Merajut mandiri di Tanah Nikel: Dari perahu ke palka kargo
Merajut mandiri di Tanah Nikel: Dari perahu ke palka kargo
Minggu, 30 Agustus 2026 19:37 WIB
Pekerja beraktivitas di area pelabuhan kawasan industri berbasis nikel Indonesia Morowali Industrial Park atau PT IMIP di Kecamatan Bahodopi, Sulawesi Tengah. (ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi)
Morowali, Sulawesi Tengah (ANTARA) - Panggilan di tengah samudera
Satu dekade lalu, gulungan ombak di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara, terhampar luas di hadapan Yayan Saputra (30). Hari itu, pertengahan 2016, ia sedang berada di tengah laut lepas, memeras keringat mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
Bagi anak muda lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) asal Menui Kepulauan, Sulawesi Tengah ini, laut adalah tempatnya mencari penghidupan.
Sebelum sampai ke Wakatobi, Yayan sudah lebih dulu merantau ke Maluku bersama dua orang kakaknya. Bekerja sebagai nelayan, hidupnya nomaden, berpindah mengikuti ke mana angin dan pekerjaan membawanya.
Di tengah lautan yang berjarak ratusan kilometer dari kampung halamannya itu, sebuah panggilan telepon tiba-tiba masuk. Di seberang sambungan, seorang kerabat menyampaikan pesan singkat yang kelak membelokkan kemudi hidupnya:
"Kembali ke rumah. Ada perusahaan yang mau buka di Morowali. Jadi security," kata suara di telepon tersebut.
Kalimat pendek itu memicu pergulatan batin. Di satu sisi, ia adalah anak kepulauan yang sudah terbiasa dengan kerasnya ombak. Namun di sisi lain, bayang-bayang masa depan sebagai nelayan yang tak menentu terus mengusiknya.
"Kalau hanya begini terus sampai tua, mungkin akan begini terus. Jadi saya harus bagaimana? Saya harus mencoba," ujar Yayan, mengenang keputusan besar yang diambilnya sepuluh tahun lalu.
Yayan tidak pernah menyangka satu panggilan telepon itu akan mengubah arah perjalanannya secara drastis. Ia meninggalkan pekerjaannya di laut, bertekad mencoba peruntungan di tanah kelahirannya sendiri.
Tanpa kemewahan tiket kapal penumpang apalagi pesawat, Yayan menaiki kapal laut yang bersedia membawanya. Sepuluh hari lamanya ia mengarungi lautan dari Wakatobi, sebelum kapal itu merapat di kampung halamannya, Menui Kepulauan.
Dari gugusan pulau Menui itu, Yayan melanjutkan menyeberang lautan menuju pesisir daratan utama Kabupaten Morowali, Bahodopi.
Pada 2016 itu, anak kepulauan berusia 20 tahun yang lebih akrab dengan aroma garam laut daripada kawasan industri ini datang dengan harapan sederhana: mendapatkan pekerjaan.
Ia datang tanpa pengalaman panjang bekerja di perusahaan, apalagi keterampilan khusus atau ijazah tinggi. Yayan hanya membawa berkas lamaran, melangkah menuju wilayah yang bagi dirinya masih terasa sangat asing.
Di Bahodopi, ia mendaftarkan diri untuk menjadi petugas keamanan atau security.
Titik balik di Tanah Nikel
Bahodopi pada 2016 bukanlah Bahodopi yang dipenuhi pertokoan dan padat kendaraan seperti hari ini. Kawasan itu masih berupa lanskap pesisir yang sunyi. Rumah penduduk masih jarang, sebagian besar wilayah ditutupi hutan tropis lebat, dan aktivitas industri baru terlihat dari deretan rusun pekerja serta pemancangan tiang awal pabrik.
Di kawasan ini, PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), yang resmi beroperasi pada Mei 2015, baru menancapkan fondasi utamanya dan masih dalam tahap konstruksi awal pengolahan nikel (smelter) pertama.
Sebelum kehadiran industri pengolahan nikel, mayoritas warga Bahodopi menggantungkan hidup dari sektor primer, seperti bertani, berkebun cengkeh atau cokelat, serta melaut. Struktur ekonomi daerah berjalan lambat dengan pilihan pekerjaan terbatas, terutama bagi anak muda lulusan sekolah menengah.
Namun potensi besar yang tersimpan di perut bumi Morowali memanggil perubahan sejarah. Indonesia diketahui memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Berdasarkan laporan United States Geological Survey (USGS), Indonesia menguasai sekitar 55 juta metrik ton cadangan logam nikel, atau hampir 40 persen dari total cadangan nikel global yang diperkirakan mencapai 140 juta metrik ton. Kabupaten Morowali berada di episentrum cadangan raksasa tersebut.
Ketika IMIP mulai membangun kawasan industri terintegrasi untuk mengolah bijih nikel menjadi bahan baku bernilai tambah tinggi, magnet perubahan sosial-ekonomi mulai terpancar kuat dari Bahodopi. Yayan adalah satu dari ribuan anak muda yang tersedot oleh magnet tersebut.
Di tengah pusaran proyek raksasa itulah, Yayan yang baru tiba harus berhadapan dengan realitas yang dingin. Setelah memasukkan berkas lamaran, ia dipaksa menunggu tanpa kepastian.
Tiga bulan lamanya Yayan menumpang di kos sempit milik kawan sekampungnya. Tanpa pekerjaan dan penghasilan tetap, tabungan tipis hasil melautnya perlahan ludas, hari-harinya diisi kecemasan menatap ponsel yang tak kunjung berdering, hingga ia sempat mengemas pakaian dan berniat pulang ke Menui.
Tiba suatu hari, ketika harapannya hampir padam, teleponnya berbunyi, panggilan untuk mengikuti tes wawancara. Namun takdir seperti mengujinya sekali lagi: dompet Yayan benar-benar kosong, tak ada uang sepeser pun untuk membeli bensin motornya. Beruntung, seorang kawan kos meminjamkannya selembar uang Rp20 ribu.
Dengan bahan bakar seadanya, Yayan melaju menembus debu jalanan Bahodopi menuju lokasi wawancara. Naas, dalam perjalanan pulang di tengah terik siang, sepeda motornya tiba-tiba mati total. Tanpa uang untuk membayar bengkel, Yayan terpaksa mendorong motornya dan meminta bantuan kepada seorang yang berbaik hati membantunya.
Sekitar dua minggu kemudian, dering telepon yang paling dinantikannya akhirnya terdengar, panggilan untuk menjalani pemeriksaan kesehatan (medical check-up/MCU). Yayan dinyatakan lolos, dilanjutkan pelatihan kesamaptaan selama dua pekan, sebelum ditempatkan di mes pekerja sebagai petugas security.
Awalnya, profesi baru ini sempat memercikkan gengsi dalam benaknya.
"Waktu pertama kali ditelpon, saya agak gengsi. Saya pikir security itu pakai Pakaian Dinas Harian (PDH) seperti di bank, pakai seragam rapi. Ternyata di sini pakai Pakaian Dinas Lapangan (PDL) karena bekerja langsung di lapangan," ungkap Yayan terkekeh.
Namun gengsi itu runtuh seketika saat Yayan menggenggam amplop gaji pertamanya yang menyentuh angka Rp3 juta. Bagi mantan nelayan yang terbiasa digantungkan pada musim dan gelombang, angka itu terasa amat berharga karena untuk pertama kalinya ia merasakan ritme kerja industri, dari kepastian waktu, tanggung jawab jelas, dan upah layak yang selalu menyapa di setiap akhir bulan.
Menakar untung di luar pagar
Bertahun-tahun bertugas mengamankan pos-pos di dalam kawasan industri membuat mata Yayan terbuka lebar. Ia melihat langsung bagaimana Bahodopi berubah dari hari ke hari, seiring pekerja baru berdatangan dari berbagai penjuru: putra daerah Sulawesi Tengah, perantau dari Sulawesi Selatan, Jawa, Sumatera, hingga Nusa Tenggara.
Kedatangan puluhan ribu manusia ke satu kecamatan menciptakan kebutuhan hidup yang masif seperti tempat tinggal, makanan, air bersih, jasa cuci pakaian, hingga transportasi. Yayan menyadari peluang sejahtera tidak hanya ada di dalam pagar pabrik, tetapi juga bertebaran di luarnya.
Peluang itu dihampirinya pada 2021, ketika Yayan menerima dana kompensasi atas pembebasan lahan bagi warga desa di Bahodopi sebesar Rp125 juta. Yayan menginvestasikannya ke sektor real estat lokal dengan membangun lima unit kamar kos sederhana di Lorong Pelangi, Kecamatan Bahodopi, yang diberinya nama Kos A3.
Keputusannya terbukti tepat. Lima kamar kos itu langsung terisi penuh sejak hari pertama, dengan tarif sewa Rp1,1 juta per kamar setiap bulan. Dari usaha ini, Yayan mengantongi pendapatan kotor Rp5,5 juta per bulan setelah dipotong biaya perawatan, listrik, dan air, pendapatan bersihnya berkisar Rp5 juta per bulan yang melebihi gaji pokoknya saat awal bekerja.
"Alhamdulillah, sejak 2021 sampai sekarang, kamar kos saya hampir tidak pernah kosong lama,” ujarnya.

Apa yang dilakukan Yayan adalah potongan mosaik kecil dari fenomena ekonomi makro yang dikenal sebagai multiplier effect (dampak pengganda) kawasan industri IMIP.
Berdasarkan data Departemen HR PT IMIP, tenaga kerja aktif di dalam kawasan per Juli 2026 mencapai 97.427 orang, dengan 89.335 laki-laki dan 8.092 perempuan yang melonjak dari 35.592 orang pada 2020.
Pertumbuhan ini berbanding lurus dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah: angkatan kerja formal di Sulteng meningkat konsisten dari 477,2 ribu orang (Agustus 2023) menjadi 500,1 ribu (2024), dan 525,8 ribu orang (Agustus 2025).
Direktur Komunikasi PT IMIP Emilia Bassar menjelaskan lonjakan ini merupakan konsekuensi logis dari ekspansi investasi yang terus berlanjut, peningkatan kapasitas produksi smelter, serta masuknya proyek hilirisasi baru.
"Keberadaan industri pengolahan nikel menjadi faktor kunci dalam transformasi struktur ketenagakerjaan di Sulawesi Tengah. Jika dahulu perekonomian daerah lebih banyak ditopang sektor primer seperti pertanian dan perikanan tradisional, kini pergeseran menuju sektor industri formal terjadi sangat cepat," terang Emilia.
Ia mengatakan kontribusi tenaga kerja IMIP terhadap total penduduk bekerja dengan status buruh/karyawan di Sulawesi Tengah berada di kisaran 1,23 persen pada 2023, naik menjadi 1,74 persen pada 2024, dan konsisten tinggi di tahun-tahun berikutnya.
Masuknya puluhan ribu pekerja produktif ini membawa dampak turunan luar biasa bagi perputaran uang di tingkat lokal. Survei internal mengenai perputaran ekonomi di Kecamatan Bahodopi menunjukkan mayoritas pekerja IMIP berada pada usia sangat produktif: 56,4 persen responden berusia 26-35 tahun, kelompok demografi dengan daya beli kuat dan pola konsumsi stabil.
Survei mencatat 98,4 persen pekerja mengalokasikan anggaran untuk makanan dan minuman di warung atau pasar lokal, dengan rata-rata belanja Rp2,19 juta per orang setiap bulan. Jika diakumulasikan terhadap puluhan ribu karyawan, total pengeluaran bulanan untuk kebutuhan dasar diperkirakan mencapai Rp492 miliar per bulan, atau menembus Rp5,9 triliun dalam setahun.
Uang triliunan rupiah itu berputar dari kantong buruh ke pedagang sayur di pasar tradisional, pemilik warung makan Jawa dan Makassar, pemilik rumah kos seperti Yayan, pengemudi transportasi lokal, hingga penyedia jasa binatu.
Dampak ini tercermin jelas dalam pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitar kawasan. Penelitian tim Survey and Research Departemen Secretariat and General Affair (SGA) PT IMIP mengungkapkan jumlah unit UMKM di Kecamatan Bahodopi melonjak dari 4.697 unit pada 2021 menjadi 7.643 unit pada Maret 2025.
Meski sempat mengalami konsolidasi menjadi 7.190 unit pada pertengahan 2026, tenaga kerja lokal yang terserap oleh ekosistem UMKM ini justru melambung mencapai 17.080 orang yang membuktikan kehadiran industri nikel tidak membunuh ekonomi kerakyatan, melainkan menjadi bahan bakar utama yang menghidupkan ribuan usaha kecil di sekitarnya.
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Sulawesi Tengah Andi Irman mengapresiasi kontribusi positif ini terhadap pendapatan dan iklim investasi daerah.
"Pemerintah provinsi terus mendorong terciptanya iklim investasi yang kondusif agar perkembangan industri berjalan seirama dengan peningkatan potensi fiskal daerah. Kebijakan hilirisasi memberi nilai tambah komoditas daerah sekaligus menggerakkan ekonomi inklusif bagi UMKM di Morowali," paparnya.
Melompat ke garis depan industri
Tujuh tahun bekerja sebagai petugas security memberikan Yayan pemahaman mendalam tentang tata kelola kawasan industri. Jiwa mudanya yang haus tantangan baru mendorongnya melangkah lebih jauh.
Pada 15 April 2023, Yayan resmi mengajukan pengunduran diri dari unit security, menyeberang ke lini operasional yang lebih teknis dengan bergabung di PT Morowali Mitra Perkasa (MMP), salah satu tenant di kawasan IMIP. Ia diterima bekerja di bagian pelabuhan/dermaga (jetty) sebagai rigger (juru ikat/pengendali beban).
Pekerjaan ini membawa Yayan kembali ke dunia yang dekat dengan elemen lamanya, laut dan pelabuhan. Bedanya, kali ini ia tidak menangani jaring ikan, melainkan rantai baja, kran raksasa (crane), dan material berat hasil industri pengolahan nikel. Yayan mengamankan proses bongkar muat bahan baku dan produk jadi seperti batu bara, billet baja, slab, hingga gulungan coil baja nikel.

Pekerjaan baru ini menuntut kedisiplinan dan kesadaran keselamatan kerja (safety awareness) yang jauh lebih tinggi. Di dermaga riuh inilah, perjalanan Yayan bersimpangan dengan Ihwan (30), perantau asal Sulawesi Selatan yang datang ke Bahodopi awal 2023 setelah dua tahun menganggur di kampung halamannya.
"Waktu itu saya sudah dua tahun menganggur. Saya memutuskan mendaftar di IMIP ketika ada peluang. Prinsip saya cuma satu, yang penting bisa bekerja dulu," tutur Ihwan.
Diterima bekerja di perusahaan yang sama dengan Yayan menjadi titik balik besar bagi Ihwan, yang bertransformasi dari pemuda yang sempat kehilangan arah menjadi pekerja industri yang tangkas dan berdisiplin tinggi.
Pertemuan keduanya menjadi gambaran nyata bagaimana kawasan industri IMIP berfungsi sebagai wadah penyerapan tenaga kerja, meleburkan latar belakang berbeda menjadi satu semangat kolaborasi.
Kini, berkat rekam jejaknya yang disiplin dan kinerjanya, Yayan dipercaya memegang jabatan Penanggung Jawab Palka, seorang yang memimpin dan mengawasi seluruh aktivitas bongkar muat barang di dalam palka kapal-kapal kargo besar yang bersandar di pelabuhan IMIP.
Tanggung jawab yang bertambah besar ini diikuti peningkatan kesejahteraan signifikan. Pendapatan bulanan Yayan kini menyentuh angka belasan juta rupiah. Jika digabungkan dengan pemasukan rutin dari bisnis kos-kosannya, Yayan telah mencapai tingkat kemandirian finansial yang dulu bahkan tak pernah berani ia impikan saat masih berlayar di atas perahu nelayan.
Harmoni dan asa anak daerah
Kisah sukses Yayan dan Ihwan bukan cerita tentang keberuntungan semata, melainkan bukti nyata komitmen inklusivitas pengembangan sumber daya manusia lokal yang diterapkan di kawasan industri IMIP.
Salah satu hal yang paling disyukuri Yayan adalah kebijakan perekrutan perusahaan yang memberikan ruang terbuka lebar bagi masyarakat lokal tanpa mendiskriminasi latar belakang pendidikan formal.
"IMIP tidak menuntut semua calon pekerja harus berpendidikan S1 untuk posisi-posisi operasional. Yang paling penting adalah kita memiliki kondisi fisik yang sehat, integritas, dan kemauan keras untuk belajar. Anak daerah lokal Morowali benar-benar mendapatkan porsi prioritas untuk direkrut," terangnya.
Komitmen terhadap tenaga kerja lokal ini dikelola secara berkesinambungan. Warga Kabupaten Morowali mendapatkan jalur prioritas dalam proses rekrutmen perusahaan tanpa harus menunggu agenda bursa kerja (job fair) tahunan. Pelamar lokal difasilitasi melalui mekanisme penerimaan reguler yang dibuka sepanjang tahun.
Keberadaan industri nikel terintegrasi ini juga telah memangkas rantai migrasi tenaga kerja di Sulawesi Tengah. Jika dahulu anak muda Morowali harus merantau jauh ke Makassar, Jawa, atau Kalimantan hanya untuk mencari pekerjaan formal dengan gaji UMR, kini mereka bisa menemukan kesempatan karier berkelas dunia di tanah kelahiran mereka sendiri.
"Dulu waktu masih jadi nelayan, melihat mobil lewat saja saya membatin: 'Bagaimana ya rasanya bisa punya kendaraan roda empat? Rasanya tidak mungkin saya sanggup beli.' Tapi setelah bekerja di IMIP dan punya penghasilan teratur, pelan-pelan saya mulai mewujudkan itu, meski masih angsuran juga," tuturnya dengan rasa tidak percaya.
Dari sudut pandang manajemen, Head of Media Relations PT IMIP Dedy Kurniawan menegaskan prinsip pembangunan kawasan industri IMIP selalu menaruh perhatian besar pada aspek keberlanjutan sosial dan kesejahteraan masyarakat sekitar (community welfare).
"Dalam visi, misi, dan nilai-nilai dasar perusahaan, IMIP tidak hanya berfokus pada pencapaian target produksi dan devisa negara, tetapi juga bagaimana keberadaan kawasan ini mampu memfasilitasi pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal. Kami ingin maju dan tumbuh bersama masyarakat Morowali dan Sulawesi Tengah secara luas," jelas Dedy.
Ia menambahkan program serapan tenaga kerja lokal serta pemberdayaan UMKM sekitar merupakan pilar utama dalam menciptakan harmonisasi antara pelaku industri dan warga lingkar tambang.
"Kami menyaksikan sendiri bagaimana banyak karyawan lokal yang dahulunya bekerja serabutan dengan pendapatan tak tentu, kini setelah bergabung dengan IMIP mampu memperbaiki taraf hidup keluarga mereka, membangun rumah yang layak, menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke perguruan tinggi, dan bahkan membuka usaha-usaha baru di masyarakat," ujarnya.
Satu dekade telah berlalu sejak panggilan telepon pertama itu memanggil Yayan pulang dari perairan Wakatobi. Bahodopi yang dulunya sunyi kini bertransformasi menjadi jantung industri pengolahan nikel yang berdenyut tanpa henti 24 jam sehari, menyumbang devisa vital bagi perekonomian nasional.
Yayan Saputra bukan lagi anak pulau yang bingung menatap masa depan di atas perahu kayu. Bagi Yayan, dan mungkin ribuan anak daerah lainnya di Sulawesi Tengah, IMIP bukan sekadar hamparan pabrik pengolahan logam, melainkan wadah tempat harapan-harapan sederhana dirajut menjadi kenyataan, tempat keringat dan kerja keras dihargai layak, dan anak daerah bisa mandiri di tanahnya sendiri.
"Saya tidak pernah menyesali keputusan saya sepuluh tahun lalu," ujarnya mantap.
Baginya panggilan dari rumah sepuluh tahun lalu itu bukan hanya memanggilnya kembali ke kampung halaman, tetapi memanggilnya menuju sebuah kehidupan yang lebih bermakna dan berkelanjutan.
Oleh Nur Amalia Amir
Editor:
Muhammad Zulfikar
COPYRIGHT © ANTARA 2026