Menangkal disinformasi perbatasan: membedah tiga gagasan taktis Irjen Pol Andry Wibowo
Menangkal disinformasi perbatasan: membedah tiga gagasan taktis Irjen Pol Andry Wibowo
Jumat, 21 Agustus 2026 09:26 WIB
Inspektur Jenderal Polisi Dr. Andry Wibowo, SIK, MH, M.Si, Analis Kebijakan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri. ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi
Tanjungpinang (ANTARA) - Saya memang belum begitu mengenal dekat sosok Inspektur Jenderal Polisi Dr. Andry Wibowo, SIK, MH, M.Si, Analis Kebijakan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri ini. Namun, dalam beberapa hari terakhir, ruang tajuk dan diskusi kita dipenuhi oleh buah pikirannya yang menghentak publik. Sebuah gagasan visioner tentang betapa krusialnya sinergitas antara Polri dan pers dalam menjaga keamanan siber serta menangkal badai disinformasi di wilayah perbatasan.
Sejak saya mengundangnya sebagai narasumber untuk Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang ditaja Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) bekerja sama dengan UPN "Veteran" Yogyakarta di Tanjungpinang, sosoknya tidak lagi terasa asing. Ia seperti seorang sahabat lama yang membawa secercah cahaya bagi dunia literasi dan keamanan kita.
Ikatan emosional ini terasa kian lekat saat mengetahui bahwa jenderal bintang dua ini merupakan putra asli Yogyakarta, kelahiran 12 Juni 1971. Kehadirannya dalam agenda UKW besok seolah menjadi jembatan kultural yang indah, mempertemukan tanah kelahirannya dengan bumi gurindam tempat kami mengabdi.
Sejak awal berkomunikasi, rasa hormat saya langsung tumbuh. Di tengah jabatan mentereng dan pundak yang dihiasi bintang dua, Ia sama sekali tidak menunjukkan ego atau jarak. Tidak ada kesan angkuh yang sering kali melekat pada petinggi negeri saat berhadapan dengan seorang wartawan daerah. Ia mendengarkan dengan hati, berbicara dengan empati, dan menempatkan pers bukan sebagai objek, melainkan sebagai mitra strategis yang setara.
Belakangan saya baru menyadari bahwa ketulusan dan ketajaman berpikir ini dibentuk oleh tempaan pengalaman yang luar biasa. Jauh sebelum memikirkan kedaulatan digital dalam negeri, mantan Kapolres Bengkalis, Riau ini telah menguji nyalinya di panggung dunia.
Irjen Pol Andry Wibowo pernah tergabung menjadi anggota Kontingen Garuda XIV-12 di Bosnia Herzegovina. Tugas tersebut bukan lagi sekadar menjaga keamanan wilayah, melainkan sebuah misi suci membawa nama baik Indonesia sebagai juru damai di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pengalaman internasional di medan konflik ini membuka cakrawala baru yang membentang luas. Kemampuan bahasa asing yang mumpuni serta pemahaman mendalam tentang kepolisian global membawanya menimba ilmu ke berbagai penjuru dunia. Ia tercatat pernah menyerap ilmu dari COESPU dan FPU Brimob di Italia, HAKI di Australia, Intelijen di Kanada, hingga Community Policing (Perpolisian Masyarakat) di Jepang.
Kombinasi antara ketegasan lapangan dan wawasan global ini membuat Andry bertransformasi menjadi seorang diplomat berseragam yang disegani. Maka tidak heran, ia dipercaya mewakili Polri dalam Strategic Leadership Meeting untuk pengamanan Olimpiade Beijing.
Maka, ketika hari ini kita mendengar pemikiran beliau yang jenius tentang perbatasan, kita tahu gagasan itu lahir dari rahim pengalaman kelas dunia. Kesehariannya yang dekat dengan media pun sudah mengakar sejak lama.
"Saya mengenalnya sejak beliau masih berpangkat Letnan Satu, saat menjabat sebagai Kasat Reserse Polres Kupang, dan saya adalah wartawan yang bertugas di sana. Sifatnya tidak pernah berubah, selalu merangkul," kisah Richard Nainggolan, Wakil Ketua Umum KJK, menegaskan bahwa kerendahan hati sang jenderal adalah karakter asli yang konsisten.
Pemikiran Irjen Pol Andry Wibowo seolah membuka mata kita semua yang hidup di beranda terdepan NKRI seperti Kepulauan Riau. Di era digital, wilayah perbatasan bukan lagi sekadar batas geografis yang dijaga dengan senjata.
Perbatasan hari ini adalah ruang siber yang rentan disusupi oleh hoaks, disinformasi, dan propaganda asing yang berpotensi memecah belah bangsa. Di sinilah letak keindahan visi sang diplomat berseragam: keamanan siber tidak akan pernah tercapai secara absolut jika Polri berjalan sendiri tanpa merangkul pers.
Mantan Kabinda Yogyakarta ini, menawarkan tiga solusi taktis yang sangat konkret. Pertama, gagasan pembentukan Crisis Center dan Media Center Bersama sebagai pusat konfirmasi kilat antara Humas Polri dan jurnalis. Melalui sistem ini, verifikasi isu hoaks diselesaikan dalam hitungan menit sebelum informasi beracun terlanjur menyebar luas.
Kedua, inisiasi Joint Cyber Literacy Program, yaitu gerakan kolaboratif di mana Polri dan pers turun langsung ke desa-desa pelosok perbatasan untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya "jempol ceroboh" dan literasi hukum.
Ketiga, pembentukan Forum Komunikasi Kamtibmas Siber Berkala sebagai ruang rutin untuk memetakan tren disinformasi lokal, membedah isu geopolitik sensitif, serta deteksi dini konflik sosial.
Melihat sosok Irjen Pol Andry Wibowo, kita melihat harapan besar tentang bagaimana institusi Polri dan pers bisa berjalan beriringan dengan harmonis. Kehadirannya pada agenda UKW KJK yang akan digelar pada29 - 30 Agustus 2026 mendatang bukan lagi sekadar formalitas seorang pejabat.
Kehadirannya adalah hadirnya seorang pemikir, seorang kakak, dan seorang jenderal berwawasan global yang ingin memastikan bahwa wartawan di tapal batas memiliki kompetensi serta integritas tinggi untuk menjaga kedaulatan digital bangsa.
Kedekatannya yang tulus dan pemikirannya yang visioner adalah inspirasi nyata bahwa dedikasi tertinggi seorang abdi negara adalah ketika ia mampu menyentuh hati rakyatnya melalui kolaborasi dan aksi nyata.
"Dalam keadaan sesulit apapun, pemimpin harus berada bersama sama pengikutnya," tulis suami Aryati Marjuki ini.
Oleh Ady Indra Pawennari, Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.