Kylie Genter, Sosok Haenyeo Pertama dari Luar Korsel di Pulau Jeju
Jeju -
Desa Youngrak-ri di Pulau Jeju, Korea Selatan, kini punya haenyeo yang tak biasa. Kylie Genter menjadi satu-satunya warga asing yang mengantongi lisensi sebagai penyelam tradisional tersebut.
Haenyeo adalah perempuan penyelam asal Jeju yang mencari hasil laut dengan menyelam tanpa alat bantu pernapasan. Tradisi ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jeju selama ratusan tahun.
Genter, perempuan asal Amerika Serikat berusia 36 tahun, mulai menyelam di Youngrak-ri pada Januari 2024. Sebelumnya, ia sempat ditolak karena statusnya sebagai warga asing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir CNN, Jumat (28/8/2026) kesempatan itu datang setelah komunitas haenyeo Youngrak-ri mencari anggota baru. Suami Genter yang merupakan penyelam scuba menawarkan istrinya, tetapi permintaan tersebut awalnya ditolak.
Sebulan kemudian, aturan itu dilonggarkan dan Genter diberi kesempatan mengikuti wawancara. Ia akhirnya diterima dan terus menyelam hingga mendapatkan lisensi haenyeo.
"Saya tidak berpikir sedang membuka jalan. Sebagai orang asing yang melakukan ini, terutama karena saya bukan warga negara Korea, ini adalah tanggung jawab besar," kata Genter.
Genter juga berhasil mendapatkan kepercayaan dari para haenyeo senior. Presiden Komunitas Haenyeo Youngrak-ri, Hong Bok-nyeo, bahkan menyebut Genter seperti anaknya sendiri.
"Dia bahkan lebih baik daripada kami, orang Korea dan penduduk asli Jeju, dalam menyelam. Saya sangat menyukainya," ujar Hong.
Kehadiran Genter menjadi angin segar bagi tradisi haenyeo yang tengah mengalami masalah regenerasi. Dari 2.371 haenyeo aktif pada tahun lalu, sekitar 63% di antaranya berusia 70 tahun ke atas.
Hanya sekitar 30 orang atau 1% yang berusia 39 tahun ke bawah. Di sisi lain, kehadiran Genter membuat desa tersebut ikut dikenal wisatawan.
Kepala perikanan Youngrak-ri, Kim Chang-sik, mengatakan banyak orang datang untuk melihat sekaligus mewawancarai haenyeo asal Amerika itu.
"Desa kami memiliki haenyeo Amerika pertama, jadi banyak orang datang untuk mewawancarainya!" ucap Kim.
Namun, dewasa ini para haenyeo tengah dihadapkan dengan ancaman perubahan iklim, suhu laut yang meningkat membuat rumput laut dan hasil laut di sekitar Youngrak-ri semakin berkurang.
Kim mengatakan beberapa tahun lalu para haenyeo masih bisa menangkap lebih dari 100 kilogram teripang dalam sehari. Tapi di tahun ini mereka hanya menemukan sekitar 10 teripang secara total.
"Suhu laut yang tinggi membuat banyak rumput laut menghilang. Padahal kami membutuhkan rumput laut agar kerang bisa datang dan memakannya. Kerang tidak datang karena air laut terlalu hangat," jelas Kim.
Kondisi itu membuat profesi haenyeo semakin sulit dijadikan sumber penghasilan. Meski begitu, Genter memilih bertahan dan ikut memperkenalkan tradisi tersebut lewat media sosial dan podcast.
"Ini adalah komitmen seumur hidup. Saya akan tinggal di desa ini dan meninggal di desa ini. Kalau kalian siap melakukan itu, cobalah!," tegas Genter.
(upd/ddn)