kingsheadwye.com

Pasokan Gas RI Berkurang, Singapura Pastikan Stok Energi Aman |Republika Online

SINGAPURA — Singapura memperkuat ketahanan energi melalui diversifikasi pasokan gas, penambahan cadangan bahan bakar, dan kerja sama strategis dengan negara produsen energi. Langkah tersebut ditempuh di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar energi global akibat gangguan jalur distribusi dan serangan terhadap infrastruktur energi.

Menteri Energi, Perdagangan dan Industri Singapura Tan See Leng mengatakan, krisis energi global kembali menunjukkan pentingnya menjamin pasokan energi yang andal dan terjangkau. Menurut dia, sebagai negara kota yang bergantung pada impor energi, Singapura tidak dapat sepenuhnya menghindari dampak gejolak global maupun regional.

“Energi merupakan prioritas yang menentukan keberlangsungan hidup. Pertumbuhan ekonomi dan kualitas hidup kita bergantung pada akses berkelanjutan terhadap energi yang andal dan terjangkau,” kata Tan dalam pidatonya pada Singapore International Energy Week (SIEW) 2026, Senin (26/10/2026).

Tan menyoroti gangguan arus energi global yang dipicu penutupan Selat Hormuz serta potensi eskalasi setelah serangan kelompok Houthi terhadap bandara dan infrastruktur energi Arab Saudi. Situasi tersebut terjadi hanya empat tahun setelah krisis energi global pada 2022.

Menurut Tan, gangguan pasokan bukanlah ancaman yang dapat dianggap sebagai kejadian luar biasa yang tidak akan terulang. Negara-negara importir energi harus memperhitungkan risiko gangguan distribusi, termasuk ketika negara pemasok memprioritaskan kebutuhan domestik masing-masing.

Dia memperingatkan meningkatnya nasionalisme sumber daya atau resource nationalism, terutama apabila kebijakan tersebut mengganggu perjanjian kontrak pasokan yang telah disepakati. Situasi itu dapat meningkatkan risiko bisnis dan menghambat investasi jangka panjang di sektor energi.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Singapura membangun sejumlah lapisan perlindungan. Salah satunya dengan mendiversifikasi sumber impor gas alam.

Ketika pertama kali mengimpor gas, Singapura sepenuhnya mengandalkan pasokan melalui jaringan pipa dari negara-negara tetangga. Kini, sekitar separuh kebutuhan gas impornya dipenuhi dalam bentuk gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dari berbagai sumber global, termasuk Amerika Serikat, Afrika, Timur Tengah, dan Australia.

Kapasitas penerimaan LNG Singapura juga direncanakan meningkat 50 persen setelah terminal LNG kedua mulai beroperasi sebelum 2030. Penambahan kapasitas tersebut akan memberi keleluasaan bagi Singapura untuk mendatangkan gas dari lebih banyak pemasok.

Pemerintah juga memperkuat peran Singapore GasCo, perusahaan yang dibentuk untuk membantu pengadaan gas bagi sektor pembangkit listrik. Tan mengatakan, GasCo telah menunjukkan kemampuannya ketika pengiriman gas dari Qatar terganggu pada tahun ini.

Tim GasCo bergerak cepat untuk mengamankan pasokan pengganti. Pada Agustus 2026, perusahaan tersebut juga meluncurkan permintaan proposal pertamanya untuk pengadaan gas bagi kebutuhan Singapura setelah 2028, dengan kontrak pertama ditargetkan tercapai pada 2027.

Tan menegaskan, keandalan pasokan akan menjadi salah satu kriteria utama dalam pemilihan pemasok gas. Pemerintah juga mewajibkan turbin pembangkit listrik dapat beroperasi menggunakan gas maupun diesel sehingga cadangan diesel bisa dimanfaatkan ketika terjadi gangguan pasokan gas yang serius.

Selain diversifikasi pasokan, Singapura memperluas kemitraan dengan negara produsen energi. Tan mengumumkan rencana kerja sama dengan Arab Saudi untuk menyimpan minyak mentah Saudi di fasilitas penyimpanan bawah tanah Jurong Rock Caverns mulai paruh kedua 2027.