kingsheadwye.com

Libur tapi Masih Mikirin Kerjaan? Intip Alasan Mengapa Kita Susah Istirahat |Republika Online

ilustrasi karyawan bekerja (ilustrasi). Tak sedikit orang tetap mengurusi pekerjaan meskipun sedang cuti atau liburan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Cuti atau momen libur seharusnya menjadi momen untuk memulihkan tenaga dan melepaskan diri dari segala rutinitas pekerjaan. Namun, dalam kenyataannya, banyak pekerja mendapati diri mereka masih membawa beban kantor saat liburan.

Laptop tetap dibawa, notifikasi pesan pekerjaan terus diperiksa, bahkan perjalanan mudik atau liburan pun diisi dengan menyelesaikan tugas-tugas kantor yang tertunda. Fenomena sulitnya benar-benar beristirahat ini menjadi salah satu sorotan utama dalam gelar wicara bertajuk "Real Voice, Real Change: Let's Create a Healthy Workplace" yang diselenggarakan oleh PIP Unpad bersama Unpad Kampus Jakarta dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia yang diperingati setiap 10 Oktober 2026.

Dalam diskusi tersebut, psikolog Fredrick Dermawan Purba, M.Psi., Ph.D., yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi Magister dan Doktor Ilmu Psikologi Universitas Padjadjaran, mengatakan cara pandang seseorang terhadap pekerjaan sangat dipengaruhi oleh latar belakang generasi dan lingkungan tempat mereka dibesarkan. Ia mencontohkan bagaimana generasi milenial kerap membawa pekerjaan saat cuti karena dibentuk oleh keyakinan bahwa kerja keras merupakan satu-satunya jalan menuju kesuksesan.

Di sisi lain, generasi Z cenderung memiliki pandangan yang berbeda dalam menyeimbangkan hidup dan karier. “Milenial mereka dibesarkan oleh generasi di atasnya bahwa kerja keras itu adalah kunci kesuksesan. Kalau gen Z, kerja cerdas dan bahagia itu adalah kunci,” ujar Fredrick di Jakarta pada Jumat (9/10/2026).

Meski demikian, perbedaan cara pandang antargenerasi ini tidak lantas membuat satu kelompok lebih unggul dari yang lain. Tantangan hidup, beban keluarga, serta dinamika di lingkungan kerja turut membentuk bagaimana seseorang bertahan dalam situasi profesional mereka.

Tidak sedikit pekerja yang menyadari bahwa lingkungan kerja mereka tidak sehat, namun merasa terjebak karena sulitnya mencari peluang kerja baru di tengah ketidakpastian ekonomi. Situasi dilematis ini membuat sebagian orang merasa terperangkap dalam ketakutan ganda. “Jadi serba takut mau keluar, serba takut juga mau bertahan,” ujar Fredrick.