Lapor ke Prabowo, Nilai Ekspor dari Hilirisasi Ini Melejit 45%
Jakarta, CNBC Indonesia - Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menaksir nilai ekspor hasil hilirisasi, baik itu nikel, aluminium dan komponen baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) bisa mencapai US$ 50 miliar atau Rp900-an triliun (kurs Rp18.000 per US$). Hal ini melesat hingga 45% dari tahun 2024.
Anggota sekaligus Sekretaris Eksekutif DEN, Septian Hario Seto menjabarkan, bahwa saat ini selain nikel, terdapat hilirisasi yang juga sedang masif di Indonesia. Diantaranya adalah hilirisasi aluminium dan komponen baterai lithium. Sebagai contoh, untuk hilirisasi aluminium ini meningkat signifikan dan diperkirakan nilai ekspor untuk produk aluminium pada tahun ini menjadi sekitar US$7 miliar - US$7,2 miliar dari sekitar US$3,5 miliar di tahun 2025.
"Yang lain juga yang menarik adalah hilirisasi dari komponen-komponen baterai lithium. Jadi mungkin ini yang menjadi banyak pertanyaan dan kritik dari orang-orang juga terkait dengan hilirisasi di Indonesia," terang Seto saat Konfrensi Pers di Istana Negara semalam, Selasa (21/10/2026).
Seto menegaskan, bahwa saat ini Indonesia menjadi salah satu sumber produsen untuk komponen baterai lithium, seperti anoda, katoda baterai, bahkan juga sudah memiliki lithium refinery, di mana yang sejatinya Indonesia tidak memiliki lithium.
"Artinya Indonesia sudah bisa melakukan industrialisasi dari sumber daya alam yang kita tidak miliki. Tapi industrialisasi ini merupakan bagian dari ekosistem tadi yang lengkap," tegas Seto.
Dalam hitungan DEN, sampai dengan akhir tahun ini, hilirisasi nikel, hilirisasi aluminium dan hilirisasi komponen lithium baterai itu nilai akan mencapai sekitar US$50 miliar atau naik hampir sekitar 45% dibanding ekspor pada tahun 2024.
"Jadi ini merupakan prestasi yang tadi kami sampaikan sangat baik kepada Bapak Presiden (Prabowo Subianto) karena selama 2 tahun periode pemerintahan beliau ekspor hilirisasi kita itu bisa meningkat sekitar 45%. 2026, US$ 50 miliar dolar dan tadi 2024 sekitar US$ 34,5 miliar," tutup Seto.
Tak sampai di situ, ke depan, DEN memprediksi nilai ekspor hilirisasi aluminium bisa tembus hingga US$10 miliar seiring dengan penambahan investasi dari smelter-smelter aluminium yang baru di Indonesia.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]