Pantai Resmi di Jepang Turun 30 Persen, Panas Ekstrem dan Garis Pantai Menyusut
Bagikan:
JAKARTA - Jumlah pantai resmi untuk berenang di Jepang turun sekitar 30 persen dalam tiga dekade terakhir. Pengunjung semakin sedikit, keuntungan pengelola menurun, penjaga pantai sulit dicari, sementara di sejumlah daerah garis pantai terus menyusut.
Kyodo News dikutip Senin, 20 Juli, menyebut data Asosiasi Perjalanan dan Pariwisata Jepang menunjukkan jumlah pantai resmi mencapai 1.379 pada 1993. Angkanya bertahan di kisaran 1.300-an hingga awal 2000-an sebelum terus menurun.
Jumlah tersebut untuk pertama kalinya turun di bawah 1.000 pada 2022 akibat pandemi COVID-19. Pada 2024, hanya 969 pantai resmi yang dibuka selama musim panas.
Musim panas yang sangat terik dalam beberapa tahun terakhir membuat sebagian warga memilih tidak pergi ke pantai. Mereka ingin menghindari kulit terbakar dan sengatan panas.
Pilihan rekreasi dalam ruangan yang semakin beragam juga ikut mengurangi jumlah pengunjung. Bagi pengelola, pantai yang sepi membuat usaha semakin sulit menghasilkan keuntungan.
Aturan di Jepang mewajibkan pemerintah daerah dan asosiasi pengelola mengajukan izin setiap tahun kepada pemerintah prefektur sebelum membuka pantai resmi untuk berenang.
BACA JUGA:
Data asosiasi tersebut dikumpulkan dari pemerintah prefektur dan kota. Namun, lembaga itu tidak menganalisis penyebab penurunan. Kyodo News kemudian menelusuri penyebabnya melalui wawancara dengan sejumlah pemerintah daerah.
Selain berkurangnya pengunjung, pemerintah daerah menyebut kekurangan penjaga pantai dan rendahnya keuntungan sebagai kendala utama.
Di Prefektur Kanagawa dekat Tokyo, asosiasi yang menanggung sebagian biaya operasional Pantai Miura Kaigan mengalami kesulitan keuangan. Pantai itu tidak dibuka pada 2024.
Pantai Hakotsukuri di Prefektur Osaka juga tidak beroperasi pada tahun yang sama.
Di beberapa daerah, penurunan jumlah pantai turut dipengaruhi mundurnya garis pantai. Salah satunya terjadi di Pantai Otake Kaigan Hokota, Prefektur Ibaraki, sebelah timur laut Tokyo.
Pasokan pasir dari sungai ke pesisir berkurang akibat pengambilan pasir untuk kebutuhan konstruksi sejak masa pertumbuhan ekonomi tinggi Jepang pada pertengahan 1950-an hingga awal 1970-an.
Pembangunan pemecah gelombang juga mengubah arus laut dan ikut memengaruhi bentuk garis pantai.
Pemerintah daerah meminta warga tidak berenang di pantai yang tidak ditetapkan secara resmi. Kawasan tersebut tidak memiliki penjaga pantai atau petugas pengawas yang siap menangani keadaan darurat.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+