Kedekatan Wakil PM Malaysia dengan Indonesia: Merapi hingga Bahasa Jawa
Liputan6.com, Jakarta - Wakil Perdana Menteri Malaysia sekaligus Presiden UMNO, Ahmad Zahid Hamidi, punya cerita tersendiri tentang kedekatannya dengan Indonesia.
Saat Gunung Merapi meletus, ia datang ke Yogyakarta membawa bantuan. Tak disangka, kemampuannya berbahasa Jawa justru membuatnya mendapat perhatian wartawan. Zahid menceritakan pengalaman itu saat bertemu Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh di NasDem Tower, Jakarta, Sabtu (19/9/2026) malam.
“Sewaktu Gunung Merapi meletus, yang pertama kali saya ketemu Mbah Maridjan. Dan kali kedua, yang kali kedua meletus Mbah Maridjan meninggal sewaktu salat Ashar,” kata Zahid.
Saat itu, Zahid datang membawa bantuan sebagai bentuk persahabatan Malaysia untuk Indonesia.
“Saya menghantar bantuan sebagai tanda kasih, tanda persahabatan Malaysia ke Indonesia,” ujarnya.
Namun kedatangannya justru disambut pertanyaan wartawan. Zahid mengaku ditanya apakah Malaysia datang untuk “membayar hutang” karena banyak budaya Indonesia yang telah dipinjam Malaysia, mulai batik, tempe hingga budaya.
Zahid menjawab pertanyaan itu dengan menyinggung hubungan kedua negara sebagai saudara. “Saya bilang, Malaysia dan Indonesia itu seperti saudara kandung. Kita dalam rantau Kepulauan Melayu,” tuturnya.
Ia kemudian menceritakan latar belakang keluarganya yang memiliki akar Jawa. Menurut Zahid, meski orang tua dan dirinya lahir di Malaysia, bahasa yang digunakan keluarganya di rumah adalah bahasa Jawa.
“Saya bilang saya anak Malaysia. Ibu bapak saya dilahirkan di Malaysia, tapi di rumah kita ngomong Jawa, tiyang Jawi,” katanya.
Ketika wartawan terus mencecarnya, Zahid kemudian menjawab menggunakan bahasa Jawa.
“Dulure teka seka Malaysia arep ngrewangi kok malah diarani?” ujar Zahid.
Ia menerjemahkan kalimat tersebut sebagai, “Saudara yang datang daripada Malaysia untuk membantu, kok malah dimarahi.”
Menurut Zahid, penggunaan bahasa yang dipahami masyarakat setempat membuat komunikasinya diterima.
“Communication is about language. We must know the language of our target group. Because the target group is speaking Javanese, I spoke in Javanese, I am accepted by them,” katanya.
Pengalaman tersebut kemudian dijadikan Zahid sebagai contoh kedekatan Indonesia dan Malaysia yang menurutnya tidak semestinya dipisahkan.
“Jangan pernah pisahkan Malaysia dan Indonesia, sesungguhnya. Sesungguhnya kita negara serumpun,” tegasnya.