Kelompok tani hutan diarahkan untuk diversifikasi komoditas non-kayu - ANTARA News Kalimantan Timur
Samarinda (ANTARA) - Balai Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (P2SDM) Wilayah V Kementerian Kehutanan memacu kelompok tani hutan (KTH) di Kalimantan Timur untuk melakukan diversifikasi komoditas non-kayu guna menjaga keberlanjutan ekonomi.
"Upaya diversifikasi komoditas hasil hutan bukan kayu sangat penting dilakukan agar peningkatan transaksi ekonomi masyarakat sekitar hutan dapat berjalan optimal," kata Kepala Balai P2SDM Wilayah V Kemenhut Elpa Rifadi di Samarinda, Rabu.
Langkah pembinaan tersebut didorong menyusul hasil analisis nilai transaksi ekonomi (NTE) KTH di Kalimantan Timur tahun 2026 yang tercatat mencapai total Rp8,13 miliar.
Struktur pendapatan petani hutan Kaltim saat ini masih didominasi komoditas getah dan gubal gaharu yang menyumbang lebih dari 97 persen transaksi.
"Kita tidak boleh hanya bertumpu pada satu komoditas unggulan saja karena fluktuasi pasar dapat memengaruhi ketahanan ekonomi kelompok tani," ujar Elpa.
Sebagai gambaran, KTH Sei Baruk Lestari di Kabupaten Berau mendominasi transaksi dengan menyumbang Rp7,86 miliar melalui penjualan komoditas gaharu tersebut.
Kondisi ini membuat Kabupaten Berau menjadi kontributor terbesar di tingkat provinsi pada kelompok tani hutan dengan menyumbang 96,80 persen dari total nilai transaksi.
"Oleh sebab itu, kami terus mendampingi kelompok tani lain untuk mengembangkan usaha alternatif seperti madu kelulut, kopi agroforestri, hingga wisata alam," tutur Elpa.
Beberapa KTH di Kutai Timur kini telah menunjukkan hasil dengan membudidayakan madu kelulut yang menghasilkan transaksi lebih dari Rp26 juta.
Sementara itu, KTH Wana Tirta dan Karang Joang Lestari di Kota Balikpapan sukses mengelola sektor jasa lingkungan melalui kegiatan wisata alam.
"Kami juga mendorong kelompok tani untuk mengolah produk hilirisasi karena terbukti memberikan nilai tambah yang jauh lebih tinggi bagi pendapatan mereka," jelas Elpa.
Terkait hal tersebut, KTH Kutai Lama Lestari di Kutai Kartanegara berhasil meraup transaksi Rp144 juta melalui usaha pengolahan biomassa.
Pemberdayaan kelompok tani ini dilakukan melalui pendampingan intensif dari penyuluh kehutanan guna memperkuat kelembagaan serta memperluas jaringan pemasaran digital.
"Sinergi pembinaan ini diharapkan mampu melahirkan unit usaha mandiri baru yang ramah lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan," pungkas Elpa.
Melalui diversifikasi produk non-kayu ini, tambah dia, kontribusi sektor kehutanan bisa terus tumbuh positif dalam menyokong pembangunan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Pewarta: Ahmad Rifandi
Editor : Helti Marini S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.