Pemkot Cirebon Intensifkan Gerakan Pangan Murah dan Mobil Keliling Jaga Stabilitas Harga - ANTARA News Jawa Barat
Cirebon (ANTARA) - Pemerintah Kota Cirebon, Jawa Barat, mengintensifkan Gerakan Pangan Murah (GPM) dan Mobil Pangan Keliling (Mol Pangling) untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pangan terjangkau pada September 2026.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Cirebon Elmi Masruroh mengatakan GPM berskala besar dilaksanakan secara rutin setiap bulan, sedangkan Mol Pangling menjangkau masyarakat setiap pekan.
"Untuk GPM yang berskala besar dilaksanakan setiap bulan, sementara Mol Pangling kami jalankan setiap minggu," kata Elmi di Cirebon, Kamis.
Menurut dia, kedua program tersebut menjadi strategi pemerintah daerah memperluas pelayanan pangan murah hingga kawasan permukiman, terutama wilayah yang jauh dari lokasi GPM.
Ia menekankan, harga komoditas yang dijual melalui kegiatan tersebut diupayakan lebih rendah dibandingkan harga pasar agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pokok dengan biaya lebih ringan.
“GPM ke-28 digelar DKPPP Kota Cirebon di Lapangan Kesambi dengan menyediakan beras, minyak goreng, telur ayam, daging ayam, daging sapi, cabai, bawang, dan sejumlah kebutuhan pangan lainnya,” katanya.
Pada kegiatan tersebut, kata dia, sekitar 100 kilogram daging ayam yang disediakan sejak pukul 07.00 WIB dilaporkan telah habis terjual.
Ia menyebutkan selain daging ayam, daging sapi yang berada di kisaran Rp160 ribu per kilogram di pasar dijual Rp130 ribu melalui GPM, sedangkan telur ayam ditawarkan Rp23 ribu dari harga pasar sekitar Rp26 ribu per kilogram.
“Beras SPHP kemasan lima kilogram juga tersedia dengan harga Rp58 ribu, bersama berbagai komoditas lain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Wali Kota Cirebon Effendi Edo mengatakan harga pangan secara umum masih terkendali, meskipun terdapat sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan, termasuk beras dan daging ayam.
Ia mencontohkan daging ayam yang di pasaran berkisar Rp38 ribu per kilogram, sedangkan pada GPM dijual Rp35 ribu per kilogram.
Menurut Edo, perbedaan harga tersebut membuat pangan murah tetap diminati masyarakat meskipun kondisi kegiatan tidak selalu tampak ramai seperti pasar tradisional.
"Setelah mendapatkan kebutuhan yang dicari, masyarakat biasanya langsung pulang sehingga aktivitasnya terlihat tidak seramai pasar umum," ujarnya.
Pewarta: Fathnur Rohman
Editor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.