Kemenag: STQH bagian dari ikhtiar pembinaan kehidupan keagamaan
Kemenag: STQH bagian dari ikhtiar pembinaan kehidupan keagamaan
Sabtu, 5 September 2026 16:30 WIB
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo didampingi Kepala Kantor Kemenag Ahmad Shidqi membuka Seleksi Tilawatil Qur'an dan Hadits (STQH) 2026 Kota Yogyakarta, Sabtu (5/9/2026). ANTARA/HO-Humas Kantor Kemenag Yogyakarta
Yogyakarta (ANTARA) - Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Yogyakarta Ahmad Shidqi mengatakan kegiatan Seleksi Tilawatil Qur'an dan Hadits (STQH) tingkat kota ini sebagai bagian dari ikhtiar atau upaya bersama dalam pembinaan kehidupan keagamaan.
"STQH tidak sekadar sebagai arena kompetisi untuk mencari juara, tetapi bagian dari ikhtiar pembinaan kehidupan keagamaan sekaligus memperluas syiar Al Quran dan hadis di tengah masyarakat," kata dia pada pembukaan STQH 2026 di Yogyakarta, Sabtu.
Menurut dia, keberhasilan STQH tidak berhenti pada lahirnya peserta terbaik, namun mampu mendorong masyarakat semakin baik membaca Al Quran, memahami tafsir dan hadis, serta mengimplementasikan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
"Bagaimana masyarakat kita semakin baik dalam membaca Al Quran, kemudian memahami tafsir dan hadis, sehingga Al Quran tidak hanya dibaca dan dipahami, tetapi juga menjadi pedoman dalam kehidupan," katanya.
Kemenag berperan dalam penyelenggaraan dan pembinaan substansi keagamaan, sedangkan dukungan Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta memperkuat pelaksanaan kegiatan agar memberikan manfaat lebih luas.
STQH Kota Yogyakarta 2026 diikuti 219 peserta dari 14 kafilah, dengan cabang yang diperlombakan, meliputi tilawah, tahfiz Al Quran, tafsir Al Quran bahasa Arab, serta hafalan hadis, dengan hasil terbaik dipersiapkan Kota Yogyakarta pada STQH tingkat Provinsi DIY.
Baca juga: Kemenag ajak masyarakat terus hayati nilai Al Quran
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan pembelajaran agama di tengah deras arus informasi digital saat ini membuat generasi muda dapat memperoleh berbagai informasi keagamaan secara mudah melalui internet dan media sosial.
Namun, katanya, kemudahan tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan memilah informasi serta bimbingan dari guru, ustadz, kiai, dan pembimbing yang memiliki keilmuan yang jelas.
Oleh karena itu, ia mendorong generasi muda Yogyakarta tidak hanya belajar agama melalui layar telepon genggam, tetapi juga membangun tradisi belajar secara langsung melalui proses, dialog, keteladanan, dan bimbingan.
"Syiar agama juga harus mampu menjangkau generasi muda, karena merekalah yang kelak akan meneruskan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat," katanya.
Menurut dia, STQH menjadi ruang strategis karena peserta tidak hanya dituntut mampu membaca atau menghafal Al Quran dan hadis, tetapi juga memahami nilai di dalamnya, memperkuat akidah, membangun akhlak, serta menjadikan ajaran agama sebagai pedoman dalam kehidupan.
"Saya harap kecintaan terhadap Al Quran tidak berhenti pada kemampuan melantunkannya dengan baik, tetapi tercermin dalam perilaku sehari-hari melalui kejujuran, kepedulian, penghormatan kepada orang tua, kecintaan terhadap ilmu, dan kemampuan menjaga harmoni di tengah masyarakat," katanya.
Pembukaan STQH 2026 dirangkaikan dengan Halal Fest dan bazar UMKM halal, agar kegiatan ini tidak hanya berdampak dalam aspek syiar dan pembinaan keagamaan, tetapi pemberdayaan ekonomi masyarakat serta penguatan ekosistem produk halal di Kota Yogyakarta.
Pewarta : Hery Sidik
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026