kingsheadwye.com

Memperingati Hari Tani, Agribis.id rilis fitur analisa harga pasar

Memperingati Hari Tani, Agribis.id rilis fitur analisa harga pasar

Kamis, 24 September 2026 17:10 WIB

Image Print

Hari Tani (AI)

Solo (ANTARA) - Memperingati Hari Tani Nasional yang jatuh pada hari ini, perusahaan pengembangan petani Agribis.id merilis fitur analisis harga pasar di aplikasi UsahaTani.

Fitur yang dapat diakses gratis ini dirancang untuk membantu petani membaca pergerakan harga komoditas sebelum memutuskan apa yang akan ditanam dan kapan menjualnya.

Harga komoditas hortikultura dikenal mudah bergejolak. Berdasarkan data yang ditampilkan dalam fitur tersebut, rata-rata harga cabai merah besar secara nasional sempat berada di kisaran Rp74.000/kg pada awal Juni 2026, lalu merosot ke sekitar Rp48.000/kg pada pertengahan Juli. Per 23 September 2026, harganya tercatat Rp56.394/kg.

Naik-turun harga seperti itu, menurut Founder dan Presiden Direktur Agribis.id Wawan Dinawan, seringkali baru dirasakan petani ketika panen sudah di depan mata.

"Banyak petani memutuskan menanam karena harga sedang bagus. Masalahnya, ketika semua orang berpikir sama, panen datang bersamaan dan harga jatuh. Petani perlu melihat polanya lebih awal, bukan sesudah terjadi," kata Wawan di Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan data harga pangan sebenarnya sudah tersedia di berbagai sumber publik. Namun, data itu umumnya tersebar dan disajikan dalam bentuk tabel angka yang sulit dibaca petani di tengah kesibukan di lahan.

"Datanya ada, tapi belum sampai ke petani dalam bentuk yang bisa langsung dipakai. Di situ peran kami, mengolah data publik supaya bisa dimanfaatkan, terutama oleh petani," ujarnya.

Melalui fitur yang berada di menu TaniPedia tersebut, pengguna dapat memantau harga terbaru berbagai komoditas, mulai dari beras, bawang merah, bawang putih, hingga cabai, berdasarkan rata-rata nasional. Pergerakan harga dapat ditelusuri dalam rentang 30 hari hingga beberapa tahun ke belakang, sehingga pola musiman lebih mudah dikenali.

Fitur ini juga menyajikan proyeksi harga untuk 14 hari ke depan. Wawan menekankan bahwa angka proyeksi itu bukan jaminan harga, sehingga aplikasi turut menampilkan rentang kemungkinannya.

"Kami tidak ingin menjanjikan harga. Yang kami berikan adalah gambaran, supaya petani bisa merencanakan usahataninya dengan lebih presisi dan mengambil keputusan berdasarkan data," tuturnya.

Wawan menilai perencanaan yang lebih baik di tingkat petani berkaitan erat dengan agenda swasembada pangan yang tengah didorong pemerintah. Ketika petani dapat mengatur waktu tanam dengan lebih cermat, pasokan di pasar diharapkan lebih stabil dan pendapatan petani lebih terjaga, sehingga petani tetap bergairah untuk berproduksi.

Meski demikian, ia mengakui teknologi saja tidak cukup. Karena itu, Agribis.id juga membekali para pendamping petani, seperti penyuluh pertanian dan pengurus koperasi, dengan dasbor untuk memantau perkembangan usahatani petani binaannya.

"Kami hadir untuk memperkuat penyuluh dan pendamping yang sudah bekerja di lapangan, bukan menggantikan mereka. Teknologi informasi hanya alat bantu. Yang membuat petani berkembang tetap pendampingan," katanya.

Bagi Wawan, Hari Tani Nasional menjadi momentum untuk memastikan kemajuan teknologi tidak hanya dinikmati segelintir pihak. "Setiap petani berhak mendapatkan informasi yang akurat, di mana pun mereka berada. Itu sebabnya fitur ini kami buka gratis," ucapnya.

Ke depan, Agribis.id berkomitmen terus menghadirkan layanan bagi petani dan para pendampingnya agar dapat memperoleh informasi yang bermanfaat dari data, baik data usahatani mereka sendiri maupun data publik. Perusahaan juga membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi, koperasi, serta mitra swasta untuk memperluas jangkauan program pengembangan petani.

Pewarta: Aris Wasita
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.