kingsheadwye.com

Pertama di Dunia: Ilmuwan Ciptakan Virus Pakai AI

Jakarta, CNN Indonesia --

Kelompok ilmuwan baru-baru ini berhasil menciptakan virus pertama di dunia yang dirancang menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Penemuan ini memicu pro kontra di bidang medis.

Virus yang dibuat ini adalah jenis khusus bernama bakteriofag. Virus ini hanya menyerang bakteri dan sudah biasa digunakan di berbagai belahan dunia untuk mengobati pasien yang mengalami infeksi bakteri membandel.

Dalam pengujian di laboratorium, gabungan dari beberapa virus hasil rancangan AI ini berhasil membasmi bakteri E. coli yang sudah kebal terhadap bakteriofag alami.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Brien Hie, insinyur kimia dari Stanford University di California, memanfaatkan model bahasa genom- sejenis bahasa besar AI (LLM), tapi khusus memproses kode genetik-untuk merancang genom bakteriofag yang dapat berfungsi. Virus-virus ini kemudian dibuat di laboratorium dan diuji langsung melawan bakteri E. coli.

Dalam makalah bertajuk 'Generative design of bacteriophages with genome language models' yang terbit di jurnal Science pada Kamis (6/8), para peneliti mengungkap bahwa kemampuan merancang genom secara cepat dan menyesuaikannya melawan bakteri tertentu dapat mentransformasi terapi bakteriofag sekaligus memperluas jangkauan alat bioteknologi.

Melansir The Guardian, Hie dan tim menggunakan model AI bernama Evo1 dan Evo2 untuk merancang genom virus baru tersebut. Model ini dilatih menggunakan data genetik dari 2 juta bakteriofag.

Kode genetik virus yang dapat menginfeksi tumbuhan, manusia, maupun hewan sengaja disingkirkan dari data pelatihan AI demi meminimalkan risiko terciptanya virus berbahaya.

AI tersebut memproduksi ribuan calon genom, dan dari sekian banyak pilihan itu, para peneliti memilih sekitar 300 genom untuk dibuat di laboratorium. Kode genetik ini kemudian dimasukkan ke dalam bakteri, yang selanjutnya membaca kode tersebut dan memproduksi bakteriofag baru.

Proses ini memang belum efisien, karena dari ratusan percobaan, hanya 16 bakteriofag yang benar-benar hidup dan berfungsi. Meski begitu, gabungan dari beberapa virus tersebut terbukti ampuh menundukkan resistensi pada dua varian bakteri E. coli yang berbeda.

Meskipun ukuran genom bakteriofag tergolong sangat kecil, penelitian ini membuktikan AI generatif mampu merancang genom virus yang dapat hidup.

Belum diketahui apakah metode serupa bisa diterapkan pada virus lain, tetapi mereka mengingatkan bahwa penelitian pada patogen yang dapat menginfeksi manusia, hewan, atau tumbuhan sebaiknya tidak dilanjutkan. Genom seperti itu berpotensi menyandi patogen baru yang tidak dapat ditangani oleh penangkal medis yang ada saat ini.

Risiko tersembunyi

Di luar potensi manfaatnya, para ilmuwan menekankan bahwa karya ini membawa pertimbangan penting terkait keselamatan biologi, wadah pengisolasi, dan keamanan biologi.

Mereka juga mengimbau siapa saja yang merancang genom utuh untuk selalu berkonsultasi dengan ahli keselamatan dan keamanan sepanjang proyek berlangsung.

Dalam artikel pendamping, Profersor Tom Inglesby dan Moritz Hanke dari Center for Health Security di Johns Hopkins University, Baltimore, mempertegas peringatan tersebut. Mereka menulis bahwa meski hal ini sangat menjanjikan, keberhasilan tersebut memicu pertanyaan biosekuritas yang mendesak.

Kemampuan merangkai genom virus menggunakan AI generatif kini sudah ada, tetapi regulasi serta tata kelola untuk mengarahkannya dengan aman justru belum tersedia.

Tom Ellis, seorang profesor rekayasa genom sintetis di Imperial College London, menilai pencapaian ini sangat mengesankan, tetapi sekaligus memperlihatkan betapa sulitnya membuat genom yang lebih kompleks. Menurutnya, ini secara harfiah adalah genom paling kecil dan paling mudah untuk dibuat.

Ellis menambahkan bahwa AI yang dilatih menggunakan kode genetik mikroba berbahaya memang bisa saja disalahgunakan untuk merancang virus yang lebih mematikan. Namun, membatasi akses ke data genetik serta menerapkan aturan ketat pada pembuatan genom yang terindikasi berbahaya akan sangat membantu.

"Ancaman dari AI yang merancang dan menulis utuh genom virus atau bakteri sebenarnya masih terlalu dibesar-besarkan, terutama jika dibandingkan dengan fakta bahwa memodifikasi patogen yang sudah ada secara langsung jauh lebih mudah dilakukan dan menjadi ancaman penyakit yang jauh lebih nyata," kata Ellis.

Sementara itu, Filippa Lentzos, pakar sains dan keamanan internasional dari King's College London, berpendapat bahwa titik intervensi terpenting saat ini terletak pada proses pembuatan atau sintesis DNA itu sendiri.

Ia menegaskan pentingnya melihat gambaran regulasi yang lebih luas dan tidak hanya berfokus mengatur model AI.

"Pendekatan berlapislah yang paling masuk akal, yaitu mencakup perlindungan pada pengembangan dan akses model AI, peninjauan riset yang bertanggung jawab, penyaringan proses sintesis DNA, serta penerapan standar keselamatan dan keamanan laboratorium yang ketat," ujar Lentzos.

(dmi)

[Gambas:Video CNN]