kingsheadwye.com

Pati upayakan penyelamatan 1.538 hektare padi kekeringan

Pati upayakan penyelamatan 1.538 hektare padi kekeringan

Kamis, 3 September 2026 21:12 WIB

Image Print

Seorang petani menabur pupuk urea pada tanaman padi yang mengalami kekeringan di Desa Handapherang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Rabu (10/6/2026). Sawah seluas 12 hektare dengan usia tanam sekitar 14 hari hingga satu bulan di daerah itu mengalami kekeringan akibat musim kemarau. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/agr

Pati (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Pati, Jawa Tengah, melalui Dinas Pertanian mengupayakan penyelamatan tanaman padi seluas 1.538 hektare yang terdampak kekeringan di sepanjang aliran Sungai Silugonggo/Juwana.

"Berdasarkan pemantauan petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL) per 27 Agustus 2026, tercatat 2.655 hektare tanaman padi terdampak kekeringan. Dari luasan tersebut, sebanyak 1.117 hektare telah mendapatkan penanganan melalui penggelontoran air," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pati Ratri Wijayanto di Pati, Kamis.

Ia mengatakan kondisi tersebut terjadi karena Bendung Karet Kembang Kempis di Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, saat ini tidak mendapatkan pasokan air yang cukup.

"Bendung Karet selama ini mendapatkan suplai air dari empat sumber, mulai dari Waduk Kedungombo, Logung, Gunung Rowo, dan Gembong," ujarnya.

Menurut dia pihaknya sebelumnya telah bersurat kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana pada 30 Juli 2026 untuk meminta perpanjangan waktu aliran air irigasi. Saat itu, dampak kekeringan diperkirakan mencapai 4.619 hektare.

Upaya penyelamatan juga telah dilakukan melalui penggelontoran air dalam dua tahap, yakni pada 12 Agustus selama satu hari dan 22 Agustus 2026 selama dua hari.

Namun, air dari penggelontoran tersebut hanya mampu menjangkau delapan desa dari total 29 desa yang terdampak kekeringan, dengan luasan hamparan sekitar 1.117 hektare.

"Masih ada 21 desa yang terdampak kekeringan dengan luas tanaman padi 1.538 hektare yang masih membutuhkan penanganan," ujarnya.

Ia menjelaskan pasokan air dari sejumlah waduk belum mampu mencapai Bendung Karet Kembang Kempis karena air banyak digunakan untuk kebutuhan irigasi di sepanjang aliran sungai, serta cuaca ekstrem dan kekeringan juga turut mempengaruhi ketersediaan air.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Pemkab Pati bersama pihak terkait mendorong percepatan pembukaan kembali Waduk Kedungombo. Berdasarkan kesepakatan dengan BBWS Pemali Juana, pembukaan Waduk Kedungombo dijadwalkan pada 15 September 2026.

Pembukaan tersebut diharapkan tidak hanya untuk persiapan musim tanam pertama 2026/2027, tetapi juga menyelamatkan tanaman padi yang berada di wilayah paling hilir, termasuk di sekitar Bendung Karet Kembang Kempis.

"Kami berharap airnya bisa disalurkan ke sungai terlebih dahulu sehingga bisa sampai ke Bendung Kembang Kempis, sehingga tanaman yang terancam tadi bisa terselamatkan," ujarnya.

Ia menambahkan rata-rata usia tanaman padi yang terdampak berdasarkan data per 27 Agustus 2026 sekitar 30 hari setelah tanam (HST). Dengan varietas padi berumur panen sekitar 80-90 hari, tanaman tersebut masih memiliki waktu kritis sekitar 20 hari untuk mendapatkan pasokan air.

"Kami sudah berusaha bersama teman-teman federasi ataupun Dinas PUPR untuk percepatan pembukaan Waduk Kedungombo. Itu skenario yang bisa kami lakukan karena pengelolaan air bukan kewenangan kami," ujarnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena berdasarkan informasi BBWS, persediaan air Waduk Kedungombo diperkirakan hanya cukup untuk mengaliri selama sekitar dua bulan. Sementara itu, prediksi hujan baru terjadi pada akhir November 2026.

Oleh karena itu, selain mengandalkan pembukaan waduk, upaya modifikasi cuaca atau teknologi modifikasi cuaca (TMC) juga diharapkan dapat membantu menambah pasokan air.

Pewarta: Akhmad Nazaruddin
Editor: Immanuel Citra Senjaya
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.