Petani Makin Tua, Gen Z Menjauh: Siapa yang Akan Menanam Pangan Kita?
Padang (ANTARA) - Cuma 2,14 persen anak muda Generasi Z di Indonesia yang tertarik terjun ke sektor pertanian. Angka ini dimuat pada laporan BPS pada Oktober 2024 dan menjadi alasan mengapa Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) turun tangan membantu regenerasi petani di Indonesia. Angka ini bukan anomali statistik yang tiba-tiba ada, ia adalah cerminan krisis regenerasi yang sudah lama diperingatkan berbagai pihak dan kini benar-benar berada di ambang darurat.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan lebih dari 70 persen petani Indonesia saat ini berusia di atas 45 tahun, sementara hanya sekitar 8 persen yang berusia di bawah 35 tahun. Sensus lain dari BPS pada 2021 mencatat, dari seluruh petani di Indonesia, pemuda usia 16–30 tahun yang bekerja di sektor ini hanya 3,95 juta orang atau sekitar 21,9 persen dari total petani nasional. Artinya, mayoritas mutlak petani Indonesia adalah generasi tua dan “pipeline” penggantinya menyempit dari tahun ke tahun.
Alasan di balik keengganan ini sebenarnya cukup gamblang dan berulang kali muncul dalam berbagai kajian, generasi muda termasuk lulusan Fakultas Pertanian sendiri cenderung menghindari profesi petani karena enggan berpanas-panasan di lahan, tidak suka kotor dan lebih nyaman bekerja di kantor. Banyak yang memandang pertanian sebagai pekerjaan berat, tidak bergengsi dan berpenghasilan rendah, sementara sektor industri dan jasa dianggap jauh lebih menjanjikan. Ditambah lagi, harga lahan pertanian yang terus naik membuat anak muda semakin sulit memiliki atau mengelola lahan sendiri bahkan jika mereka berminat.
Di sini letak peluang sesungguhnya, masalahnya bukan generasi muda anti pertanian sebagai sektor, melainkan mereka menolak citra lama profesi ini, petani sebagai buruh kasar bersimbah keringat di sawah. Otomasi, drone, dan smart farming punya potensi mengubah citra itu secara fundamental yakni dari "petani" menjadi "insinyur pertanian presisi" atau "agri teknopreneur", sebuah profesi yang menuntut keterampilan digital, analitik data dan kreativitas, bukan sekadar kerja fisik di bawah terik matahari.
Ini bukan sekadar teori belaka. Pemerintah sudah membangun ekosistem konkret untuk menguji hipotesis ini dan hasilnya menunjukkan tren yang menjanjikan. Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) mencatat sepanjang 2020–2024, telah memfasilitasi terbentuknya 168.948 petani milenial. Angka ini melonjak tajam pada 2025 sebanyak 326.671 petani milenial tercatat mendapatkan fasilitasi melalui berbagai program pengembangan kapasitas dan total sepanjang 2025 sebanyak 416.667 petani milenial terlibat dalam berbagai program pertanian nasional sebuah capaian yang bahkan diganjar rekor MURI. Program-program ini didampingi oleh 38.235 penyuluh di seluruh Indonesia.
Instrumen yang digunakan pun beragam dan relevan dengan gaya hidup anak muda, Program Kelompok Santri Tani Milenial (KSTM), Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS), Young Ambassador Agriculture (YAA), Brigade Pangan, Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan (DPM-DPA), hingga pendidikan vokasi lewat Polbangtan dan PEPI yang mengintegrasikan keterampilan teknologi pertanian modern ke dalam kurikulum. Semua ini dirancang bukan untuk menjadikan anak muda "petani" dalam arti tradisional, melainkan pelaku agribisnis modern yang memanfaatkan otomasi dan data untuk mengelola usaha tani secara efisien dan menguntungkan.
Lompatan dari 168.948 menjadi 416.667 peserta dalam rentang waktu relatif singkat menunjukkan bahwa ketika pertanian dikemas ulang sebagai sektor berbasis teknologi dan kewirausahaan bukan sekadar "turun ke sawah" minat anak muda benar-benar bisa tumbuh secara signifikan.
Meski demikian, daya tarik teknologi saja tidak cukup jika tidak dibarengi fondasi bisnis yang jujur dan berkelanjutan. Kasus eFishery menjadi pelajaran pahit yang layak jadi renungan bersama. Startup akuakultur berbasis IoT ini sempat menjadi kebanggaan agritech Indonesia, mencapai status unicorn dengan valuasi 1 miliar dolar AS pada 2023 setelah meraih pendanaan seri D sebesar 200 juta dolar AS. Ia sempat menjadi bukti asli dan nyata bahwa teknologi dalam hal ini sistem pemberian pakan ikan otomatis bisa menarik investasi besar dan menaikkan gengsi sektor perikanan-pertanian Indonesia di mata dunia.
Namun pada akhir 2024, terungkap bahwa pendiri sekaligus CEO eFishery telah memanipulasi laporan keuangan perusahaan sejak 2018, termasuk melebih-lebihkan pendapatan hingga ratusan juta dolar AS dan mengklaim ratusan ribu fasilitas pemberian pakan padahal yang nyata jauh lebih sedikit. Pada April 2026, majelis hakim Pengadilan Negeri Bandung memvonis sang CEO sembilan tahun penjara atas kasus manipulasi laporan keuangan dan pencucian uang meski kemudian dikurangi menjadi enam tahun di tingkat banding. Yang lebih menyedihkan, dampaknya menimpa petani-petani mitra yang selama ini menggantungkan operasional budi daya mereka pada aplikasi milik perusahaan tersebut, begitu sistem pemberian pakan otomatis berhenti beroperasi, banyak pembudidaya kembali ke cara manual dan mengalami penurunan pendapatan tajam, dari kisaran Rp5–6 juta menjadi hanya Rp2–3 juta per kolam.
Kasus ini penting bukan untuk mendiskreditkan agritech sebagai sektor, melainkan sebagai pengingat bahwa daya tarik teknologi terhadap anak muda hanya akan bertahan lama jika dibangun di atas fondasi bisnis yang transparan dan benar-benar berkelanjutan bukan sekadar valuasi fantastis dan narasi media yang menggoda tanpa substansi operasional yang solid.
Agar teknologi benar-benar menjadi daya tarik jangka panjang, bukan sekadar gimmick sesaat, ada beberapa langkah yang perlu diperkuat. Pertama, pendidikan vokasi seperti Polbangtan dan PEPI perlu terus memperdalam integrasi otomasi, drone, dan analitik data ke dalam kurikulum praktis, bukan sekadar teori di kelas, sehingga lulusannya benar-benar siap kerja sebagai operator teknologi pertanian presisi. Kedua, program pendampingan seperti YESS dan Brigade Pangan perlu menghubungkan anak muda dengan mentor, pasar, dan akses modal secara riil bukan hanya pelatihan satu kali yang berhenti begitu program usai. Ketiga, pemerintah dan pelaku industri perlu memastikan tata kelola dan transparansi yang ketat pada setiap startup atau program agritech yang melibatkan anak muda dan petani mitra, agar kepercayaan yang sudah mulai terbangun tidak runtuh oleh kasus-kasus seperti eFishery.
Krisis regenerasi petani Indonesia nyata dan mendesak, tetapi data juga menunjukkan bahwa ketika pertanian dibingkai ulang sebagai sektor berteknologi tinggi dan berbasis kewirausahaan, jumlah anak muda yang tertarik bisa melonjak signifikan dalam waktu singkat. Otomasi, drone, dan smart farming bukan sekadar alat produksi, mereka adalah alat pemasaran citra yang bisa mengubah persepsi generasi muda terhadap profesi yang selama ini mereka anggap "zona tidak nyaman". Namun agar transformasi ini benar-benar bertahan lintas generasi, ia harus dibangun di atas fondasi yang jujur, bukan sekadar drone yang berkilau di panggung pameran dan valuasi yang menggoda di atas kertas.
Dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem
Universitas Andalas