Pemangkasan Ekspor Gas ke Singapura Disebut Tak Picu Konflik, Ini Kata Luhut
Selasa, 27 Oktober 2026 - 16:15 WIB
Jakarta, VIVA –Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menilai pengurangan ekspor gas ke Singapura tidak akan memicu konflik antara kedua negara. Menurutnya, keputusan tersebut telah dipertimbangkan oleh Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia.
Baca Juga
"Enggak (konflik) juga. Saya kira karena Pak Bahlil juga, tadi saya bicara sama beliau, ya beliau menyampaikan ini aja concern-nya. Sebenarnya kita ngapain berkelahi sama Singapura, kan enggak ada juga," kata Luhut saat ditemui di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Meski demikian, Luhut menegaskan Indonesia perlu memiliki sikap yang jelas sebagai negara berdaulat. Ia menilai kepentingan nasional harus menjadi prioritas, sekaligus menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki berbagai hal di dalam negeri.
Baca Juga
“Tapi kita juga sebagai negara harus juga punya posisi yang jelas dan kita sendiri juga ya tentu ke dalam kita melakukan introspeksi juga. Ya dalam banyak hal bagaimana negara kita ini bisa lebih bagus,” ujarnya.
Luhut juga berharap Indonesia tetap diperhitungkan dalam pengambilan keputusan di kawasan Asia Tenggara. Sebagai salah satu negara anggota ASEAN, Indonesia dinilai perlu memiliki posisi yang kuat dan didengar oleh negara-negara lain.
Baca Juga
“Saya kira Presiden (Prabowo Subianto) sudah memberikan arahan yang jelas ya, dan Presiden sebagai kepala negara yang cukup senior di ASEAN ini saya kira juga perlu didengar pendapatnya oleh teman-teman dari negara-negara ASEAN,” tambahnya.
Terkait evaluasi kebijakan pengurangan ekspor gas ke Singapura, Luhut menyerahkan keputusan tersebut kepada Bahlil yang juga menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia buka suara terkait perihal kebijakan RI memangkas ekspor gas ke Singapura.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dijelaskan oleh Bahlil, total ekspor gas melaui pipa Indonesia ke Singapura dari laut Natuna dan Sumatera mencapai 409,55 MMBTUD. Sementara itu gas yang dipangkas hanya 31 MMBTUD atau sekitar 8 persen dari total ekspor tersebut.
Menurut Bahlil, pengurangan itu masih berada dalam batas minimum pasokan yang diatur dalam kontrak.
Halaman Selanjutnya
"Atas arahan Bapak Presiden Prabowo, negara kita adalah negara yang menghargai kontrak, aturan. Jadi jangan ajari Indonesia terhadap komitmen untuk menjaga, menghargai kontrak. 31 MM(BTUD) yang kita potong sebagian itu masih dalam batas kontrak minimum. Batas kontrak minimum kita itu adalah sekitar 91-92 (persen), dan kita baru sekitar 8 persen, kecuali kita potong 10 persen, nah itu baru kita melanggar kontrak," ujarnya dala konferensi pers di Jakarta, Senin (26/10/2026).