kingsheadwye.com

Merasa Sehat tapi Tiba-tiba Kena Serangan Jantung, Dokter Ungkap Penyebabnya

Rabu, 7 Oktober 2026 - 16:53 WIB

Jakarta, VIVA – Penyakit jantung kerap dianggap baru perlu dikhawatirkan ketika seseorang mulai merasakan nyeri dada atau sesak napas. Padahal, masalah pada pembuluh darah jantung dapat berkembang tanpa menimbulkan keluhan yang jelas selama bertahun-tahun.

Baca Juga

Kondisi tersebut membuat sebagian orang baru mengetahui dirinya memiliki masalah jantung ketika sudah mengalami serangan jantung. Karena itu, mengenali faktor risiko dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi langkah penting, terutama bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hal ini kembali menjadi perhatian dalam peringatan Hari Jantung Sedunia yang diperingati setiap 29 September. Di Indonesia, penyakit jantung dan pembuluh darah juga menjadi salah satu beban kesehatan yang besar.

Baca Juga

Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menyebut pembiayaan penyakit jantung dan pembuluh darah, termasuk stroke, telah menyerap sekitar Rp23 triliun dana BPJS Kesehatan.

Biaya penanganannya pun tidak sedikit. Satu tindakan pemasangan ring jantung dapat mencapai Rp40 juta hingga Rp60 juta. Sementara operasi bypass jantung dapat menelan biaya sekitar Rp150 juta dan penggantian katup jantung sekitar Rp200 juta.

Baca Juga

Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito mengatakan banyak kasus penyakit jantung berkaitan dengan faktor risiko yang sejak awal tidak terkendali.

Masalahnya, sejumlah faktor tersebut bisa muncul tanpa disadari. Tekanan darah tinggi, kadar gula dan kolesterol yang meningkat, kebiasaan merokok, hingga berat badan berlebih dapat berlangsung dalam waktu lama sebelum menimbulkan gejala yang terasa mengganggu.

Datin Dr. Ong Mei Lin dari Gleneagles Hospital Penang, rumah sakit dari jaringan IHH Healthcare Malaysia, mengatakan pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa anggapan merasa sehat tidak selalu berarti kondisi jantung benar-benar aman.

“Pasien yang datang kepada kami dengan serangan jantung sering mengatakan sebelumnya merasa sehat. Padahal, tekanan darah, gula darah, atau kolesterolnya sudah lama tinggi dan tidak pernah diperiksa. Skrining memang tidak dapat mencegah semua kasus, tetapi memberi kesempatan untuk bertindak lebih awal,” kata Datin Dr. Ong Mei Lin, dalam keterangannya, dikutip Rabu (7/10/2026).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Siapa yang Perlu Melakukan Skrining?

Skrining jantung terutama dianjurkan bagi orang dewasa berusia di atas 40 tahun. Pemeriksaan juga patut dipertimbangkan lebih serius bagi mereka yang mempunyai riwayat keluarga dengan penyakit jantung.

Halaman Selanjutnya

Selain faktor keturunan, risiko juga dapat meningkat pada orang yang mengalami hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, memiliki kebiasaan merokok, atau mengalami berat badan berlebih.