kingsheadwye.com

Mau Tarik Turis dengan Toilet Mewah, Jepang Rela Gelontorkan Rp 11 Miliar

Takamatsu -

Jepang selalu punya cara untuk menarik turis dengan inovasi unik. Sebuah prefektur rela buang uang hanya untuk membangun toilet mewah.

Adalah Kota Takamatsu di Prefektur Kagawa, yang melihat peluang untuk mengubah toilet umum menjadi tempat wisata. Toilet mewah itu dibangun di luar Stasiun JR Kinashi, seperti dikutip dari Japan Today.

Toilet ini bukan sekadar fasilitas umum tapi juga instalasi seni yang indah. Pada siang hari, toilet tersebut tampak biasa saja kecuali karena baru. Namun di malam hari, toilet tersebut berubah menjadi tempat pertunjukan cahaya dengan tampilan proyeksi peta yang memukau disertai musik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebuah pertunjukkan cahaya diadakan dua kali setiap malam, dari pukul 19.15-20.00 waktu setempat dan pukul 20.20-21.00 waktu setempat. Sepasang sayap yang bersinar merah muda diproyeksikan pada dinding kaca pintu masuk toilet, diiringi musik piano. Sayap-sayap itu akhirnya berubah menjadi putih, meninggalkan bulu-bulu yang berserakan di akhir pertunjukan, seperti diberitakan Asahi Shimbun dikutip Kamis (20/8/2026).

Sebelumnya, bangunan itu memang toilet umum unisex yang menimbulkan keluhan dari warga. Memiliki jamban jongkok, kondisi toilet ini tadinya sangat jorok dan usang.

Pemerintah prefektur itu akhirnya sepakat untuk membangun toilet artistik ini pada bulan Maret dengan total hampir Yen 100 juta atau sekitar Rp 11 miliar. Toilet mewah ini dapat melayani 600 penumpang yang naik di stasiun setiap hari.

Bangunan baru tersebut kini memiliki toilet terpisah untuk pria, wanita, dan toilet serbaguna dengan fasilitas modern. Warga lokal begitu bangga dengan pembangunannya.

Selain menjadi landmark dan fasilitas umum, proyek ini juga bertujuan untuk membantu membina para kreator muda, dengan mendorong siswa lokal dan seniman pendatang baru untuk mengirimkan desain pemetaan proyeksi mereka sendiri, memberi mereka kesempatan langka untuk melihat karya mereka ditampilkan secara publik.

Meski demikian, kini warga mulai menyoroti anggaran pembangunan toilet itu. Sebagian penduduk berpendapat bahwa uang tersebut dapat digunakan dengan lebih baik di tempat lain, sementara yang lain mengatakan bahwa diskusi itu sendiri telah membantu menyoroti kota dan atraksinya.

Seperti proyek revitalisasi lainnya, pengembalian investasi membutuhkan waktu untuk melihat hasil. Warga harus menunggu dan melihat, apakah toilet mewah ini benar-benar berhasil menghidupkan pariwisata kota.

(bnl/bnl)