"Lobang Buaya" karya Hanung sasar anak muda agar tak lupa sejarah
Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Film berjudul "Lobang Buaya" karya sutradara Hanung Bramantyo menyasar anak muda agar tidak melupakan sejarah yang terjadi pada tahun 1965, sehingga mengajak mahasiswa Universitas Jember (Unej) untuk menonton spesial screening film tersebut di Kota Cinema Mall (KCM) Jember, Jawa Timur, Minggu.
"Film sejarah itu sepi penonton, sehingga saya mengangkat tema 1965 karena film sejarah belum banyak menarik perhatian penonton muda, padahal sebagian besar penonton bioskop saat ini berasal dari kalangan anak muda," kata Hanung di Jember.
Menurut dia, film dengan tema kehidupan anak muda mampu memperoleh jumlah penonton besar atau menjadi box office, namun sebaliknya, film yang mengangkat sejarah cenderung memiliki jumlah penonton sedikit, sehingga pihaknya ingin menggunakan medium film untuk memperkenalkan kembali sejarah kepada generasi muda.
“Anak muda jangan sampai melupakan sebuah tragedi besar di tahun 1965 karena peristiwa saat itu tidak semata-mata berkaitan dengan peristiwa penculikan dan pembunuhan sejumlah jenderal di Jakarta, namun ada peristiwa konflik politik dan ideologi juga terjadi di Jatim," tuturnya.
Baca juga: Film "Lobang Buaya" dijadwalkan ditayangkan mulai 1 Oktober 2026
Baca juga: Hanung Bramantyo sebut bikin film komedi tidak mudah
Suami Zaskia Adya Mecca itu mengatakan bahwa film tersebut berlatar waktu satu tahun sebelum peristiwa tragis tahun 1965, yang mencakup kejadian pembantaian massal dan kerusuhan di sebuah Desa Lobang Buaya.
"Film 'Lobang Buaya' itu berbicara tentang tahun 1965 terjadi sebuah tragedi nasional dan tentang para koruptor yang tergabung dalam 7 setan desa yang dianggap meresahkan masyarakat," katanya.
Ia menilai bahwa film tersebut bukan sebuah film horor yang bercerita tentang hantu, namun lebih tepat dengan film drama misteri investigasi yang menceritakan tujuh orang meninggal secara tidak wajar secara misterius, serta membawa isu sosial mengenai praktik yang merugikan masyarakat desa.
Istilah 7 Setan Desa menjadi salah satu pijakan cerita dalam film untuk menggambarkan kelompok-kelompok yang dianggap meresahkan masyarakat, termasuk birokrat koruptor, rentenir, dan pihak yang berkepentingan terhadap penguasaan sumber daya.
Baca juga: Hanung Bramantyo sebut pentingnya nilai universal di dalam film
Isu tersebut ditempatkan berdampingan dengan latar sejarah 1965 untuk menghubungkan persoalan masa lalu dengan persoalan sosial yang masih relevan dibicarakan saat ini karena dirinya membuat sebuah film untuk menyuarakan sebuah keadaan masyarakat terkait kondisi sosial, keagamaan, dan politik.
Film Lobang Buaya yang dibintangi Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Iskak Khivano, Anya Zen, dan Mathias Muchus akan tampil serentak di seluruh bioskop pada 1 Oktober 2026 bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila.
Antusiasme luar biasa mewarnai rangkaian kegiatan roadshow penayangan film terbaru karya sutradara ternama Indonesia, Hanung Bramantyo, di Kota Jember.
Bekerja sama dengan Universitas Jember (UNEJ), acara bertajuk “Mencari Dalangnya Duluan bareng Universitas Jember” itu sukses menyedot perhatian ratusan penonton dan mahasiswa yang memadati bioskop KCM Jember.
Usai pemutaran film, dilanjutkan sesi workshop perfilman eksklusif bersama Hanung Bramantyo yang dihadiri mahasiswa Unej dan berkesempatan berdiskusi langsung untuk membedah proses kreatif di balik penggarapan cerita, penulisan skenario, hingga dramaturgi sinematik.
Baca juga: Drama Descendants of the Sun akan diadaptasi jadi film di Indonesia
Baca juga: Hanung kagumi bangunan heritage Madiun rencanakan jadi lokasi syuting
Baca juga: Hanung harap film Kartini mampu menginspirasi para perempuan
Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.