Pemkab Sleman mengoptimalkan irigasi perkuat ketahanan pangan
Pemkab Sleman mengoptimalkan irigasi perkuat ketahanan pangan
Minggu, 6 September 2026 20:19 WIB
Tanam padi di Kabupaten Sleman, DIY. (ANTARA/HO-Dokumen DP3 Sleman)
Sleman (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, terus mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air irigasi guna mengawal masa tanam sekaligus memperkuat ketahanan pangan di wilayah setempat.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Liem Astuti di Sleman, Minggu, mengatakan komitmen tersebut diwujudkan melalui perbaikan jaringan irigasi, pembangunan infrastruktur air, hingga penyediaan sarana pompanisasi.
"Komitmen kami dalam mengawal masa tanam ini adalah dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki, khususnya melalui rehabilitasi jaringan irigasi tersier, pembangunan Embung Cluwek, pemanfaatan sumur dangkal, serta optimalisasi irigasi perpompaan," kata Liem Astuti.
Ia mengatakan untuk perbaikan saluran irigasi tersier pada tahun ini, Pemkab Sleman menerima dukungan alokasi anggaran dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Dari total program pemeliharaan jaringan irigasi tersier sebanyak 32 unit dari dana APBN, sebanyak 13 unit di antaranya telah selesai dikerjakan, 14 unit dalam proses pembangunan, dan lima unit sisanya masih dalam tahap pemberkasan administrasi.
Adapun sebaran lokasi pemeliharaan irigasi tersier tersebut mencakup 15 kecamatan (kapanewon) di Kabupaten Sleman, antara lain Berbah (lima unit), Minggir (tiga unit), Cangkringan (dua unit), Godean (dua unit), Kalasan (dua unit), Moyudan (tiga unit), Pakem (dua unit).
Selanjutnya, Prambanan (tiga unit), Seyegan (dua unit), Sleman (dua unit), Tempel (dua unit), serta Gamping, Mlati, Turi, dan Ngemplak masing-masing satu unit.
Selain jaringan irigasi tersier, pemerintah pusat juga mengalokasikan bantuan 14 unit irigasi perpompaan di Kabupaten Sleman.
"Di luar alokasi APBN, Pemkab Sleman juga mengoptimalkan dana APBD untuk membangun Embung Cluwek, sumur dangkal, serta penyediaan bantuan pompa air bagi kelompok tani," katanya.
Lebih lanjut, Liem mengatakan optimalisasi pasokan air irigasi tersebut sangat krusial untuk menjaga produktivitas lahan pertanian di Sleman yang terbukti tetap produktif sepanjang tahun.
Berdasarkan data Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman periode Januari hingga Agustus, total luas panen bersih tanaman padi di Kabupaten Sleman mencapai 24.062,10 hektare dengan rata-rata produktivitas (provitas) sebesar 60,66 kuintal per hektare.
Dari luas lahan panen tersebut, Kabupaten Sleman mencatatkan total produksi Padi Gabah Kering Giling (GKG) sebanyak 146.462,59 ton, atau setara dengan produksi beras sebanyak 92.359,31 ton.
Kapanewon Kalasan menjadi penyumbang produksi beras terbesar di Sleman pada periode tersebut dengan capaian 8.486,12 ton beras (13.457,22 ton GKG) dari luas panen bersih 2.182,15 hektare.
Disusul Kapanewon Sleman dengan produksi beras 8.258,66 ton (13.096,52 ton GKG) dan Kapanewon Ngemplak sebesar 8.197,99 ton beras (13.000,30 ton GKG).
"Dengan optimalisasi infrastruktur irigasi dan pendampingan kepada para petani, kami optimistis target ketahanan pangan dan ketersediaan stok beras di Kabupaten Sleman dapat terus terjaga secara berkelanjutan," tutur Liem.
Pewarta : Sutarmi
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026