Pantas Saja Rupiah Susah Menguat, Ini Ternyata Biang Keroknya!
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menyentuh Rp18.000/US$ pada perdagangan intraday kemarin. Meskipun pada perdagangan hari ini menguat, namun posisinya masih jauh di atas asumsi APBN 2026 di Rp16.500-Rp16.700/1US$.
Ada berbagai faktor yang memengaruhi pergerakan kurs mata uang garuda, baik itu dari eksternal maupun domestik.
Dari eksternal, tensi geopolitik yang menyengat harga minyak menyisakan kekhawatiran inflasi akan naik. Hal ini akan membuat kebijakan moneter bank sentral dunia semakin ketat. Bahkan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis poin pada September 2026.
Sementara di dalam negeri, para investor maupun pelaku pasar melihat berbagai indikator fundamental Indonesia. Salah satu yang utama adalah kondisi defisit transaksi berjalan.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengungkapkan bahwa gerak rupiah dengan defisit transaksi berjalan memiliki hubungan yang simile.
"Kita semua bisa melihat performance nilai tukar kita, baik dari volatilitas, kemudian dari level, dan bagaimana sebenarnya nilai tukar itu sangat berkait dengan dinamika perkembangan current account defisit Indonesia," ujar Ramdan Denny kepada media, Rabu (30/9/2026).
Pelebaran defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) yang tengah dialami Indonesia berisiko makin membebani pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Sebagaimana diketahui, transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II-2026 mencatatkan defisit sebesar US$ 12,5 miliar atau setara 3,3% PDB. Melebar dibanding catatan pada kuartal I-2026 yang sebesar US$ 3,6 miliar atau 1% PDB.
Angka tersebut menjadi defisit transaksi berjalan terbesar secara nominal sepanjang sejarah. Atau paling tidak berdasarkan data yang tersedia sejak kuartal I-2004.
Rekor sebelumnya terjadi pada kuartal II-2013 ketika defisit transaksi berjalan mencapai US$10,13 miliar.
Pelebaran defisit transaksi berjalan menunjukkan bahwa pengeluaran Indonesia untuk impor barang, jasa, serta pembayaran pendapatan kepada pihak luar negeri meningkat jauh lebih besar dibandingkan penerimaan yang diperoleh.
Surplus Neraca Dagang Barang Menipis Jadi Penyebab
Penyebab utama membengkaknya defisit transaksi berjalan berasal dari menyusutnya surplus perdagangan barang.
Pada triwulan pertama tahun ini, neraca barang Indonesia masih mencatat surplus US$8,21 miliar. Namun, tiga bulan kemudian, surplus tersebut turun drastis menjadi hanya US$1,32 miliar.
Penurunannya mencapai US$6,89 miliar atau sekitar 83,92%.
Penyusutan surplus neraca barang menyumbang sekitar 77,31% dari total pelebaran defisit transaksi berjalan dibandingkan kuartal sebelumnya.
Pada kuartal II-2026, impor barang melonjak 23,87% menjadi US$72,11 miliar, dari sebelumnya US$58,21 miliar.
Sebaliknya, ekspor hanya meningkat 10,54% menjadi US$73,43 miliar, dibandingkan US$66,42 miliar pada kuartal I-2026.
Kenaikan impor mencapai US$13,89 miliar, hampir dua kali lebih besar daripada tambahan ekspor yang sebesar US$7,00 miliar.
Uang RI Lari Ke Luar Negeri
Uang Indonesia terus mengalir ke luar negeri untuk membayar berbagai layanan jasa asing sepanjang kuartal dua 2026 mencapai hampir US$17 miliar, jauh lebih besar dibandingkan pendapatan jasa yang diterima Indonesia.
Mulai dari ongkos pengiriman barang, jasa konsultasi bisnis, penggunaan teknologi, pembayaran royalti, hingga asuransi.
Kondisi tersebut membuat neraca jasa Indonesia mencatat defisit terbesar sepanjang sejarah.
Berdasarkan laporan Bank Indonesia (BI), defisit transaksi jasa mencapai US$5,89 miliar pada kuartal II-2026. Nilainya membengkak 34,21% dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar US$4,39 miliar.
Defisit tersebut menjadi yang terdalam dalam rangkaian data kuartalan sejak 2004. Rekor sebelumnya terjadi pada kuartal I-2025, ketika neraca jasa mengalami defisit US$5,40 miliar.
Kekurangan pada transaksi jasa selama kuartal II-2026 mencapai sekitar Rp104,90 triliun (asumsi kurs Rp17.800/US$1).
Membengkaknya defisit bukan disebabkan oleh penurunan pendapatan jasa Indonesia.
Pada kuartal II-2026, ekspor jasa justru meningkat dari US$9,91 miliar menjadi US$10,87 miliar atau tumbuh 9,71%.
Namun, pembayaran untuk layanan dari luar negeri bergerak jauh lebih cepat. Nilai impor jasa melonjak 17,23% dari US$14,30 miliar menjadi US$16,76 miliar atau mencapai sekitar Rp298,35 triliun.
Sebaliknya, pendapatan Indonesia dari penjualan jasa ke luar negeri hanya sekitar Rp193,44 triliun.
(arj/arj)
[Gambas:Video CNBC]