Menjaga Guru, Menjaga Fondasi Pendidikan Anak
Padang (ANTARA) - Ada pengalaman yang selalu membekas bagi saya setiap kali menjalankan tugas sebagai asesor BAN-PDM. Dalam visitasi ke berbagai lembaga pendidikan anak usia dini, saya berkesempatan melihat lebih dekat bagaimana pendidikan anak berlangsung dalam keseharian. Saya melihat anak-anak datang ke sekolah dengan semangat yang luar biasa, sekaligus menyaksikan kepala sekolah dan guru yang terus berupaya memberikan yang terbaik bagi anak-anak, meskipun tidak semua lembaga memiliki kondisi yang ideal.
Di balik suasana belajar yang sederhana itu, saya menemukan semangat pengabdian yang kuat. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga mendampingi dan mengasuh anak, memahami karakter serta kebutuhan masing-masing, membangun komunikasi dengan orang tua, menyiapkan pembelajaran, dan mengelola berbagai kebutuhan lembaga. Dalam keseharian, mereka juga menjadi sosok yang membantu anak merasa aman, nyaman, didengar, dan diterima ketika berada jauh dari keluarganya. Namun, ada satu kenyataan yang berulang kali membuat saya prihatin: kesejahteraan sebagian guru PAUD belum sebanding dengan tanggung jawab yang mereka emban, bahkan penghasilan yang diterima masih jauh di bawah upah minimum di daerahnya.
Sebagai akademisi yang menekuni komunikasi pendidikan dan keluarga, pengalaman tersebut membuat saya melihat persoalan ini lebih jauh daripada sekadar persoalan honorarium. Pendidikan anak usia dini merupakan bagian penting dari ekosistem pendidikan dan keluarga. Di fase inilah anak mulai membangun kemampuan berkomunikasi, mengenali emosi, belajar berinteraksi dengan orang lain, mengembangkan kemandirian, dan memperoleh pengalaman pendidikan di luar lingkungan keluarga.
Karena itu, guru PAUD bukan sekadar orang yang menemani anak bermain sebelum memasuki jenjang pendidikan berikutnya. Guru adalah bagian penting dari proses komunikasi dan pengasuhan anak. Melalui interaksi sehari-hari, guru membantu anak mengenal dirinya, memahami lingkungan, belajar menyampaikan kebutuhan, mengelola emosi, dan membangun hubungan dengan orang lain. Pada saat yang sama, guru juga menjadi jembatan komunikasi antara satuan pendidikan dan keluarga.
Di sinilah saya melihat sebuah ironi. Kita berharap guru mampu menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak, sementara sebagian dari mereka sendiri belum memperoleh rasa aman dalam kehidupan ekonominya. Kita meminta guru terus meningkatkan kompetensi, kreatif dalam pembelajaran, mampu mengasuh anak dengan baik, dan membangun komunikasi yang positif dengan orang tua, tetapi kesejahteraan yang mereka terima belum selalu memberikan ruang yang cukup untuk tumbuh sebagai seorang profesional.
Ketulusan Bukan Pengganti Kesejahteraan
Saya bertemu dengan guru-guru yang tetap bertahan karena mencintai pekerjaannya. Mereka mengajar karena merasa memiliki tanggung jawab terhadap anak-anak dan lingkungan sekitarnya. Ada pula kepala sekolah yang mempertahankan lembaganya dengan segala keterbatasan karena meyakini bahwa anak-anak di wilayah tersebut tetap membutuhkan tempat belajar dan pengasuhan yang baik.
Semangat seperti ini tentu patut dihargai. Bahkan, dalam banyak situasi, pendidikan anak usia dini dapat terus berjalan karena ada orang-orang yang bersedia memberikan waktu, tenaga, pikiran, dan ilmunya dengan penuh keikhlasan. Namun, kita perlu berhati-hati ketika keikhlasan menjadi alasan untuk membenarkan rendahnya kesejahteraan. Keikhlasan adalah nilai dalam pengabdian, tetapi tidak semestinya menjadi pengganti kesejahteraan.
Guru juga memiliki keluarga dan kebutuhan hidup. Mereka membutuhkan biaya untuk transportasi, makanan, kesehatan, pendidikan anak, tempat tinggal, dan kebutuhan lainnya. Karena itu, mengharapkan guru bekerja dengan penuh dedikasi tentu harus berjalan bersama dengan upaya memastikan mereka memperoleh kehidupan yang layak.
Persoalannya bukan apakah guru PAUD ikhlas atau tidak. Persoalannya adalah apakah sistem pendidikan kita sudah memberikan penghargaan yang layak terhadap pengabdian mereka. Jangan sampai kata “ikhlas” justru menjadi bahasa yang membuat kita lupa bahwa di balik seorang guru ada manusia dengan kebutuhan hidup dan keluarga yang juga harus diperhatikan.
Pendidikan Anak Tidak Berhenti di Sekolah
Jika dilihat dari perspektif komunikasi keluarga, pendidikan anak usia dini juga tidak dapat dipisahkan dari kehidupan keluarga. Anak belajar melalui interaksi yang berlangsung terus-menerus, baik di rumah maupun di sekolah. Hubungan antara guru dan orang tua menjadi bagian penting dalam memahami perkembangan anak dan memberikan pendampingan yang konsisten.
Orang tua berharap guru memahami anak mereka dengan baik. Guru juga membutuhkan dukungan orang tua agar proses pendidikan dan pengasuhan dapat berlangsung secara optimal. Komunikasi antara keduanya bukan sekadar penyampaian informasi tentang kegiatan sekolah, melainkan proses membangun kesepahaman mengenai kebutuhan, perkembangan, dan pengalaman anak.
Dalam konteks ini, guru PAUD menjalankan peran yang cukup kompleks. Mereka mendidik, mengasuh, berkomunikasi, mengamati perkembangan anak, sekaligus menjadi mitra keluarga dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Karena itu, kesejahteraan guru pada akhirnya juga berkaitan dengan kualitas ekosistem komunikasi pendidikan dan keluarga.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kesejahteraan secara otomatis menentukan kualitas seorang guru. Banyak guru yang tetap menunjukkan dedikasi luar biasa dalam kondisi yang terbatas. Justru karena itulah kita perlu bertanya: mengapa orang-orang yang memiliki tanggung jawab besar terhadap masa depan anak masih harus terus bekerja dengan keterbatasan yang sama?
Jangan Romantisasi Pengabdian
Ada kecenderungan di masyarakat untuk mengagumi guru yang tetap mengajar meskipun mendapatkan penghasilan yang sangat terbatas. Kita memuji mereka sebagai sosok yang luar biasa, penuh pengabdian, dan tidak mengenal lelah. Penghargaan semacam itu tentu baik, tetapi jangan sampai tanpa sadar kita meromantisasi keterbatasan.
Guru yang mampu bertahan dalam kondisi sulit memang patut diapresiasi. Namun, sistem pendidikan tidak seharusnya menjadikan kemampuan guru untuk bertahan sebagai ukuran keberhasilan. Keberhasilan pendidikan justru semestinya terlihat ketika guru dapat menjalankan profesinya dengan baik tanpa harus terus-menerus mengorbankan kebutuhan hidup keluarganya.
Kita perlu mengubah cara memandang guru PAUD. Mereka bukan tenaga pendidikan yang sekadar mengisi waktu anak sebelum masuk sekolah dasar. Mereka adalah pendidik sekaligus pengasuh yang berada pada fase penting perkembangan manusia, ketika fondasi kemampuan sosial, emosional, bahasa, kognitif, komunikasi, dan kemandirian anak mulai dibangun.
Jika kita menginginkan pendidikan anak usia dini yang berkualitas, perhatian kepada guru harus menjadi bagian dari pembicaraan tentang kualitas tersebut. Peningkatan kompetensi, dukungan kelembagaan, pengembangan profesional, dan kesejahteraan pendidik seharusnya dipandang sebagai satu kesatuan.
Menjaga Guru, Menjaga Anak
Pengalaman saya sebagai asesor merupakan bagian dari pengabdian yang memberi kesempatan untuk melihat pendidikan tidak hanya dari dokumen dan kebijakan, tetapi dari wajah manusia yang menjalankannya. Di berbagai lembaga PAUD, saya melihat keterbatasan yang sering kali ditutupi oleh kreativitas, kesabaran, dan semangat para guru.
Namun, kita tidak boleh selamanya mengandalkan kemampuan guru untuk beradaptasi dengan keterbatasan. Kita perlu membangun ekosistem yang memungkinkan mereka bekerja secara profesional dan hidup secara layak. Pemerintah, pemerintah daerah, penyelenggara pendidikan, masyarakat, dan keluarga memiliki tanggung jawab masing-masing dalam mewujudkan hal tersebut.
Pada akhirnya, kesejahteraan guru PAUD bukan hanya persoalan guru. Ia menyentuh kepentingan keluarga dan masa depan anak. Ketika kita memperkuat guru, kita sesungguhnya sedang memperkuat lingkungan tempat anak belajar, diasuh, berkomunikasi, dan bertumbuh.
Anak-anak yang saya temui dalam berbagai visitasi datang ke sekolah dengan semangat yang mungkin sederhana: ingin bermain, belajar, bertemu teman, dan menemukan sesuatu yang baru. Di hadapan mereka ada guru-guru yang dengan sabar mendidik dan mengasuh, membantu mereka mengenal dunia, sekaligus memberikan rasa aman selama berada di lingkungan sekolah. Mereka mungkin belum memahami berapa besar penghasilan gurunya, tetapi mereka merasakan perhatian, kesabaran, dan kehadiran gurunya setiap hari.
Karena itu, sudah saatnya kita melihat kesejahteraan guru PAUD bukan sebagai persoalan tambahan dalam agenda pendidikan, melainkan bagian dari upaya menjaga kualitas pendidikan anak. Kita tidak hanya perlu bertanya apakah anak-anak kita mendapatkan pendidikan dan pengasuhan yang baik, tetapi juga apakah orang-orang yang mendidik dan mengasuh mereka telah mendapatkan kehidupan yang layak.
Sebab menjaga pendidikan anak usia dini berarti bukan hanya menjaga ruang kelas, kurikulum, dan fasilitasnya. Menjaga pendidikan anak usia dini juga berarti menjaga guru yang setiap hari meletakkan fondasi pertama bagi tumbuh kembang anak-anak kita.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Andalas, Asesor BAN PDM
Oleh Dr. Ernita Arif, M.Si
COPYRIGHT © ANTARA 2026