisah atau telemetry yang tidak terintegrasi akan membatasi kemampuan AI dalam mendeteksi dan mengorelasikan ancaman secara akurat.

Selain itu, perusahaan juga perlu memperhatikan biaya integrasi dan total biaya kepemilikan (Total Cost of Ownership/TCO).

Menurut Kaspersky, AI yang hanya ditambahkan sebagai fitur terpisah pada berbagai produk keamanan berpotensi meningkatkan kompleksitas operasional dibandingkan memberikan efisiensi.

Aspek lain yang menjadi perhatian adalah kesiapan sumber daya manusia.

Alat berbasis AI yang membutuhkan konfigurasi teknis mendalam dapat memperlebar kesenjangan kemampuan pada tim keamanan yang memiliki keterbatasan personel.

Karena itu, perusahaan disarankan memilih solusi yang menyematkan AI langsung ke dalam alur kerja analis sehingga proses investigasi dan respons insiden menjadi lebih sederhana.

Kaspersky juga menyoroti pentingnya tata kelola AI yang bertanggung jawab.

Perusahaan mendukung implementasi Global Digital Compact yang digagas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai kerangka tata kelola teknologi digital dan AI secara global.

Di kawasan Asia Tenggara, Kaspersky menyatakan terus memperluas investasi dan pengembangan kapabilitas untuk memperkuat kesiapan ekosistem keamanan siber menghadapi adopsi AI yang semakin luas.

Sebagai langkah implementasi, Kaspersky merekomendasikan organisasi mengonsolidasikan seluruh data keamanan ke dalam platform terpadu sebelum mengaktifkan fitur AI, memilih solusi yang telah mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja utama, membangun standar tata kelola internal yang selaras dengan regulasi, serta melakukan implementasi secara bertahap dengan indikator hasil yang dapat diukur.

Simon Tung menegaskan bahwa pendekatan terintegrasi menjadi faktor penting agar AI mampu memberikan manfaat nyata bagi organisasi.

Menurutnya, lini solusi Kaspersky Next Expert dikembangkan dengan prinsip tersebut, yaitu menyematkan kemampuan AI langsung pada proses deteksi, investigasi, dan respons sehingga organisasi dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat ketahanan terhadap ancaman siber berbasis AI yang terus berkembang.

Baca Juga: Kaspersky Next Janjikan Solusi Perlindungan Ancaman Siber yang Incar Perusahaan