MenPPPA: Mengetahui hasil CKG bagian dari hak tumbuh kembang anak
Jakarta (ANTARA) - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi mengatakan penting bagi anak dan orang tuanya untuk mengetahui hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG), karena hal itu menyangkut hak anak untuk hidup, tumbuh, dan berkembang dalam keadaan sehat.
Arifah dalam Seminar Tindak Lanjut Cek Kesehatan Gratis (CKG) Anak di Jakarta, Kamis, mengatakan hal tersebut merespons sejumlah anak yang mengaku tidak diberi tahu hasil pemeriksaannya, serta sejumlah rekomendasi tentang peningkatan CKG.
"Tadi kita lihat bahwa data setelah diperiksa, anak bahkan orang tua tidak mendapatkan informasinya. Jadi data ini bukan hanya data mati yang ada di komputer tapi bagaimana data ini kemudian disampaikan kepada orang tua khususnya sehingga orang tua tahu. 'Oh ternyata anak saya seperti ini' kemudian ada edukasi dan lain sebagainya," katanya.
Oleh karena itu, Arifah mengapresiasi diskusi tentang tindak lanjut CKG anak. Sejumlah rekomendasi yang diberikan dalam diskusi antara lain melibatkan dan memenuhi hak anak atas informasi mengenai hasil pemeriksaan CKG, memastikan proses pemeriksaan yang ramah anak, memastikan kerahasiaan informasi kesehatan anak utamanya terkait isu sensitif seperti status HIV.
Seorang siswa kelas 8 SMP, Hasbi, menceritakan pengalamannya ikut CKG. Saat belajar, kelasnya didatangi Palang Merah Remaja (PMR), yang membagikan formulir untuk CKG.
"Mereka ngasih form buat kita ngisi daftar buat CKG, setelah daftar kita nunggu lumayan lama buat orang yang periksa itu datang ke sekolah. Kita di sana periksa tinggi badan, berat badan, sama di tekanan darah dan pengambilan darah buat tes HB, dan itu tidak dikasih tahu hasilnya apa saja," kata Hasbi.
Baca juga: Menteri Arifah: Cek Kesehatan Gratis komitmen penuhi hak anak
Merespons hal tersebut, Arifah menyebut perlu kolaborasi hingga ke tingkat desa untuk memastikan bahwa rekomendasi-rekomendasi tersebut dapat ditindaklanjuti secara menyeluruh.
Pihaknya memiliki Ruang Bersama Indonesia di mana para pemangku kepentingan diajak untuk berdiskusi dan berkolaborasi untuk menyelesaikan persoalan-persoalan terkait, misalnya stunting dan kecanduan gawai. Melalui wadah ini, katanya, upaya untuk mengedukasi anak dan orang tua tentang kesehatan bisa diperluas.
Dia menilai edukasi kesehatan anak penting diberikan ke orang tua. Arifah mencontohkan, ada kasus anak berusia 8 tahun yang harus menjalani cuci darah dan menyebut pola konsumsi makanan instan sebagai salah satu hal yang perlu diperhatikan.
"Ibunya juga kayaknya tidak mau repot, jadi memberikan makanan-makanan seperti itu," katanya.
Menurut dia, upaya meningkatkan kesehatan dan mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak dimulai dari keluarga. Ketika keluarga memiliki pemahaman yang utuh tentang pencegahan kekerasan dan peningkatan status kesehatan, maka kedua tantangan tersebut dapat diatasi, dan tumbuh kembang anak lebih baik.
Baca juga: Kemenkes lakukan evaluasi harian untuk perbaiki kualitas CKG
Terkait lamanya waktu tunggu untuk CKG, pihaknya menawarkan solusi yakni dengan mengisi waktu tunggu dengan permainan tradisional berbasis kearifan lokal.
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.