kingsheadwye.com

Menyoal Coral Reef Aorta, Kondisi yang Bikin Tensi Bocah Umur 12 Tembus 225/158

Daftar Isi

Jakarta -

Sebuah kasus medis langka dari China mendadak jadi sorotan. Seorang bocah perempuan berusia 12 tahun dilarikan ke rumah sakit, usai mengeluhkan pusing dan sakit kepala hebat selama lima bulan.

Saat diperiksa, tekanan darah sang bocah melonjak ekstrem hingga mencapai 225/158 mmHg. Setelah melalui penelusuran medis mendalam, tim dokter menemukan penyebab tak biasa di balik hipertensi tersebut.

Dokter mendiagnosisnya dengan kondisi coral reef aorta atau aorta terumbu karang. Sebenarnya kondisi apa itu?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi Apa Itu?

Dikutip dari laporan yang dipublikasikan Journal of Medical Case Reports, coral reef aorta adalah kondisi vaskular amat langka. Terjadi penumpukan plak kalsium yang keras dan kasar di dalam dinding pembuluh darah utama (aorta).

Bentuk endapan yang bertumpuk tak beraturan menyerupai terumbu karang inilah yang menjadi asal-usul penamaannya.

Penumpukan plak batu ini menyebabkan penyempitan parah pada pembuluh darah utama, sehingga menyumbat pasokan darah ke organ-organ vital seperti ginjal dan usus. Saat aliran darah ke ginjal terhambat, tubuh merespons dengan memicu lonjakan tekanan darah drastis (hipertensi renovaskular).

"Kasus coral reef aorta pada anak-anak tergolong sangat jarang di seluruh dunia. Kondisi ini umumnya lebih banyak ditemukan pada orang dewasa yang memiliki faktor risiko seperti kolesterol tinggi, diabetes, hingga kebiasaan merokok," terang tim dokter dari The First Affiliated Hospital of Xinjiang Medical University.

Pemicu dan Tantangan Diagnosis

Uniknya, pasien anak berusia 12 tahun ini tidak memiliki riwayat gaya hidup buruk, diabetes, maupun kelainan genetik. Tetapi, pemeriksaan medis menemukan adanya infeksi tuberkulosis (TBC) paru aktif, yang diduga memicu reaksi peradangan sistemik di dalam pembuluh darahnya.

Kondisi coral reef aorta juga kerap memicu salah diagnosis, karena gejalanya menyerupai peradangan pembuluh darah biasa (polyarteritis nodosa). Pengobatan obat penurun tekanan darah biasa pun kerap gagal bekerja, jika penyempitan utamanya belum ditangani.

Diagnosis baru menjadi jelas setelah dilakukan pemeriksaan CT scan pada seluruh bagian aorta. Dari pemindaian tersebut, terlihat jelas adanya kalsifikasi keras serta penyempitan pada arteri ginjal.

(sao/kna)