Kebut Hilirisasi Mineral Kritis, Danantara Sinergikan 4 BUMN
Liputan6.com, Jakarta - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menegaskan pentingnya hilirisasi bahan tambang demi mendongkrak daya saing industri nasional. Setidaknya, empat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kini didorong untuk mengoptimalkan pemanfaatan mineral kritis yang diproduksi di dalam negeri.
Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani menekankan bahwa Indonesia harus segera naik kelas dalam rantai nilai material maju. Indonesia dianugerahi kekayaan mineral melimpah, mulai dari nikel, bauksit, tembaga, timah, hingga logam tanah jarang (rare earth).
"Bahan-bahan ini merupakan fondasi teknologi masa depan, seperti baterai kendaraan listrik, semikonduktor, pertahanan, dan energi bersih. Namun, selama puluhan tahun kita terlalu sering berhenti di titik ekstraksi, mengekspor bahan mentah, lalu membeli kembali produk jadinya dengan harga berkali-kali lipat," ujar Rosan dalam keterangan resminya, Selasa (14/7/2026).
Sebagai langkah konkret, Danantara memfasilitasi penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pengembangan material maju (critical minerals downstreaming) dalam acara Danantara’s Advanced Materials Industry Dialogue: From Minerals to Manufacturing. Sinergi ini melibatkan empat entitas besar yaitu PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID, PT LEN Industri (Persero) atau DEFEND ID, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) atau Perminas.
Kerja sama ini bertujuan untuk mengoptimalkan pasokan dan penyerapan (supply-offtake) mineral kritis untuk kebutuhan industri strategis domestik. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat lahirnya industri material maju nasional berskala besar lewat pengembangan teknologi bersama.
Selain itu, kolaborasi ini diproyeksikan menyokong program strategis nasional, seperti produksi mobil dan motor listrik nasional, industri dirgantara, maritim, komponen dasar, sektor pertahanan, hingga ketenagalistrikan.