'Kiai Al-Falah Naif atau Termul?': Sobary Pertanyakan Motif Undang Jokowi ke Ponpes
Kamis, 03 September 2026, 12:00 WIB
Warta Ekonomi, Jakarta -
Budayawan Mohamad Sobary mempertanyakan motif Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen, mengundang Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) untuk memberikan sambutan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Sabtu (29/8/2026).
Sobary menilai, masih banyak tokoh dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) yang lebih layak memberikan nasihat kepada para santri.
"Nasihat disampaikan pada momentum yang namanya peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Itulah dosa dunia pesantren
Supaya pesantren mikir kiai-kiainya supaya mikir kurang apa dunia NU, kurang apa orang salehnya saleh banyak di NU salehnya saleh jujurnya jujur ada di NU salehnya saleh jujur Jujurnya jujur, pandinya pandai ada di NU. Kurang apa?" ujar Sobary dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Kamis (3/9).
Sobary mempertanyakan manfaat memberi panggung kepada Jokowi.
"Apa gunanya memberi panggung pada orang seperti itu? Kan memberi panggung. Apa kiainya enggak tahu bahwa ini problem bagi bangsa. Kecuali kalau kiainya itu termul, setidak-tidaknya bukan umpama bukan termul setidak-tidaknya pengagum ya," tegasnya.
Ia menambahkan, meskipun nasihat yang disampaikan Jokowi dalam acara tersebut terdengar baik, rekam jejaknya justru dianggap sering menyampaikan kebohongan.
"Ini sudah menjadi catatan publik. Catatan publik kebohongannya berderet-deret deret deret deret. Semua orang sudah tahu. Kalau kiai ini begitu naif saking sucinya. Kalau kiai ini saking salehnya sampai tidak pernah tahu mengenai perkara itu dan omonganku dianggap sebagai sebuah omongan yang tidak menyenangkan, tanya dulu, tanya dulu. Apa betul Jokowi itu orang yang penuh kelicikan, penuh keculasan? Apa betul omongan ini? penuh tipu muslihat dan Indonesia nyaris hampir bangkrut. Pertama secara ekonomi, kedua secara politik," tandasnya.
Sebelumnya, dalam acara tersebut, Jokowi menyoroti kebiasaan sebagian orang yang merasa paling pintar saat tampil di ruang publik namun melupakan adab dan sopan santun.
"Sekarang ini, yang belum pintar saja sudah rumangsa (merasa) pintar banyak. Bisa dilihat di televisi waktu debat, pinter-pinteran bicara. Ya meskipun pintar jangan dipamerkan," ucap Jokowi di hadapan para santri dan jamaah.
Baca Juga: Sobary: Jokowi Sudah ‘Bunuh’ Banyak Wartawan dan Aktivis
Mengutip falsafah Jawa, “Lamun siro pinter, ojo minteri”, Jokowi menekankan bahwa kecerdasan sejati bukanlah untuk merendahkan orang lain, melainkan untuk memberi manfaat.
"Pinter meneng, malah medeni (pintar kalau diam malah menakutkan)," seloroh Jokowi.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya