Pemerintah buka pendaftaran peserta SMK Go Global pada 12 Agustus
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) membuka pendaftaran program SMK Go Global pada 12 Agustus mendatang untuk memberikan kesempatan talenta muda Indonesia dengan keahlian spesifik bekerja di luar negeri.
Program tersebut ditargetkan untuk meningkatkan kemampuan dan memfasilitasi penempatan 40 ribu tenaga kerja Indonesia pada 2026.
“Tanggal 12 Agustus sudah mulai pendaftaran dan sekarang sudah publikasi [informasi pendaftaran ini] oleh seluruh balai-balai [Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/BP3MI] kami yang ada di 23 provinsi,” ujar Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Mukhtarudin dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.
Ia menuturkan, program tersebut akan menyiapkan tenaga kerja terampil untuk berbagai sektor prioritas, seperti caregiver (pendamping/pengasuh), perawat (nurse), manufaktur, konstruksi, pengelasan (welder), hospitality (jasa pelayanan), transportasi, hingga agrikultur.
Para peserta program nantinya diarahkan mengisi peluang kerja di Jepang, Jerman, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Taiwan, Turki, Polandia, Maladewa, serta negara-negara Eropa lainnya sesuai kebutuhan pasar kerja.
Mukhtarudin menyatakan bahwa pemerintah sudah memastikan ketersediaan pasar tenaga kerja di negara-negara tersebut, sehingga para peserta program dapat dilatih sesuai dengan keahlian yang dibutuhkan di masing-masing negara.
Mengingat saat ini sudah memasuki paruh tahun kedua, Program SMK Go Global pada 2026 difokuskan pada peningkatan keahlian (upskilling) para peserta melalui pelatihan bahasa, pelatihan teknis, dan sertifikasi.
Mukhtarudin menyatakan, para peserta harus sudah memiliki setidaknya satu keahlian spesifik yang dibutuhkan di negara penempatan agar dapat mengikuti program tersebut.
Misalnya, seorang peserta sudah memiliki keahlian di bidang pengelasan, maka pemerintah akan memberikan pelatihan bahasa dan memfasilitasi sertifikasinya.
Begitu pula jika seseorang sudah memiliki kemampuan bahasa yang mumpuni dengan level kemahiran sesuai dengan ketentuan di negara tujuan, maka ia akan menerima pelatihan teknis dan sertifikasi.
“Karena ini sifatnya program quick win [aksi cepat dengan hasil konkret dalam waktu dekat], jadi kami mulainya dengan upskilling. Jadi, tidak dari nol,” kata Mukhtarudin.
Sementara itu, implementasi Program SMK Go Global pada 2027 dan tahun-tahun berikutnya diharapkan dapat diikuti oleh peserta yang belum memiliki keahlian sama sekali karena durasi pelaksanaan program yang lebih panjang.
Penyelenggaraan program pada tahun depan diharapkan dapat dimulai sejak Januari dengan keseluruhan proses diproyeksikan berlangsung dalam enam hingga tujuh bulan.
“Karena waktunya panjang, [pelaksanaan program] bisa 6 bulan sampai 7 bulan. Jadi kira-kira pelatihan bahasanya 3 bulan, pelatihan skill teknisnya mungkin 1 bulan sampai 2 bulan, sertifikasi mungkin 1-2 hari,” imbuhnya.
Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.