Meski Ekonomi Diprediksi Melambat, Mirae Tetap Jagokan BBCA dan BRIS, Ini Alasannya
Lalu, mengapa saham perbankan justru masih dipercaya ketika ekonomi diprediksi melambat? Apakah rekomendasi tersebut menjadi sinyal bahwa investor sebaiknya mulai melirik kembali sektor perbankan? Berikut penjelasannya.
Ringkasan
Mirae Asset tetap merekomendasikan BBCA dan BRIS karena kedua bank dinilai memiliki fundamental yang kuat, kemampuan menjaga profitabilitas, serta posisi yang relatif lebih tangguh menghadapi tekanan ekonomi dibandingkan banyak emiten lain.
Beberapa alasan utamanya meliputi:
Memiliki kualitas aset yang relatif baik.
Didukung basis nasabah yang besar dan beragam.
Mampu menjaga pertumbuhan bisnis meski ekonomi melambat.
Sektor perbankan besar cenderung menjadi tujuan investor saat volatilitas meningkat.
Valuasi pasar saham Indonesia dinilai semakin menarik setelah mengalami tekanan.
Namun, penting dipahami bahwa rekomendasi tersebut bukan berarti seluruh risiko telah hilang. Investor tetap perlu memperhatikan perkembangan suku bunga global, nilai tukar rupiah, hingga kinerja keuangan emiten pada kuartal-kuartal berikutnya.
Mengapa Mirae Tetap Memilih BBCA dan BRIS?
Di tengah berbagai tantangan ekonomi global, Mirae Asset melihat sektor perbankan masih menjadi salah satu penopang utama pasar saham Indonesia. Hal ini tercermin dari mulai pulihnya minat investor asing terhadap saham-saham bank berkapitalisasi besar dalam beberapa waktu terakhir.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan perhatian investor kini tidak lagi hanya berfokus pada pemulihan pasar setelah rebound teknikal. Investor mulai kembali menilai kualitas fundamental perusahaan sebagai faktor utama dalam mengambil keputusan investasi.
"Perhatian investor kini tidak lagi hanya tertuju pada momentum rebound, tetapi juga pada kekuatan fundamental ekonomi dan prospek kinerja emiten di tengah tantangan makro yang masih berlangsung," ujar Rully dalam acara Media Day by Mirae Asset Sekuritas, Selasa, 21 Juli 2026.
Pernyataan tersebut menunjukkan perubahan cara pandang pasar. Setelah sebelumnya banyak pelaku pasar mengejar momentum kenaikan harga dalam jangka pendek, kini fokus mulai bergeser ke perusahaan yang mampu menjaga pertumbuhan laba secara konsisten.
Dalam konteks ini, sektor perbankan memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan sektor lain. Bank besar umumnya memiliki likuiditas yang lebih kuat, basis pendanaan yang stabil, serta kemampuan mengelola risiko kredit yang lebih baik ketika aktivitas ekonomi melambat.
Itulah sebabnya, meski ekonomi diperkirakan tumbuh lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya, Mirae Asset tetap mempertahankan BBCA sebagai top pick di sektor perbankan. Selain itu, perusahaan sekuritas tersebut juga merekomendasikan BRIS bersama beberapa saham lain seperti ADRO, TLKM, EXCL, JPFA, CMRY, dan INKP.
"Kami tetap mempertahankan BBCA sebagai top pick di sektor perbankan. Selain itu, kami juga merekomendasikan BRIS, ADRO, TLKM, EXCL, JPFA, CMRY, dan INKP sebagai saham pilihan yang memiliki fundamental kuat dan prospek yang menarik di tengah dinamika pasar saat ini," tambah Rully.
Bukan Sekadar Soal Ukuran Bank
Banyak investor pemula beranggapan bahwa saham bank besar selalu aman karena ukuran perusahaannya. Padahal, faktor yang lebih penting justru terletak pada kemampuan bank menghasilkan laba secara berkelanjutan dan menjaga kualitas asetnya.
Dalam kondisi ekonomi yang melambat, risiko kredit bermasalah biasanya meningkat karena sebagian debitur menghadapi tekanan terhadap kemampuan membayar pinjaman. Di sinilah bank dengan manajemen risiko yang kuat cenderung lebih mampu mempertahankan profitabilitas dibandingkan bank yang lebih agresif dalam menyalurkan kredit.
BBCA, misalnya, selama bertahun-tahun dikenal memiliki rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang relatif rendah serta didukung dana murah (CASA) yang kuat. Kondisi tersebut membuat biaya pendanaan lebih efisien sehingga laba perusahaan relatif lebih tahan ketika suku bunga berada di level tinggi.
Sementara itu, BRIS memiliki daya tarik berbeda. Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, BRIS memperoleh peluang pertumbuhan dari meningkatnya kebutuhan layanan keuangan syariah, baik di segmen ritel maupun korporasi. Potensi pasar yang masih besar membuat prospek pertumbuhan BRIS dinilai tetap menarik dalam jangka panjang.
Dengan kata lain, rekomendasi Mirae bukan semata-mata karena kedua emiten berasal dari sektor perbankan, melainkan karena karakteristik bisnis masing-masing dinilai mampu menghadapi tekanan ekonomi lebih baik dibandingkan banyak perusahaan lain.
Apa Hubungan Perlambatan Ekonomi dengan Saham Perbankan?
Sekilas, perlambatan ekonomi memang terdengar sebagai kabar buruk bagi industri perbankan. Ketika aktivitas bisnis melemah, permintaan kredit biasanya ikut melambat. Konsumsi rumah tangga juga cenderung menurun sehingga pertumbuhan pembiayaan tidak secepat saat ekonomi sedang ekspansif.
Namun, hubungan tersebut tidak selalu bersifat linier.
Dalam praktiknya, perlambatan ekonomi justru sering memunculkan fenomena flight to quality, yakni perpindahan dana investor menuju perusahaan-perusahaan yang dinilai memiliki kualitas fundamental lebih baik. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai pasar saham dunia.
Artinya, ketika ketidakpastian meningkat, investor institusi cenderung mengurangi kepemilikan pada saham yang lebih berisiko dan mengalihkan dana ke emiten dengan bisnis yang lebih stabil. Di Indonesia, kelompok tersebut umumnya didominasi oleh bank-bank berkapitalisasi besar.
Inilah yang menjelaskan mengapa minat investor asing terhadap saham-saham perbankan mulai menunjukkan tanda pemulihan meski tantangan ekonomi belum sepenuhnya mereda.
Fenomena tersebut sekaligus memberikan pelajaran penting bagi investor ritel. Penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti seluruh saham kehilangan prospek. Justru pada fase seperti ini, kualitas fundamental perusahaan menjadi pembeda utama antara emiten yang mampu bertahan dan yang berpotensi menghadapi tekanan lebih besar.
Mirae Asset sendiri merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,8% pada 2026 dan 4,9% pada 2027, lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya yang masing-masing sebesar 5,0% dan 5,1%. Revisi tersebut didorong oleh melemahnya permintaan domestik, kondisi eksternal yang belum sepenuhnya kondusif, serta kebijakan moneter global yang diperkirakan masih ketat.
Meski demikian, perlambatan tersebut tidak otomatis menghapus peluang investasi di pasar saham. Justru dalam kondisi seperti inilah investor dituntut lebih selektif dalam memilih perusahaan yang memiliki daya tahan bisnis, kemampuan menghasilkan laba, serta prospek pertumbuhan jangka panjang yang tetap terjaga. Pada titik inilah alasan di balik rekomendasi BBCA dan BRIS menjadi lebih mudah dipahami, karena fokus pasar mulai bergeser dari mengejar momentum menuju mencari kualitas fundamental yang benar-benar mampu melewati siklus ekonomi yang penuh tantangan.
Baca Juga: ​Dukung Perempuan Indonesia Pede dan Bersinar di Tengah Tantangan Ekonomi, Marina Gelar Program Modal Berani Bersinar
Baca Juga: Apindo: Motor Listrik Buatan Anak Bangsa Momentum Reindustrialisasi Ekonomi Nasional
Mengapa Kebijakan The Fed Masih Menjadi Risiko Terbesar bagi Pasar Saham?
Meski prospek saham perbankan dinilai tetap menarik, Mirae Asset mengingatkan bahwa arah pasar saham Indonesia pada semester II-2026 masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama kebijakan moneter Amerika Serikat.
Menurut Rully Arya Wisnubroto, Federal Reserve (The Fed) diperkirakan kembali menaikkan suku bunga acuan masing-masing sebesar 25 basis poin pada September dan Desember 2026. Dengan demikian, era higher for longer atau suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama diperkirakan belum berakhir.
"Kondisi higher for longer membuat likuiditas dolar AS semakin ketat sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Di tengah perlambatan ekonomi dan potensi twin deficit, ruang Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga juga semakin terbatas," jelas Rully.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa kondisi pasar saham Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kinerja perusahaan di dalam negeri. Faktor global, terutama kebijakan bank sentral Amerika Serikat, masih menjadi variabel yang sulit dihindari.
Ketika suku bunga AS meningkat, aset berbasis dolar AS menjadi lebih menarik karena menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi dengan risiko yang relatif rendah. Akibatnya, sebagian dana investor global berpindah dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, menuju instrumen investasi di Amerika Serikat.
Fenomena ini biasanya memicu tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan meningkatkan volatilitas di pasar saham domestik.
Mengapa Bank Indonesia Tidak Mudah Mengikuti The Fed?
Sekilas, solusi paling sederhana adalah Bank Indonesia menaikkan suku bunga agar rupiah tetap menarik bagi investor. Namun, kenyataannya keputusan tersebut jauh lebih kompleks.
Apabila suku bunga dinaikkan terlalu agresif, biaya pinjaman akan meningkat sehingga konsumsi rumah tangga maupun investasi dunia usaha berpotensi melambat. Padahal, Mirae Asset sudah memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia turun menjadi 4,8% pada 2026 dan 4,9% pada 2027, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya.
Artinya, Bank Indonesia harus menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi. Ruang kebijakan inilah yang dinilai semakin sempit apabila The Fed terus mempertahankan suku bunga tinggi.
Bagi investor, kondisi tersebut menunjukkan bahwa sentimen pasar pada semester II-2026 kemungkinan masih akan bergerak dinamis mengikuti perkembangan ekonomi global.
Status Emerging Market Masih Terjaga, Mengapa Ini Penting?
Di tengah berbagai tekanan tersebut, terdapat satu kabar positif yang dinilai mampu mengurangi ketidakpastian di pasar saham Indonesia.
Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin, mengatakan keputusan MSCI mempertahankan Indonesia sebagai Emerging Market menjadi katalis positif bagi pasar.
"Status Indonesia sebagai Emerging Market tetap terjaga, meski bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets turun menjadi sekitar 0,4% pada Juni 2026 dari 1,2% pada akhir 2025, seiring berkurangnya kepemilikan investor asing dan arus keluar dana dari pasar saham Indonesia," ujar Wilbert.
Keputusan ini memiliki arti penting karena sebelum pengumuman tersebut, pasar sempat mengantisipasi kemungkinan Indonesia diturunkan menjadi Frontier Market.
Jika skenario tersebut benar-benar terjadi, konsekuensinya tidak hanya bersifat simbolis. Banyak reksa dana dan investor institusi global yang mengikuti indeks MSCI kemungkinan harus menjual saham-saham Indonesia karena aturan investasi mereka hanya memperbolehkan investasi di negara dengan kategori Emerging Market.
Mirae Asset memperkirakan potensi arus keluar dana akibat skenario tersebut dapat mencapai sekitar Rp80 triliun.
Dengan batalnya risiko tersebut, tekanan jual dari investor pasif berhasil dihindari.
Valuasi Murah Belum Tentu Membuat Pasar Langsung Naik
Meski demikian, Wilbert mengingatkan bahwa mempertahankan status Emerging Market bukan berarti dana asing akan langsung kembali dalam jumlah besar.
Menurutnya, arus keluar dana asing selama ini masih didominasi oleh index linked funds, sementara investor strategis tetap mempertahankan kepemilikan pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.
"Net outflow asing masih didominasi dana yang mengacu pada indeks (index linked funds), sementara investor strategis tetap mempertahankan eksposurnya pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Dengan valuasi pasar yang berada pada level terendah dalam satu dekade dan potensi unfreeze inklusi index MSCI ke depannya, peluang kembalinya aliran dana asing ke pasar saham domestik tetap terbuka," jelasnya.
Pernyataan tersebut mengandung pesan penting yang sering kali terlewat oleh investor ritel.
Harga saham yang murah memang dapat menjadi peluang, tetapi valuasi murah bukanlah jaminan bahwa harga akan segera naik. Dibutuhkan katalis, seperti perbaikan laba perusahaan, stabilitas ekonomi, hingga meningkatnya kepercayaan investor asing agar pasar benar-benar memasuki fase pemulihan yang lebih kuat.
Apa Arti Rekomendasi Mirae bagi Investor Ritel?
Rekomendasi BBCA dan BRIS sebaiknya tidak dimaknai sebagai ajakan membeli saham tanpa analisis lebih lanjut. Justru, rekomendasi tersebut dapat menjadi titik awal bagi investor untuk memahami bagaimana analis memilih perusahaan ketika kondisi ekonomi sedang tidak ideal.
Ada tiga pelajaran yang dapat dipetik.
Pertama, kualitas fundamental menjadi prioritas utama. Ketika ketidakpastian meningkat, perusahaan dengan laba yang konsisten, manajemen risiko yang baik, dan posisi pasar yang kuat cenderung lebih menarik dibandingkan perusahaan yang hanya menawarkan potensi pertumbuhan tinggi.
Kedua, kondisi makroekonomi tidak selalu berdampak sama pada seluruh sektor. Perlambatan ekonomi memang dapat menekan sebagian industri, tetapi sektor tertentu seperti perbankan besar justru sering menjadi tujuan investor karena dianggap lebih defensif.
Ketiga, keputusan investasi sebaiknya tidak hanya didasarkan pada sentimen jangka pendek. Investor juga perlu mempertimbangkan valuasi, prospek bisnis, dan kemampuan perusahaan menghadapi perubahan siklus ekonomi.
Ketika Pasar Tak Lagi Mengejar Momentum, tetapi Kualitas
Salah satu pesan paling menarik dari paparan Mirae Asset adalah perubahan perilaku investor.
Selama periode pasar yang sangat optimistis, kenaikan harga sering kali didorong oleh sentimen dan ekspektasi. Namun, ketika ekonomi mulai melambat dan ketidakpastian meningkat, fokus investor bergeser pada kualitas fundamental perusahaan.
Inilah yang menjelaskan mengapa saham-saham bank besar kembali mendapat perhatian.
Fenomena tersebut juga menunjukkan bahwa investasi bukan sekadar mencari saham yang paling cepat naik, melainkan memilih perusahaan yang mampu bertahan ketika siklus ekonomi berubah.
Dengan kata lain, rekomendasi BBCA dan BRIS bukan hanya berbicara tentang dua emiten, tetapi juga mencerminkan strategi investasi yang lebih defensif di tengah kondisi global yang belum sepenuhnya stabil.
Simulasi: Dua Investor, Dua Pendekatan Berbeda
Bayangkan ada dua investor dengan dana masing-masing Rp25 juta.
Investor pertama memutuskan menjual seluruh portofolionya setelah membaca proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia diturunkan. Ia beranggapan pasar akan terus melemah sehingga lebih baik menunggu situasi membaik.
Sementara itu, investor kedua memilih mempelajari alasan di balik rekomendasi analis. Ia menyadari bahwa meski ekonomi melambat, tidak semua perusahaan kehilangan prospek. Ia kemudian menyusun daftar saham dengan fundamental kuat untuk dipantau, termasuk BBCA dan BRIS, tanpa terburu-buru membeli seluruhnya sekaligus.
Ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa informasi makroekonomi tidak selalu menghasilkan keputusan investasi yang sama. Cara memahami konteks dan kualitas fundamental perusahaan sering kali menjadi pembeda antara keputusan yang didorong kepanikan dan keputusan yang berbasis analisis.
Penutup
Prediksi perlambatan ekonomi Indonesia pada 2026 memang menjadi tantangan bagi pasar saham. Namun, paparan PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menunjukkan bahwa tantangan tersebut tidak otomatis menghilangkan peluang investasi.
Rekomendasi terhadap BBCA dan BRIS mencerminkan keyakinan bahwa perusahaan dengan fundamental yang kuat masih memiliki ruang untuk bertahan bahkan ketika tekanan ekonomi meningkat. Di sisi lain, risiko dari kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan dana asing, dan stabilitas makroekonomi tetap perlu dicermati karena akan menentukan arah pasar dalam beberapa kuartal ke depan.
Bagi investor, pelajaran terpenting bukan sekadar mengetahui saham apa yang direkomendasikan analis, melainkan memahami alasan di balik rekomendasi tersebut. Pada akhirnya, kualitas bisnis dan kemampuan perusahaan melewati berbagai fase siklus ekonomi sering kali menjadi faktor yang lebih menentukan dibandingkan sentimen pasar jangka pendek.
Pantau terus perkembangan pasar saham, kebijakan moneter global, serta laporan keuangan emiten agar setiap keputusan investasi didasarkan pada informasi yang utuh, bukan hanya mengikuti pergerakan pasar sesaat.
Baca Juga: Bagaimana Cara Main Gacha BCA? Begini Panduan Lengkap Mengumpulkan Poin hingga Klaim Hadiah
Baca Juga: RUPSLB Astra Setujui Rencana Buyback Rp8 Triliun dan Program Saham Manajemen
FAQ
Mengapa BBCA tetap direkomendasikan saat ekonomi diprediksi melambat?
BBCA dinilai memiliki fundamental yang kuat, kualitas aset yang baik, serta kemampuan menjaga profitabilitas di tengah tekanan ekonomi. Selain itu, basis dana murah (CASA) yang besar membuat biaya pendanaan lebih efisien sehingga kinerjanya relatif lebih stabil dibandingkan banyak bank lain.
Apakah BRIS masih menarik untuk investasi jangka panjang?
BRIS dinilai memiliki prospek jangka panjang berkat posisinya sebagai bank syariah terbesar di Indonesia. Pertumbuhan industri keuangan syariah dan perluasan basis nasabah menjadi faktor yang mendukung potensi bisnis perseroan, meski investor tetap perlu mempertimbangkan risiko pasar dan kondisi ekonomi.
Mengapa kebijakan The Fed memengaruhi pasar saham Indonesia?
Kenaikan suku bunga The Fed membuat aset berbasis dolar AS lebih menarik bagi investor global. Kondisi ini dapat memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga memengaruhi nilai tukar rupiah dan pergerakan IHSG.
Apa arti status Emerging Market bagi pasar saham Indonesia?
Status Emerging Market membuat Indonesia tetap masuk dalam kelompok negara tujuan investasi bagi banyak dana global. Jika status tersebut berubah menjadi Frontier Market, sebagian investor institusi yang mengikuti indeks MSCI berpotensi mengurangi atau menjual kepemilikan saham di Indonesia.
Apakah rekomendasi saham dari analis harus langsung diikuti?
Tidak. Rekomendasi analis dapat menjadi referensi awal, tetapi keputusan investasi tetap harus disesuaikan dengan tujuan keuangan, profil risiko, horizon investasi, dan hasil analisis pribadi terhadap emiten yang dipilih.
Saham apa saja yang direkomendasikan Mirae selain BBCA dan BRIS?
Selain BBCA dan BRIS, Mirae Asset Sekuritas Indonesia juga merekomendasikan ADRO, TLKM, EXCL, JPFA, CMRY, dan INKP. Saham-saham tersebut dinilai memiliki fundamental yang kuat dan prospek bisnis yang menarik di tengah dinamika pasar.
Mengapa valuasi saham yang murah belum tentu membuat harga langsung naik?
Valuasi yang rendah memang dapat menjadi peluang investasi, tetapi harga saham tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti pertumbuhan laba emiten, kondisi ekonomi, sentimen pasar, dan arus dana investor asing. Oleh karena itu, saham murah belum tentu langsung mengalami kenaikan harga.