kingsheadwye.com

Kendalikan inflasi, NTB mulai gerakan tanam cabai di sekolah

Mataram (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat mengintensifkan gerakan budidaya cabai di lingkungan sekolah sebagai upaya mengendalikan inflasi daerah sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan pelajar.

Program yang menjadi inisiatif Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal itu diawali dengan pelatihan budidaya cabai bagi 61 guru SMA, SMK, dan SLB di Pulau Lombok yang dipusatkan di SMK Pertanian Pembangunan (SMKPP) Negeri Mataram, Senin (13/7).

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah, mengatakan para guru yang mengikuti pelatihan akan berperan sebagai pendamping di sekolah untuk membimbing siswa mulai dari proses penanaman hingga panen cabai.

"Hari ini ada 61 guru yang mengikuti pelatihan budidaya cabai. Mereka nantinya menjadi pendamping di sekolah untuk memberikan edukasi kepada para siswa mengenai teknik budidaya cabai," katanya.

Menurut Mirza, program tersebut disusun karena komoditas cabai menjadi salah satu penyumbang utama inflasi, baik di tingkat nasional maupun daerah. 

Pemerintah daerah ingin mengenalkan sektor pertanian kepada pelajar sejak dini agar mereka memahami pentingnya menjaga ketersediaan pangan sekaligus melihat peluang usaha di bidang agribisnis.

Ia menambahkan, gerakan budidaya cabai di sekolah merupakan langkah nyata pemerintah untuk membentuk generasi muda yang memiliki keterampilan bercocok tanam serta mampu mengembangkan usaha pertanian di masa mendatang.

Setelah pelatihan selesai, pemerintah akan menyalurkan bibit cabai kepada sekolah melalui para guru peserta pelatihan. Bibit tersebut selanjutnya dibagikan kepada siswa baru untuk ditanam selama kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Setiap siswa akan bertanggung jawab merawat tanaman cabai, baik menggunakan polybag maupun lahan pertanian yang tersedia di lingkungan sekolah. Pembelajaran dilakukan secara praktik mulai dari pemindahan bibit, pemeliharaan tanaman hingga proses panen.

"Bibit diberikan dalam bentuk semaian, kemudian dipindahkan ke media tanam. Anak-anak akan belajar langsung mulai dari proses penanaman sampai panen," ujarnya.

Mirza menilai pengalaman tersebut tidak hanya meningkatkan pengetahuan siswa tentang pertanian, tetapi juga membangun rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap ketahanan pangan.

Selain menjadi media pembelajaran, Pemerintah Provinsi NTB juga melihat budidaya cabai sebagai peluang usaha yang bernilai ekonomi tinggi.

Ia menyebut sektor pertanian perlu diperkenalkan lebih luas kepada generasi muda agar semakin banyak lulusan sekolah yang tertarik mengembangkan usaha agribisnis.

Menurut Mirza, NTB memiliki potensi besar karena selama ini menjadi daerah surplus produksi cabai. Pada 2025, produksi cabai di NTB mencapai sekitar 74 ribu ton, sedangkan kebutuhan konsumsi masyarakat sekitar 36 ribu ton sehingga daerah tersebut masih memiliki surplus untuk memasok wilayah lain yang mengalami kekurangan pasokan.

SMKPP Negeri Mataram ditunjuk sebagai salah satu pusat penyedia bibit cabai untuk mendukung pelaksanaan program tersebut di Pulau Lombok.

Kepala SMKPP Negeri Mataram, Sugiarta, mengatakan bibit cabai disiapkan di tiga lokasi, yakni Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, dan Kabupaten Lombok Timur. Sementara kebutuhan bibit untuk wilayah Pulau Sumbawa dipusatkan di SMKPP Bima.

"Bibit ini kami siapkan untuk dibagikan kepada seluruh sekolah, mulai dari SMP, SMA hingga SLB di Pulau Lombok. Jika ada sekolah dari Pulau Sumbawa yang membutuhkan, juga bisa mengambil sesuai lokasi yang telah ditentukan," ujarnya.

Distribusi bibit dijadwalkan dimulai pada pekan kedua pelaksanaan program. Para guru peserta pelatihan akan membawa bibit tersebut ke sekolah masing-masing untuk ditanam bersama siswa.

Sugiarta mengatakan program tersebut tidak hanya bertujuan menghasilkan panen cabai, tetapi juga membangun karakter siswa, meningkatkan kepedulian terhadap ketahanan pangan, serta menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap dunia pertanian.

Ia menambahkan konsep "pertanian masuk sekolah" nantinya juga akan diterapkan di pondok pesantren dan berbagai satuan pendidikan lainnya. Sekolah di kawasan perkotaan didorong memanfaatkan polybag melalui konsep urban farming, sedangkan sekolah yang memiliki lahan diarahkan mengembangkan kebun budidaya.

Program ini juga dirancang berkelanjutan. Setelah masa panen selesai, sekolah didorong melakukan pembibitan kembali sehingga kegiatan budidaya cabai terus berlangsung. 

Untuk memperkuat implementasi program, SMKPP Negeri Mataram juga berencana membentuk forum budidaya cabai sebagai wadah berbagi pengalaman dan memperkuat kolaborasi antarsekolah dalam mengembangkan pertanian berbasis pendidikan di NTB.

Pewarta : Awaludin
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026