Pemkot Medan berupaya tambah kuota penerima bantuan pendidikan - ANTARA News Sumatera Utara
Medan (ANTARA) - Pemerintah Kota Medan, Sumatera Utara terus berupaya menambah kuota penerima manfaat bantuan pendidikan bagi mahasiswa guna mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di wilayah itu.
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Waas mengatakan bantuan pendidikan menjadi salah satu langkah konkret pemerintah untuk memastikan masyarakat mendapat kesempatan memperoleh pendidikan.
"Bantuan tersebut merupakan bentuk dukungan pemerintah untuk memotivasi mahasiswa agar dapat menyelesaikan pendidikan tinggi," ujar Rico Waas di Medan, Sabtu.
Rico Waas yang sebelumnya menyerahkan langsung bantuan pendidikan kepada 214 mahasiswa mengatakan pemerintah yang dipimpinnya terus berupaya memperhatikan sektor pendidikan di wilayah itu.
Ia mengatakan pemerintah kota setempat bakal menambah kuota penerima manfaat bantuan pendidikan lebih banyak lagi dari tahun sebelumnya.
Wali Kota meminta jajarannya untuk melakukan kajian mendalam peluang penambahan alokasi di tahun yang akan mendatang.
"Bantuan biaya pendidikan bagi mahasiswa bukan sekadar bantuan finansial, melainkan bentuk pengembalian uang rakyat kepada masyarakat melalui program yang mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia dan perubahan nasib keluarga," jelas dia.
Kepala Dinas Sosial Khoiruddin Rangkuti menjelaskan mahasiswa yang menjadi penerima manfaat bantuan tersebut bakal menerima bantuan pendidikan sebesar Rp6 juta maksimal setiap semester.
Ia menjelaskan penerima bantuan merupakan mahasiswa yang berasal dari keluarga kategori Desil 1 hingga Desil 5, dengan persyaratan Indeks Prestasi (IP) kumulatif minimal 3,00 bagi mahasiswa perguruan tinggi negeri (PTN) dan 3,25 bagi mahasiswa perguruan tinggi swasta (PTS).
"Program ini bertujuan meringankan beban ekonomi keluarga, memperluas akses pendidikan tinggi, serta mencegah mahasiswa putus kuliah akibat keterbatasan biaya," ujarnya.
Pewarta: Anggi Luthfi Panggabean
Editor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.