Pemkot Bengkulu imbau warga tidak lakukan pembelian BBM berlebihan - ANTARA News Bengkulu
Kota Bengkulu (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu Provinsi Bengkulu mengimbau masyarakat di wilayah tersebut tidak panik dan membeli bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi secara berlebihan.
Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bengkulu Medy Pebriansyah di Bengkulu, Kamis, mengatakan Pemerintah Provinsi Bengkulu sudah memastikan ketersediaan dan pasokan BBM di wilayah Bengkulu khususnya Kota Bengkulu dalam kondisi aman dan mencukupi.
"Terkait antrean BBM, sebenarnya kita dari Pemda bersama Forkopimda dan Polresta terus-menerus menyosialisasikan ke warga masyarakat agar tidak panik dan tidak membeli berlebihan. Stoknya ada, mudah-mudahan tidak ada kelangkaan," kata Medy Pebriansyah di Bengkulu, Kamis.
Baca juga: Pemkot Bengkulu jemput bola layani pembayaran pajak tingkatkan PAD
Ia menyebutkan antrean yang terjadi di sejumlah SPBU tidak perlu disikapi dengan kepanikan, masyarakat diminta membeli BBM subsidi sesuai kebutuhan dan tidak melakukan penimbunan.
Sebab, pemerintah kota terus melakukan pemantauan terkait kondisi pasokan BBM di lapangan, dan berkoordinasi dengan Pertamina untuk menjaga distribusi tetap aman dan kondusif.
"Kami terus berkoordinasi dengan Pertamina. Kalau warga panik dan mulai menimbun, nah itu yang berpotensi jadi ricuh dan 'crowded'. Imbauan kita dari Pemda seperti itu," ujar dia.
Oleh karena itu, pemerintah kota berharap masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang dapat memicu kepanikan.
Dengan pengawasan dan koordinasi lintas instansi, pasokan BBM diharapkan tetap terjaga sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara normal.
Dirinya juga mengajak masyarakat dapat menggunakan BBM secara bijak dan melakukan pembelian sesuai kebutuhan sehari-hari, tanpa melakukan penimbunan dan jika ada oknum yang nekat melakukan penyalahgunaan BBM, seperti penimbunan menurutnya pasti akan ditindak pihak berwenang.
Pewarta: Anggi Mayasari
Uploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.