kingsheadwye.com

Mendag Budi Santoso Ungkap Ancaman Perdagangan Dunia, Ajak BRICS Perkuat Kolaborasi

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:27 WIB

Jakarta, VIVA – Menteri Perdagangan (Mendag) RI Budi Santoso mengajak negara-negara anggota BRICS memperkuat kolaborasi untuk menghadapi perubahan lanskap perdagangan global yang semakin penuh ketidakpastian.

Baca Juga

Ajakan tersebut disampaikan Budi dalam Pertemuan Tingkat Menteri BRICS atau BRICS Trade Ministers' Meeting (TMM) yang berlangsung di Jaipur, India, Jumat, 7 Agustus 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Budi, kebutuhan negara-negara BRICS untuk memperkuat kerja sama semakin penting di tengah kondisi sistem perdagangan dunia berbasis aturan (rules-based trading system) yang dinilai semakin tergerus. Pada saat bersamaan, ekonomi global juga menghadapi fragmentasi yang semakin kuat.

Baca Juga

Budi mempertanyakan apakah negara-negara dunia akan merespons kondisi tersebut dengan membangun perlindungan yang semakin tinggi atau justru mencari cara baru untuk memperkuat kolaborasi.

"Pertanyaannya adalah apakah kita akan beradaptasi dengan membangun tembok yang lebih tinggi, atau justru menemukan cara baru untuk berkolaborasi. Indonesia menantikan kolaborasi dengan seluruh mitranya dengan mengedepankan keterbukaan, rasa percaya diri, dan komitmen yang solid dalam menjalin kemitraan," kata Budi melalui keterangan di Jakarta, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Baca Juga

Krisis Global Bikin Integrasi Ekonomi Rentan

Budi mengatakan berbagai krisis yang terjadi dalam dua dekade terakhir semakin menunjukkan kerentanan integrasi global. Krisis tersebut mencakup sektor finansial, kesehatan, energi hingga geopolitik.

Menurut dia, situasi global juga ditandai dengan langkah sejumlah negara besar yang mulai menggunakan integrasi ekonomi, tarif, infrastruktur finansial, serta rantai pasok sebagai alat tekanan.

Kondisi tersebut turut mendorong munculnya integrasi ekonomi yang semakin terpolarisasi. Di sisi lain, berbagai persoalan yang dihadapi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) hingga kini belum terselesaikan.

Situasi itu membuat banyak negara mengembangkan perlindungan strategis untuk mengamankan sejumlah kepentingan penting, termasuk energi, pangan, mineral kritis, dan rantai pasok.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Budi menilai langkah tersebut merupakan respons yang wajar dari negara-negara untuk melindungi kepentingannya. Namun, menurut dia, setiap negara tetap perlu memperhitungkan risiko yang muncul apabila dunia semakin terpecah.

"Kita harus tetap melihat risiko di balik itu. Dunia bisa menjadi semakin terpecah, rapuh, dan sulit menghadapi tantangan bersama," ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Indonesia Tetap Optimistis di Tengah Ketidakpastian