Motor Listrik Lebih Hemat, Tapi Mengapa Penjualannya Masih Lambat?
Jumat, 17 Juli 2026 - 18:00 WIB
Jakarta, VIVA – Motor listrik digadang-gadang menjadi solusi transportasi yang lebih hemat dibanding motor berbahan bakar bensin. Biaya energi yang lebih rendah hingga perawatan yang lebih sederhana menjadi daya tarik utama kendaraan listrik roda dua.
Baca Juga
Namun, kondisi tersebut belum berbanding lurus dengan penjualannya di Indonesia. Di tengah pasar sepeda motor yang mencapai jutaan unit setiap tahun, kontribusi motor listrik masih tergolong sangat kecil.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menunjukkan penjualan sepeda motor nasional sepanjang 2025 mencapai 6.412.769 unit atau naik 1,3 persen dibanding tahun sebelumnya. Untuk 2026, pasar diperkirakan masih bertahan di kisaran 6,4 juta hingga 6,7 juta unit.
Baca Juga
Dari total tersebut, motor listrik diperkirakan masih menyumbang kurang dari satu persen. Sementara itu, skutik bermesin bensin masih mendominasi pasar dengan porsi lebih dari 90 persen.
Padahal, jika melihat biaya penggunaan sehari-hari, motor listrik memiliki keunggulan yang cukup menarik. Sejumlah simulasi menunjukkan kendaraan listrik mampu memangkas pengeluaran operasional, terutama bagi pengguna yang memiliki mobilitas tinggi.
Baca Juga
Dengan asumsi jarak tempuh sekitar 150 kilometer per hari selama 26 hari kerja, biaya operasional skutik bensin dapat mencapai sekitar Rp1 juta per bulan, termasuk kebutuhan bahan bakar dan perawatan berkala. Angka tersebut dihitung menggunakan konsumsi bahan bakar sekitar 45 kilometer per liter.
Sementara itu, motor listrik dengan skema baterai berlangganan diperkirakan hanya membutuhkan biaya sekitar Rp650 ribu hingga Rp700 ribu per bulan. Jika mayoritas pengisian daya dilakukan di rumah, total pengeluaran bahkan bisa turun hingga kisaran Rp370 ribu sampai Rp400 ribu per bulan.
Artinya, pengguna berpotensi menghemat sekitar 30 hingga 35 persen biaya operasional atau sekitar Rp4 juta dalam setahun. Bagi pengemudi ojek online maupun kurir logistik yang menjadikan sepeda motor sebagai alat mencari nafkah, selisih tersebut tentu bukan angka yang kecil.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Meski demikian, murahnya biaya penggunaan belum menjadi jaminan masyarakat akan langsung beralih ke motor listrik. Banyak calon konsumen masih mempertimbangkan faktor lain sebelum memutuskan membeli kendaraan tersebut.
Hal yang paling sering menjadi perhatian adalah jaringan purna jual, ketersediaan suku cadang, kemudahan mengisi atau menukar baterai, hingga nilai jual kembali kendaraan. Faktor-faktor tersebut dinilai masih menjadi pekerjaan rumah bagi industri motor listrik di Indonesia.
Halaman Selanjutnya
Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai konsumen saat ini membutuhkan bukti nyata, bukan sekadar klaim bahwa motor listrik lebih hemat.