Pakar: Harga minyak dunia turun jadi kesempatan menata aturan - ANTARA News Ambon, Maluku
Jakarta (ANTARA) - Peneliti sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menilai turunnya harga minyak dunia menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk menata aturan.
“Momentumnya ada di ruang fiskal dan kesempatan menata aturan. Saat harga minyak sedang tenang, itulah reformasi paling murah dilakukan,” ujar Yayan ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Selasa.
Yayan menyampaikan terdapat beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh pemerintah ketika harga minyak dunia melandai, yaitu memanfaatkan jeda untuk menyempitkan selisih tangga subsidi, memulihkan bantalan stok bahan bakar minyak (BBM), serta memperkuat perlindungan tertarget.
Ia menilai transfer kepada rumah tangga rentan yang telah terdaftar di dalam data pemerintah lebih efektif daripada memberikan subsidi kepada komoditas yang bisa dimanfaatkan oleh kelompok mampu.
Lebih lanjut, Yayan juga menyampaikan masih terdapat sejumlah risiko yang harus diperhatikan oleh pemerintah sebab dapat mendorong harga BBM kembali melonjak.
Risiko paling nyata, kata dia, terletak pada gejolak geopolitik. Brent menembus 100,17 dolar AS per barel pada 23 Juli, tertinggi sejak Mei. Angka tersebut naik 6,5 persen hanya dalam sehari dari 94,07 dolar AS per barel, akibat ancaman terhadap Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb.
Risiko selanjutnya adalah nilai tukar atau kurs. Yayan mengingatkan bahwa formula harga BBM menggunakan kurs.
Setiap pelemahan Rp500 per dolar AS menaikkan harga keekonomian BBM sekitar Rp350 per liter, lebih besar daripada penurunan Rp300 sebagaimana yang baru ditetapkan oleh Pertamina terhadap produk Pertamax. Pada awal Agustus 2026, Pertamina menetapkan harga Pertamax turun dari Rp16.250 per liter menjadi Rp15.950 per liter.
“Yang paling sering luput adalah kurs. Pelemahan rupiah 500 perak saja sudah menghapus penurunan Rp300 ini, tanpa harga minyak bergerak sedikit pun. Jadi, risikonya bukan hanya dari Hormuz, tetapi juga dari nilai tukar,” kata Yayan.
Harga minyak turun lebih dari 5 persen, Senin, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perundingan damai dengan Iran akan dilanjutkan dan keputusannya membatalkan serangan militer yang direncanakan terhadap Iran.
Harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, turun menjadi sekitar 83,40 dolar AS per barel (sekitar Rp1,5 juta) pada Senin pukul 06.05 GMT (13.05 WIB).
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), yang menjadi acuan AS, juga turun 6 persen menjadi 79,60 dolar AS (sekitar Rp1,4 juta) per barel.
Harga minyak turun tajam seiring dengan meningkatnya harapan terhadap dimulainya lagi diplomasi untuk meredakan kekhawatiran akan gangguan lebih lanjut terhadap pasokan energi dari Timur Tengah.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pakar: Harga minyak dunia turun jadi kesempatan menata aturan
Pewarta: Putu Indah Savitri
Uploader : Moh Ponting
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.