kingsheadwye.com

MIT Kembangkan PLTN yang Bisa Beroperasi Lebih Mandiri, Teknologi Tak Andalkan AI

Otomasi kemudian menjadi salah satu jalan untuk membuat teknologi tersebut lebih ekonomis. Menariknya, sistem yang dikembangkan bukan kecerdasan buatan berbasis machine learning. Peneliti memilih teknologi otomasi yang lebih transparan sehingga setiap keputusan komputer dapat dilacak dan diverifikasi.

Riset tersebut dipublikas lewat MIT News pada Jumat (24/07/2026) melalui penelitian Lauren Fortier, mahasiswa doktoral tahun kedua di Department of Nuclear Science and Engineering (NSE) MIT. Fortier memiliki pengalaman langsung mengawasi operasi pembangkit nuklir di kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat sebelum mengembangkan sistem kendali pembangkit nuklir di MIT.

"Kami tidak menggunakan pendekatan statistik berbasis data seperti pembelajaran mesin karena saat ini kami belum memiliki perangkat untuk memvalidasi pengoperasian sistem semacam itu,” kata Fortier.

Komputer dan Operator Manusia Dirancang Bekerja Bersama

Fortier mengembangkan supervisory control system, sistem kendali pusat yang dapat membantu mengatur operasi pembangkit.

Masalah utama yang ingin diselesaikan adalah banyak prosedur PLTN saat ini dirancang sepenuhnya untuk manusia. Sistem tersebut tidak selalu cocok ketika sebagian pekerjaan dialihkan kepada komputer.

Alih-alih sekadar mengganti operator dengan mesin, Fortier mengembangkan pendekatan ketika komputer dan manusia melakukan pekerjaan yang paling sesuai dengan kemampuan masing-masing. Operator tetap dapat melakukan intervensi strategis ketika diperlukan.

Teknologinya menggunakan konsep finite state automata. Sistem bekerja berdasarkan kejadian yang dapat ditentukan secara jelas: jika suatu kondisi terjadi, lakukan tindakan tertentu. Dengan pendekatan tersebut, setiap perpindahan kondisi dalam pembangkit dapat diketahui dan diperiksa.

Transparansi menjadi penting karena industri nuklir memiliki persyaratan keselamatan yang sangat tinggi. Sistem AI berbasis statistik dapat menghasilkan keputusan yang lebih sulit dijelaskan, sementara finite state automata memberikan jalur eksekusi yang lebih eksplisit.

Fortier juga mengembangkan objective-oriented operations. Dalam pendekatan ini, operator memberikan tujuan yang ingin dicapai dan sistem kendali dapat menyusun rangkaian tindakan yang diperlukan, alih-alih selalu mengikuti prosedur tetap yang telah ditentukan sebelumnya.

Penelitian tersebut melibatkan Idaho National Laboratory (INL). Fortier bekerja dengan Katya Le Blanc, senior human factors scientist di INL, untuk mengembangkan antarmuka manusia-mesin yang lebih efektif. Ia juga berkolaborasi dengan Human System Simulation Laboratory INL untuk memahami desain sistem siber-fisik.

Microreactor Bisa Membuat Otomasi Nuklir Semakin Penting

PLTN konvensional dapat mempekerjakan banyak operator karena fasilitas besar menghasilkan listrik dalam jumlah besar. Model tersebut menjadi lebih sulit diterapkan pada microreactor yang tersebar di berbagai lokasi terpencil.

Mengirim tim operator dalam jumlah besar ke setiap fasilitas dapat menghilangkan keuntungan ekonominya. Sistem kendali otomatis yang tetap diawasi manusia berpotensi mengubah perhitungan tersebut.

Fortier juga menguji gagasannya melalui kolaborasi dengan Westinghouse, perusahaan yang mengembangkan teknologi pembangkit nuklir generasi saat ini maupun berikutnya. Ia menjalani magang di perusahaan tersebut pada 2025.

Di MIT, penelitian Fortier didampingi Sacit Cetiner, yang memiliki posisi bersama di MIT NSE dan Idaho National Laboratory. Anuradha Annaswamy, pendiri dan direktur Active-Adaptive Control Laboratory MIT, membantu dari sisi teori serta sistem kendali.

Penasihat lainnya adalah Curtis Smith, mantan direktur Nuclear Safety and Regulatory Research Division INL yang kini menjadi KEPCO Professor of the Practice di MIT. Penelitian ini juga telah memperoleh pengakuan dari Departemen Energi Amerika Serikat. Fortier menjadi salah satu pemenang 2025 Innovations in Nuclear Energy Research and Development Student Competition.

Dampaknya bisa cukup besar. Kebangkitan energi nuklir menghadapi persoalan bukan hanya bagaimana membangun reaktor yang lebih aman, tetapi bagaimana menghasilkan listrik dengan biaya kompetitif. Microreactor yang memerlukan terlalu banyak operator akan sulit mencapai tujuan tersebut.

Yang paling menarik, penelitian MIT sekaligus memperlihatkan bahwa otomatisasi tidak selalu harus berarti AI. Untuk infrastruktur kritis seperti PLTN, teknologi yang lebih sederhana tetapi dapat diverifikasi mungkin justru lebih mudah mendapatkan kepercayaan operator dan regulator.

Jika sistem semacam ini berhasil diterapkan pada microreactor komersial, otomatisasi dapat menjadi salah satu teknologi yang menentukan apakah reaktor nuklir kecil benar-benar mampu berkembang dari proyek eksperimental menjadi sumber energi yang dapat dioperasikan dalam skala luas.