Menko PMK: BPOM berperan besar tingkatkan umur harapan hidup sehat RI - ANTARA News Gorontalo
Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno mengatakan pihaknya siap berkoordinasi untuk memperkuat peran dan upaya Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam meningkatkan umur harapan hidup sehat Indonesia sekaligus perekonomian nasional.
Pratikno di Jakarta, Senin, mengatakan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) usia harapan hidup atau life expectancy Indonesia sudah naik luar biasa, dan saat ini mencapai 77 tahun, naik dari 75,6 tahun pada 2020. Namun demikian, tantangannya adalah mempersempit kesenjangan antara usia harapan hidup dan umur harapan hidup sehat.
"Jadi Healthy Life Expectancy (Hale) ini pekerjaan rumah (PR) kita yang berat, jangan sampai nanti harapan hidup panjang, tetapi tidak aktif dan tidak sehatnya juga panjang," katanya.
Berdasarkan data 2021 WHO Global Estimates, saat itu angka harapan hidup 68,3 tahun, sementara Hale 60,7 tahun. Ada selisih 7,6 tahun antara keduanya, sehingga kebijakan perlu diarahkan untuk memperpanjang usia sehat, aktif, dan produktif.
Dia menjelaskan hidup yang panjang, tapi tidak aktif, tidak sehat, akan membebani diri sendiri, keluarga, bahkan negara. Oleh karena itu, perlu ada kolaborasi untuk dapat meningkatkan Hale Indonesia.
Menko PMK menyebutkan angka Hale berkaitan dengan konsumsi obat dan makanan, dua hal yang menjadi ranah pengawasan BPOM. Dia menceritakan bahwa saat dia kecil, dia makan buah-buahan.
"Saya masih suka sekali kalau pulang kampung itu cari kedondong, kemudian dijepit di pintu, kemudian belut dan seterusnya. Apakah makanan kita kurang? Makanan kita mungkin kurang, tetapi makanan kita sehat," katanya.
Dahulu, katanya, tidak ada jajanan, seperti cimol atau cireng. Kalau ingin yang manis-manis, tidak ada gula, sehingga memakai tebu. Memakan belut juga tidak dengan minyak.
Kemudian, katanya, dahulu tidak ada gawai, sehingga anak-anak aktif bergerak saat bermain, misalnya gobak sodor. Tidak ada juga botol plastik, sehingga tidak ada risiko mikroplastik.
"Tidak ada masalah gula, garam, lemak yang sekarang ini kita awasi, tidak ada masalah itu. Poin saya adalah keberadaan itu seringkali justru menimbulkan masalah, harus diawasi," katanya.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan pertumbuhan ekonomi membuahkan tantangan baru berat bagi BPOM dalam memastikan masyarakat tetap sehat melalui pengawasan obat dan makanan dari hulu ke hilir.
"Obat dan makanan itu juga harus berkontribusi terhadap perekonomian bangsa," katanya.
Dia menyebutkan bahwa impor bahan baku obat masih sebesar 94 persen. Kemudian, impor alat kesehatan nasional juga sebesar sekitar 80 persen.
"Kan obat itu konsumsi sektor kesehatan, kan terus menaik jauh lebih tinggi daripada kenaikan gross domestic product (GDP), begitu ya. Jadi semakin naik GDP, semakin naik lebih cepat kenaikan belanja kesehatan. Tetapi, kemana uang itu pergi?," katanya.
Tugas berat BPOM, katanya, juga menjamin aset ekonomi yang begitu besar, serta biodiversitas yang begitu kaya, dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat, seperti melalui pengembangan fitofarmaka.
Dia mengatakan pihaknya siap mendukung BPOM dalam meningkatkan umur harapan hidup sehat sekaligus mendorong pembangunan ekonomi nasional melalui penguatan industri obat dan makanan dalam negeri.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menko PMK: BPOM berperan besar tingkatkan umur harapan hidup sehat RI
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.