kingsheadwye.com

Menteri Transmigrasi ke Azka: "Zero poverty", belajarlah dengan rendah hati di Amsterdam - ANTARA News Ambon, Maluku

Ternate (ANTARA) - Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara meminta penerima Beasiswa Garuda LPDP Azka Abdul Malik Albayroni mempelajari konsep transmigrasi dan perencanaan wilayah selama menempuh studi di Belanda sebagai bekal mendukung pembangunan Indonesia.

Iftitah di Gedung Makarti, Kalibata, Jakarta, Kamis (24/7), mengatakan Azka yang akan menempuh studi Human Geography and Planning di University of Amsterdam diharapkan mampu membawa pulang ilmu dan solusi bagi pembangunan kewilayahan di Indonesia.

"Belajarlah dengan teknik dan penuh kerendahan hati. Pelajari tentang Transmigrasi selama di sana. Saya yakin Azka akan membuat ilmu yang berguna untuk masa depan yang lebih baik: Zero Poverty," tulis Menteri dalam pesan khusus untuk Azka.

Azka merupakan siswa SMA Pradita Dirgantara yang mengantongi 30 letter of acceptance (LoA) dari berbagai universitas dunia.

Ia memilih University of Amsterdam karena ingin ilmu yang diperolehnya dapat menjawab berbagai persoalan pembangunan di Indonesia.

"Azka, sebelum belajar tentang ruang dan manusia di Belanda, ubah pola pikirmu. Jangan jadi kuda pacuan yang berlari tanpa arah. Jadilah kuda perang. Tahu kapan maju, kapan mundur," ujar Iftitah.

Menurut dia, Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau dengan karakteristik dan potensi yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan pembangunan yang sesuai dengan kondisi masing-masing daerah.

Ia mengatakan konsep Transmigrasi Patriot tidak sekadar memindahkan penduduk, tetapi membangun kawasan secara terpadu melalui penyediaan permukiman, pengembangan usaha, hingga pemasaran hasil produksi.

"Jika hanya diberi rumah dan ladang, setelah panen mau ke mana? Pembangunan harus sesuai karakter daerah. Kamu harus mempelajari pendekatan itu di Belanda. Itu yang harus kamu pahami dalam perencanaan wilayah," ujarnya.

Iftitah juga mendorong pengembangan Kampus Patriot di kawasan transmigrasi untuk mempercepat transfer ilmu pengetahuan dan teknologi ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Selain itu, ia meminta Azka mempelajari sejarah transmigrasi Indonesia, termasuk program kolonisasi yang dimulai pada 1905 di Gedong Tataan, Lampung, sebagai bahan memahami perkembangan pembangunan kewilayahan.

Sementara itu, Azka mengatakan ingin memanfaatkan kesempatan belajar di Belanda untuk memperdalam ilmu perencanaan wilayah agar dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan Indonesia.

"Saya tidak ingin kembali hanya membawa gelar, tetapi solusi nyata. Ini bekal berharga saat saya mempelajari perencanaan kota dan wilayah di Belanda," katanya.

Rachma Fitriati, dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) sekaligus ibu Azka, mengapresiasi kesediaan Menteri Transmigrasi meluangkan waktu berdiskusi dengan putranya.

"Pejabat negara memberi arah, bukan sekadar izin. Pemimpin membimbing, bukan sekadar memerintah," katanya.

​​​​​​​Rachma mengatakan pengalamannya memimpin Tim Ekspedisi Patriot UI di Pulau Morotai, Maluku Utara, pada 2025 semakin menguatkan keyakinannya bahwa pembangunan kewilayahan menjadi kunci kemajuan Indonesia.

Tim tersebut meraih Mandaya Awards 2025 kategori Penggerak Pembangunan Daerah Terpencil, Patriot Pemberdayaan Masyarakat dari Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat.

Ia menuturkan Kabupaten Morotai kini menjadi salah satu wilayah prioritas pembangunan 100 gudang beras BULOG di kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2026 tentang Percepatan Penyediaan Infrastruktur Pascapanen.

"Morotai mengajarkan bahwa kehadiran negara di daerah terpencil sangat menentukan," ujarnya.

Menurut Rachma, pengalaman tersebut mendorongnya mendukung Azka mendalami Human Geography and Planning di University of Amsterdam agar mampu memahami hubungan antara manusia, ruang, dan kebijakan serta berkontribusi dalam pembangunan kewilayahan, termasuk pengembangan Transmigrasi Patriot.

Menteri kemudian menutup pertemuan dengan doa.
"Selamat belajar. Tuhan bersama Azka," kata Iftitah.

Pewarta: Abdul Fatah
Editor : Luqman Hakim

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.