Kurator Australia mengungkap banyak kain Lombok berlabel kain Bali
Mataram (ANTARA) - Kurator Emeritus Museum & Art Gallery of the Northern Territory (MAGNT) Australia James Bennett mengungkapkan banyak kain tenun asal Lombok dalam koleksi internasional masih berlabel Bali akibat sejarah perdagangan era kolonial hingga akhir abad ke-20.
"Banyak kain Lombok yang masuk koleksi internasional tercatat sebagai kain Bali, karena (kain Lombok) dibeli di Bali," ucapnya dalam siaran Berugak Kita RRI Mataram yang dipantau di Mataram, Senin.
James mengatakan kesalahan pelabelan tersebut menjadi tantangan besar dalam penelitian sejarah tekstil Lombok lantaran identitas asal kain kerap tertukar dengan Bali.
Penduduk Eropa kerap mencatat berbagai komoditas yang dikirim dari Lombok sebagai produk Bali, karena diperdagangkan melalui Pelabuhan Ampenan yang saat itu berada di bawah payung kekuasaan Kerajaan Karangasem Cakranegara.
Pada era 70 hingga 90-an, kain Bali memiliki popularitas tinggi di pasar internasional. Kondisi itu mendorong pedagang menjual kain asal Lombok dengan menyebutnya sebagai kain Bali agar lebih mudah diterima oleh pasar.
Berdasarkan catatan sejarah, Pelabuhan Ampenan merupakan pelabuhan utama di Pulau Lombok yang menjadi tempat berlabuh kapal-kapal besar dari berbagai penjuru Nusantara hingga mancanegara.
Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam menuturkan hubungan sejarah antara Lombok dan Bali sangat erat berkat keberadaan Pelabuhan Ampenan yang menjadi salah satu simpul perdagangan internasional di jalur pesisir selatan Indonesia.
"Di pelabuhan terjadi pertukaran benda. Banyak sekali museum Australia yang mengoleksi tidak hanya kain, tetapi keris Lombok juga banyak dikoleksi oleh masyarakat Australia," kata Nuralam.
Museum NTB mengajak masyarakat untuk ikut meneliti dan mendokumentasikan kembali khazanah wastra Lombok, agar identitas tersebut tidak lagi ditutupi oleh sejarah perdagangan.
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026