Makan Buah Setiap Hari Belum Tentu Tepat, Ini Kata Ahli Gizi
Jakarta -
Buah dikenal menyehatkan, tetapi bolehkah dikonsumsi setiap hari? Ahli gizi mengungkap jawabannya bergantung pada porsi, pola makan, hingga gaya hidup. Berikut penjelasannya.
Konsumsi buah identik dengan pola makan sehat, tapi muncul pertanyaan terkait aturan makan buah setiap hari. Bagaimana efek dan dampaknya untuk tubuh?
Menanggapi tren tersebut, dokter sekaligus kreator konten edukasi gizi, dr. Dion Haryadi, memberikan penjelasan terkait konsumsi buah setiap hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui unggahan videonya di Instagram (02/10/2026), dr. Dion menyebut banyaknya pertanyaan serupa yang masuk ke kolom pesannya belakangan ini.
"Jawabannya bukan boleh atau tidak. Jawabannya itu selalu tergantung," tulis Dion Haryadi dalam unggahan video edukasinya di Instagram @DionHaryadi.
Raw vegetables and fruit thats good for gut heatlh microbiomePlate of many various greens and fruits Foto: Getty Images/knape
Ia menjelaskan, boleh tidaknya mengonsumsi buah setiap hari bergantung pada sejumlah faktor, di antaranya jumlah konsumsi, jenis buah yang dipilih, pola makan di luar konsumsi buah, gaya hidup secara umum, hingga tujuan di balik konsumsi buah itu sendiri.
Meski buah termasuk 'whole food' atau makanan utuh yang alami, kandungan kalori dan gula di dalamnya tetap perlu diperhitungkan agar konsumsi berlebihan tidak merugikan kesehatan.
Sebagai ilustrasi, dr. Dion mencontohkan kebiasaan makan pisang sepanjang hari sebagai pengganti camilan manis, mulai dari pagi, siang, sore, hingga malam.
Menurutnya, pola seperti itu membuat konsumsi buah menjadi berlebihan tanpa disadari.
Plate full of fruit being snatched up by four children. Foto: iStock
Sebaliknya, satu buah pisang yang dikonsumsi sebagai sumber energi sebelum berolahraga, atau sebagai camilan ringan ketika pola makan utama sudah mencukupi kebutuhan gizi, dinilai tidak menjadi masalah.
Ia pun menyoroti kecenderungan tren di media sosial yang kerap melabeli suatu makanan sebagai 'baik' atau 'buruk' secara mutlak, padahal menurutnya semua bergantung pada konteks.
"Buah itu bisa sangat membantu sebagai camilan sehat untuk menahan lapar, terutama buat yang mau jaga intake (asupan) kalorinya," ujarnya.
Ia mengaku tetap menyarankan pasiennya mengonsumsi buah, dengan memilih jenis yang kalorinya rendah namun volumenya besar sehingga porsi makan bisa lebih banyak tanpa menambah asupan kalori secara signifikan.
Menurut dr. Dion, perbaikan pola makan secara keseluruhan dan aktivitas fisik tetap menjadi kunci utama, bukan semata soal boleh atau tidaknya satu jenis makanan.
Untuk rekomendasi jenis buah yang paling disarankan, ahli gizi tersebut menyebut bahwa konsumsi buah yang sehat tak melulu soal jenis buah apa yang dimakan.
Melainkan perlu memperhatikan konteks hingga jumlah, dan kebiasaan makan secara keseluruhan.
(sob/sob)