kingsheadwye.com

PDIP Surabaya ajak Gen Z tak jadi penonton demokrasi - ANTARA News Jawa Timur

Surabaya (ANTARA) - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Surabaya mengajak generasi Z tidak hanya menjadi penonton demokrasi pada peringatan Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli) di Surabaya.

Ketua DPC PDIP Surabaya Armuji yang juga Wakil Wali Kota Surabaya di Surabaya, Minggu malam mengatakan peringatan ini menjadi ajang pertemuan lintas generasi untuk mengenang salah satu peristiwa penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia. 

"Kudatuli merupakan salah satu titik balik yang mendorong lahirnya reformasi dan perubahan politik di Indonesia," katanya.

Menurutnya, sejarah tersebut menjadi bukti bahwa demokrasi tidak hadir dengan sendirinya, melainkan diperjuangkan melalui pengorbanan dan keberanian banyak pihak.

“Tanpa Kudatuli tidak ada reformasi, tidak ada pergantian, dan tidak ada demokrasi yang sebenarnya,” ujar Armuji.

Ia juga mengajak kader muda, khususnya Gen Z, untuk memahami sejarah perjuangan demokrasi dan tidak bersikap apatis terhadap berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat.

“Jangan hanya menjadi penonton. Kalau ada sesuatu yang dirasa tidak adil, anak-anak muda harus punya cara untuk menyampaikan dan memperjuangkannya dengan caranya sendiri yang bisa diterima masyarakat,” katanya.

Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga Prof. Dr. Hotman Siahaan mengatakan peristiwa Kudatuli tidak hanya berbicara tentang konflik politik, tetapi juga tentang pertarungan gagasan dan narasi dalam kehidupan demokrasi.

“Siapa yang menguasai wacana, dia akan menguasai realitas. Karena itu demokrasi membutuhkan ruang bagi berbagai pandangan agar masyarakat tidak hanya menerima satu kebenaran,” kata Hotman.

Kader Gen Z PDI Perjuangan, Quinsha, menilai peristiwa Kudatuli memberikan pelajaran bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk menjaga demokrasi dan melawan berbagai bentuk ketidakadilan.

Menurutnya tantangan yang dihadapi anak muda saat ini mungkin berbeda dengan masa lalu, tetapi semangat untuk tidak diam ketika melihat ketidakadilan tetap relevan.

“Supaya tidak jadi penonton, anak muda harus melakukan sesuatu yang bermanfaat dan bisa diterima masyarakat dengan caranya masing-masing,” ujarnya.

Pewarta: Indra Setiawan
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.