kingsheadwye.com

Partai Final Dramatis, MilkLife Soccer Challenge 2026-2027 Lahirkan Juara Baru di Jakarta dan Yogyakarta

Di Jakarta Raya, SDN Gedong 03 sukses mengamankan trofi Kategori Umur (KU) 10, sementara SDN Cipayung 02 merajai KU 12 usai melewati laga dramatis hingga babak adu penalti.

Sementara di regional Yogyakarta, SD Tarakanita Bumijo I keluar sebagai kampiun baru KU 10, serta SD Muhammadiyah Sapen yang kembali berhasil mengukuhkan dominasinya di podium tertinggi KU 12.

Turnamen yang diinisiasi oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation bersama MilkLife ini mencatatkan partisipasi masif di kedua wilayah.

Di Jakarta Raya, sebanyak 1.928 atlet dari 111 SD/MI memadati Lapangan Bola Brigif 1 dan Kingkong Soccer Arena, Jakarta Timur, terbagi dalam 53 tim KU 10 dan 123 tim KU 12.

Sedangkan di Yogyakarta, arena Lapangan Sidomoyo dan Stadion Tridadi, Sleman, diramaikan oleh 1.294 atlet dari 76 SD/MI yang terbagi ke dalam 40 tim KU 10 serta 83 tim KU 12.

Penyegaran Regulasi dan Kemeriahan 'Festival SenengSoccer'

Memasuki Seri 1 Musim 2026–2027 yang diselenggarakan di 15 kota, MLSC tetap konsisten menerapkan format pertandingan 7 vs 7 tanpa aturan offside. Durasi laga dimainkan 2 x 10 menit dari fase penyisihan hingga perempat final, serta 2 x 15 menit untuk babak semifinal dan final.

Namun, inovasi dilakukan pada dimensi lapangan KU 10 yang kini disetarakan dengan KU 12, yaitu menggunakan ukuran 42 x 26 meter (sebelumnya 40 x 24 meter).

Batasan usia KU 10 diperuntukkan bagi kelahiran 1 Juli 2016 hingga 30 Juni 2018, sedangkan KU 12 diisi oleh peserta kelahiran 1 Juli 2014 hingga 30 Juni 2016.

Tak hanya persaingan di level kompetitif, MLSC Seri 1 juga menghadirkan Festival SenengSoccer khusus untuk KU 8. Ajang kelompok usia terkecil ini diikuti oleh 76 siswi dari 21 SD/MI di Jakarta Raya, serta 65 peserta dari 19 SD/MI di Yogyakarta.

Sinergi Orang Tua dan Sekolah Bentuk Ekosistem Positif

Program Manager MilkLife Soccer Challenge, Welly Arisanto, menegaskan bahwa gelaran di Jakarta dan Yogyakarta membuktikan gairah sepakbola putri usia dini kian meluas sejak pertama kali diluncurkan pada 2023.

Welly secara khusus memberikan apresiasi tinggi terhadap antusiasme para orang tua yang hadir langsung memberikan dukungan moral dari pinggir lapangan.

"Yang menarik dan menurut saya luar biasa adalah dukungan orang tua ke peserta yang bertanding sangat antusias. Di setiap seri, di setiap kota pelaksanaan MLSC itu orang tua selalu berperan aktif dan itu penting sekali buat mental para pemain," kata Welly.

"Selain itu, secara kualitas permainan juga selalu ada perkembangan dari seri-seri sebelumnya sehingga terlihat ekosistem sepakbola putri di Indonesia semakin terbentuk, kompetisinya juga semakin bagus karena muncul sekolah-sekolah baru sebagai pemenang."

Pandangan optimis juga disampaikan oleh Head Coach MilkLife Soccer Challenge, Jacksen F. Tiago. Mantan pelatih kawakan itu menilai ada lonjakan signifikan dari segi pemahaman taktik maupun penguasaan teknik dasar dari para peserta.

"Melihat pertandingan yang sudah berjalan di MLSC seri 1 tahun ini, nampak ada sejumlah perkembangan dari kemampuan para peserta," beber Jacksen.

"Teknik dasar mereka semakin baik, lebih percaya diri saat menggiring bola, passing-nya semakin terarah, kontrolnya juga semakin bagus. Dan yang penting, mereka mulai mengerti cara bermain sebagai sebuah tim."

Jacksen meyakini bahwa konsistensi kompetisi usia dini merupakan kunci utama dalam mencetak atlet berkarakter tangguh. Ia optimistis target besar mengantarkan Timnas Putri Indonesia menembus Piala Dunia 2035 akan dapat terwujud melalui pembinaan berkelanjutan ini.

"Menurut saya, Bakti Olahraga Djarum Foundation telah berhasil membuat sepak bola putri benar-benar menggeliat dan kita sekarang mulai bisa melihat hasil dari proses itu," ungkap pelatih asal Brasil tersebut.

"Kalau kompetisi seperti ini terus berjalan, saya yakin kualitasnya akan terus naik karena turnamen yang kita bangun bukan hanya pertandingan, tetapi kebiasaan dan karakter para atlet untuk bermain sepakbola secara serius sejak dini. Itu yang nantinya menjadi pondasi untuk perkembangan sepakbola putri Indonesia."